Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Selalu membuatku tertawa


__ADS_3

Masih dalam kegiatan disebuah butik yang cukup terkenal di kota kami.


Seorang asisten desainer sedang mengukur jas seorang calon pengantin pria. Dan sekarang posisi keduanya terlihat mesra dimataku dan berhasil membuat perutku mulai mual.


"Masih rajin fitness ya bang, ehem ..bodinya kenceng gini, kayaknya pelukabel gitu deh..."


"Kok kayaknya? Kalo penasaran peluk aja ..." jawab mas Ryan sambil melirikku


" Idiih takut, ada yang udah cembokur dari tadi gitu...."si bibi terlihat manyun.


"Kinan .. si bibi ijin nih, boleh peluk aku nggak?" masih dengan senyum resenya


"Bodo!!" aku menyibukkan diri dengan ponsel, meski sesekali melirik karena tertarik dengan tingkah polah duo aneh dihadapan ku itu.


"Udah-udah bang, keder juga gue sama bini Lo... hayuk neng kita ukur kebayanya..." si Bibi pun berkata padaku dengan logat semanis-manisnya.


Aku menghela nafas lalu berdiri tegak menggantikan posisi mas Ryan. Sekarang gantian dia yang duduk manis menatapku penuh arti. Dan itu berhasil membuatku salah tingkah.


"Bibi...awas jangan sampai retak ya, aku aja belum pegang-pegang.."


"Idiih...bang Ryan ini, jangan khawatir deh...ngiri deh sama kamu neng, bang Ryan so sweet gitu..."


"Dia juga begitu sama orang lain kok..." sahutku asal.


"Eh beneran itu bang...??tangannya dong " si Bibi memintaku untuk meregangkan lenganku.


"Mungkin baginya seperti itu, tapi bagiku hanya dialah nyawaku..."


Pernyataan itu membuat Bibi dan aku sama-sama menoleh dan tercengang.


"Duuuh...meleleh hati gue bang! "


Hanya dialah nyawaku


Hanya dialah nyawaku


Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang dikepalaku. Jantung ini berdebar, bibirku pun tak mampu berucap apa lagi.


Setelah selesai dengan urusan baju, kamipun pamit pulang.


Dalam perjalanan pulang, rintik hujan mulai menemani kami.


Triiiiinggg...


Suara dering ponsel membuyarkan kesunyian antara kami.


"Assalamualaikum ibu..." salamku saat kubaca nama ibu yang sedang memanggil.


"Waalaikum salam Kinan...apa kamu masih dijalan? ini ibu sudah sampai rumah, kok masih sepi..."


"Iya Bu, kami masih dijalan dan terjebak macet..."


"Oh ya udah, sekalian makan malam diluar aja ya, ibu tadi sudah diajak makan sama Tante Lusi..."


"Iya Bu..."


"Tolong kasihkan ponselmu pada Ryan, ibu mau ngomong sebentar dengannya..."

__ADS_1


Kutoleh pria berkacamata hitam yang masih saja membuat jantungku berdegup tak beraturan saat kami dekat seperti ini.


" Ibu mau bicara..." kuserahkan ponsel padanya.


Diapun menerima ponselku.


" Ya Bu...baiklah..... astaghfirullah Bu, percaya deh ... iya-iya baiklah... waalaikum salam" sepertinya dia diomeli ibu panjang lebar.


Setelah panggilan terputus, dia mengembalikan ponselku.


"Apa ada masalah..?" tanyaku padanya


"Hmmm...Kinan, aku akan cerita saat kita makan nanti. Kamu mau makan apa?"


"Apa aja ...."


" Asal ada es telernya..." dia menyela ucapanku. Hhh...kenapa masih ingat sih, dulu kami sering wisata kuliner, namun harus ditempat yang ada es telernya


Aku hanya bisa tersenyum kecil, dan melemparkan pandanganku ke jendela samping, agar dia tak tahu kalau aku tersipu dibuatnya.


" Kita mampir ke masjid dulu ya, hampir magrib..." ucapnya kemudian


"Iya...aku tunggu dimobil aja ya, lagi nggak sholat ni ..."


Mas Ryan menganggukkan kepalanya.


Mobil kami berbelok kesebuah masjid yang berada dipinggir jalan Pantura ini.


Mas Ryan meletakkan dompet dan ponselnya disebelah tempat dudukku.


" Aku magrib dulu ya...kamu jangan kemana-mana Lo.."


Beberapa menit kemudian, ponsel yang berada disampingku menerima pesan singkat beberapa kali, hingga layarnya menyala. Awalnya aku masih menyibukkan diri dengan melihat-lihat sosmed diponselku sendiri, dan tak kuhiraukan benda yang sama disebelahku. Namun karena berulang kali menyala, lama-lama penasaran juga.


Kuambil ponsel mas Ryan, terlihat beberapa chat masuk dari grup yang diikutinya. Kugeserkan jemariku, iseng aja pastinya dikunci layar kan..


Saat layar ponselnya menyala, terlihat sosok wanita yang sedang menggendong kucing sambil tertawa lepas.


Seketika aku terlonjak melihat foto kunci layar ponselnya dan menjatuhkan ponsel itu, tepat disamping kakiku.


"Allahu akbar...."semoga tidak pecah, segera kuambil benda keramat yang bikin jantungan itu.


Fiuuuh..untung ponsel mahal, jadi tahan banting. Lagian kenapa dia malah pasang gambarku sih!! Kalau nggak salah ini kan kegiatanku bulan lalu, atau mungkin dia belum sempat menggantinya ya. Tapi gawat juga kalau ketahuan Adel...


Kuletakkan kembali ponsel itu ditempatnya semula, sambil berfikir apa aku harus protes agar dia segera menghapusnya sebelum ketahuan oleh calon istrinya, tapi dia jadi tau kalau tadi aku melihat-lihat ponselnya..


Hhh...jadi bingung...


Tak lama kemudian, terlihat sosok mas Ryan diantara beberapa orang yang keluar dari masjid.


Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan. Hingga sampai pada sebuah tempat makan bertuliskan " Food Scape ".


Beberapa menu makanan dan minuman telah kami pesan. Sambil menunggu pesanan yang diperkirakan lama, karena banyaknya pelanggan, aku bermaksud ke toilet untuk mengganti pembalut.


" Aku mau ke toilet..." ucapku sambil beranjak dari kursiku.


"Hmm..iya.." mas Ryan mengangguk sambil membuka ponselnya.

__ADS_1


Sampai di toilet, aku lega karena hanya ada tiga orang disana, jadi lebih nyaman..


Saat akan kuganti, pembalut wanita baru yang tadi kusiapkan malah terjatuh dan basah. Setelah kuaduk-aduk tas yang kubawa, tetap saja nihil dan mulai membuatku panik.


Triiiiinggg...suara ponsel mengagetkan kepanikanku didalam toilet wanita itu.


Kuangkat panggilan itu, namun aku terdiam karena masih bingung


"Halo.....assalamualaikum...Kinan..."suara itu menyentak kan lamunanku.


"I..iya ... waalaikum salam.."


"Kamu dimana?"


"Mm ..ditoilet"


"Ada masalah ? kok lama..."


"I..itu..aku nggak bisa keluar..."


"Hah...kamu terkunci didalam toilet..?? sebentar aku kesana..."


" Eh...bukan terkunci...tapi pembalutku jatuh dan basah, aku nggak punya cadangan lagi..."


" Oooh...baiklah, tunggu sebentar aku akan ke minimarket..."


Lega deh, tak kusangka dia mau melakukannya. Kupikir dia tidak tanggap.


Lima menit kemudian dia telfon lagi.


"Sebentar mbak...Kinan, pembalutnya yang bagaimana?disini banyak sekali..."


" Yang ukuran dua lima sentimeter, pakai sayap kalo ada mereknya X..."


Lalu kudengar dia mengulangi ucapanku, mungkin dia minta bantuan penjaga toko.


"Hei yang kamu minta lagi kosong ..tunggu ya , akan kucarikan ketoko lain..."


" Eh.. jangan...apa saja boleh kok, fungsinya sama.."


"Ah..baiklah..."


Sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu toilet yang kupakai.


"Ini toilet wanita mas..." suara seorang wanita diluar


"Ah iya maaf, ini Bu mau ngasih ini ke istri saya..."


Akupun sedikit membuka pintuku.


"Pssttt..mas Ryan...sini..." aku sedikit melongok keluar, dan terlihat dia sedang menoleh kanan kiri kebingungan.


"Hei...disitu rupanya, ini pesananmu..." ucapnya sambil menyerahkan tas merk minimarket...


"Astaghfirullah...banyaknya...."aku melotot menatap tas besar itu.


"Habisnya bingung.."

__ADS_1


"Ya udah ...sini...makasih ya...kamu keluar dulu ..."


Kuterima tas besar berisi pembalut dari berbagai merk dan ukuran. Ya udahlah, setidaknya dia telah berusaha, meski membuat perutku tambah mules karena menahan tawa.


__ADS_2