
Tiga bulan setelah menjadi janda, aku bermaksud membuka online shop untuk mengisi waktu. Meski ibu telah mengajakku untuk bergabung untuk mengurus perkebunan dan pabrik kopi, namun aku merasa masih riskan karena sebagai orang awam aku masih harus banyak belajar, sehingga untuk sementara aku hanya sedikit membantu saja.
"Ibu ..Kinan ingin mencoba membuka usaha online shop deh..."akupun menjatuhkan diri disamping ibu.
"Kenapa? Apa tabunganmu kurang?"tanya ibu saat berada di ruang keluarga
"Bagaimana bisa berkurang..ibu selalu mencukupi kebutuhanku..Kinan sudah terbiasa bekerja Bu, lagipula aku bisa gendut kalo jarang bergerak..."
"Baiklah...tapi jangan terlalu sibuk ya, ibu takut kamu drop lagi, tetap jaga kesehatan Lo ya .."
"Pasti Bu..." aku tersenyum menanggapi ibu.
Akhirnya aku bisa membayangkan akan menyalurkan ilmu yang pernah kutempuh dengan menjadi usahawan meski harus memulai dari nol.
Dengan semangat aku mencari info produsen yang akan kuajak kerjasama. Saat itu aku masih sibuk dengan ponsel dan catatan, mendampingi ibu yang masih asyik dengan sinetron kumenangis...
"Assalamualaikum..."
Aku dan ibu langsung menoleh secara bersamaan. Seorang pria dengan tas ranselnya masuk dari ruang tamu.
"Waalaikum salam .." kami pun menjawabnya
Ibu langsung beranjak dan menghampiri pria itu lalu meluapkan rasa kangen pada putranya itu.
"Alhamdulillah Ryan...akhirnya kamu pulang, ibu takut kamu membohongi ibu untuk mempertahankan pekerjaanmu disana, dan tidak memperdulikan ibu lagi..."ucap ibu seraya berhambur ke pelukannya.
" Apa sih yang nggak buat ibuku tersayang..." sahutnya sambil menyambut pelukan ibunya, sembari tersenyum padaku.
Eh...
Saat itu aku memang sedang melihat adegan drama ibu dan anak itu, saat tatapan kami bertemu, dan seulas senyuman teduh itu jelas ditujukan kepadaku.
Segera kualihkan tatapanku darinya, jujur kedatangannya juga membuatku senang, mungkin karena ada sedikit rindu yang masih tersimpan meski aku berusaha melenyapkannya.
Ya ..Tuhan sampai kapan aku terbelenggu dengan masa lalu, seperti ini. Apalagi kami pasti sering sekali bertemu, bagaimana aku bisa menghindarinya.
Hari-hari berlalu, aku makin disibukkan dengan kegiatan baruku. Sementara ibu dan mas Ryan sering melakukan kunjungan diperkebunan dan pabrik kopi. Kadang mereka sampai tidak pulang dan menginap disebuah villa milik keluarga .
__ADS_1
Seperti kali ini, sudah tiga hari mereka berdua belum pulang. Bagiku memang lebih baik seperti ini, agar aku tidak sering bertemu dengannya.
Hari menjelang sore, saat sebuah salam terdengar dari arah depan rumah.
"Assalamualaikum..." terdengar untuk kedua kalinya suara seorang wanita.
Setelah mengenakan kerudungku, akupun keluar kamar. Dan kulihat Bu Sumi sudah menyambut wanita itu dan mempersilahkan duduk di ruang tamu.
"Ada temannya mas Ryan mbak..saya ambilkan minum dulu ya..." ucap bi Sumi sambil melangkah ke dapur setelah aku menganggukkan kepalaku.
Kuayunkan kaki menuju ruang tamu, bagaimanapun aku sebagai tuan rumah harus menyambutnya karena orang yang ingin ditemuinya belum pulang sejak tiga hari yang lalu.
Saat aku menemui wanita itu diruang tamu, kulihat dia tersenyum sambil menggeser tubuhnya agar duduk lebih nyaman dengan perut besarnya.
"Temannya mas Ryan ya...?"ucapku ramah. Meski dalam hati , penuh tanya. Seorang wanita yang sedang hamil besar mencari mas Ryan? Apa dia minta pertanggungjawaban? Astaghfirullah...kenapa pikiranku jadi melantur kayak gini sih...
" Iya ...perkenalkan saya Vanya, tadi sudah ada janji dengan Ryan" sahutnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Kinan..." kusambut jabatan tangan wanita yang sepertinya memang seumuran dengan mas Ryan itu.
Wanita hamil itu terlihat sumringah dengan lesung pipi yang menghiasi senyumnya. Kerudung pasmina membingkai wajah cantiknya itu.
" Jalan enam bulan nih, mulai susah buat duduk tegak, maunya rebahan ... " wanita itu nyengir sambil mengusap perut buncitnya itu.
Beberapa saat kemudian Bu Sumi membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa kue kering untuk kami.
" Silahkan diminum mbak..."
" Iya ...terima kasih.."
Wanita bernama Vanya itu mengambil cangkir teh didepannya lalu menyesap dengan perlahan. Namun lama-kelamaan aku menyadari bahwa beberapa kali dia melirik kearah ku.
Aku masih pura-pura tak tau dan mengikuti tindakannya menyesap teh hangat buatan Bu Sumi itu. Emang akunya yang tak pandai berbasa-basi, apalagi dengan orang yang baru saja kutemui.
"E...maaf ya Kinan, sepertinya wajahmu tak asing deh.."
"Oh..ya, apa mungkin kita pernah ketemu?"
__ADS_1
"Mm... sepertinya...ah iya, aku pernah melihat foto-foto mu dilaptopnya Ryan... betul-betul..ada nama Kinan juga ...ah iya..itu pasti kamu.."
Seketika aku terkesiap seperti tersangka yang harus mengakui tuntutan pengadilan.
"Di laptop?"
" Eh..tadi aku belum bilang ya, aku sering jadi satu tim saat mengerjakan proyeknya pak Romi, tapi setelah menikah tahun lalu aku diminta resign suami karena terlalu jauh dari rumah..."
Jadi ...mas Ryan menyimpan fotoku dilaptopnya. Sebenarnya selama hampir lima tahun dekat dengannya, kami memang sempat berfoto meski bisa dihitung dengan jari. Karena kami berdua memang tak menyukai kegiatan itu, kecuali ada acara tertentu.
"Jadi kamu ya, orang yang selama ini membuatnya keras kepala..selalu memilih proyek yang dekat saja..ha..ha..kukira Ryan bohong saat bilang sudah punya istri. Habisnya dia yang selalu sendiri saat ada undangan acara diperusahaan.."
"Eh...itu..." ingin sekali aku menyela cerita mbak Vanya itu. Namun dengan semangat nya dia bercerita tanpa memberi kesempatan padaku untuk menyangkal bahwa aku bukan istrinya mas Ryan.
" Lucunya..karena keseringan sendiri saat ngumpul gitu, dia selalu dipasangkan dengan Bu Susana seorang perawan tua staff akunting yang ganjennya tujuh turunan..eh kamu nggak perlu cemburu, Bu Susana itu orangnya pendek, gemuk dan kacamatanya pantat botol. Kamu tau sendiri kan si Ryan tu tengilnya minta ampun, bukannya menghindar dia malah membawakan bunga yang diambilnya dari karangan bunga yang ada di pintu masuk..ha..ha..anehnya Bu Susana jadi baper habis dibuatnya ..."
Mbak Vanya masih tergelak dengan kisahnya itu, saat seseorang masuk dari pintu depan.
"Assalamualaikum..." mas Ryan masuk dan menemukan kami berdua diruang tamu.
"Waalaikum salam..." jawab kami bersamaan.
"Udah lama kamu Van..." ucap mas Ryan sambil berdiri tegak dan memasukkan tangan ke saku celananya.
"Ah nggak juga...malah kami lagi asyik-asyiknya, kamu gangguin tau nggak?"
"Heleh...kasihan bayimu, kemana-mana kau ajari ghibah terus...mana suamimu?"
" Tadi aku naik taxi, nanti jam lima suamiku jemput kesini..."
"Oh..ini berkas yang kamu inginkan, telitilah lebih dulu..."
Mas Ryan berjongkok sambil meletakkan beberapa kertas dimeja.
"Ee..mbak Vanya, saya tinggal dulu ya ..."ucapku seraya beranjak dari sofa ruang tamu itu untuk memberikan ruang bagi mereka berdiskusi.
"Oh..iya Ryan, kamu sombong banget si, nikah nggak bilang-bilang...Kinan kan yang fotonya ada laptop mu ? Dulu waktu aku pinjam, fotonya sering aku liat..."
__ADS_1
"Eh..itu..."aku dan mas Ryan menghentikan ocehan wanita hamil itu, sebelum ada yang mendengarnya.
"Vanya! Dengarkan aku...Kinan adalah kakak iparku..!"