
Kunyamankan posisi dudukku saat berada disebuah warung es ala garden itu.
Mas Ryan menjemputku setelah selesai kuliah tadi dengan motor hitam kesayangannya dan sebelum pulang kami mampir kesebuah warung es yang berada diseberang jalan sebuah stadion dikota kami itu. Meskipun selalu ramai oleh anak muda,namun tempat itu tetap nyaman untuk sekedar melepas lelah.
Seperti biasa, saat mas Ryan bertanya kepadaku: "Kemana kita?"
Selalu kujawab : "Kemana aja, asal ada es telernya .."
Dan kamipun akhirnya terdampar disini. Memesan es teler dan menikmati waktu kebersamaan kami yang memang jarang bertemu.
Mas Ryan seorang arsitek yang bergabung dengan perusahaan kontraktor "Arcadesign" dikota Semarang, karena itulah hanya week end seperti ini kami bisa bertemu.
"Tatapanmu membuatku meleleh,Ki.." ucapnya saat memergokiku menatapnya.
" Iisshh..." sahutku tersipu, entah kenapa meski hubungan kami sudah lumayan lama, aku masih malu seperti baru mengenalnya.
__ADS_1
"Aku cuma heran, apa kamu nggak punya rasa capek mas, pake menjemputku segala. Bukankah besok subuh, kamu harus kembali ke Semarang..Emang arisan keluarganya tadi sudah selesai?" ucapku kemudian.
Selama aku mengenal pria pemilik hatiku ini, aku tau dia seorang yang ringan tangan bahkan meski urusan dapur, dia sudah terbiasa melakukannya.
Mas Ryan seorang anak angkat dari seorang janda kaya yang masih saudara jauh dari ayahnya. Orang tua kandungnya meninggal dalam kecelakaan saat umurnya delapan tahun. Sejak itu dia hidup bersama ibu dan saudara angkatnya yang berumur tiga tahun diatasnya.
Meski hanya anak angkat, ibunya sama sekali tidak membedakan dalam memperlakukannya dengan saudara angkatnya yang sesama pria. Mereka bertiga saling menyayangi seperti terikat hubungan darah.
Aku bersyukur dia mau menerimaku apa adanya. Termasuk pemikiran ku yang agak kaku. Selama ini aku sama sekali belum pernah mau untuk dikenalkan dengan keluarganya, sebelum dia meminta ijin untuk meminang ku pada ayah.
Sebenarnya dia sudah cukup punya tabungan untuk meminang ku, namun aku masih ingin melanjutkan kuliah yang sempat tertunda satu tahun yang lalu. Lagipula umurnya baru dua puluh lima tahun, dan pernah juga dia mengatakan berharap kakaknya akan menikah sebelum kami.
"Lelahku terbayar setelah bertemu denganmu , Ki..." sahutnya sambil menarik sudut bibirnya.
Meski aku sudah terbiasa dengan gombalannya itu, tak ayal hatiku berdesir mendengarnya.
__ADS_1
"Lagian kita hanya bisa bertemu seminggu sekali, bahkan sekarang aku harus mengalah dengan waktu kuliahmu.." ucapnya lagi.
Mas Ryan, seorang cowok tengil yang berhasil membuatku jatuh hati. Dia begitu menghormati semua keputusanku, termasuk permintaanku menjalin hubungan yang sehat dan saling menjaga diri. Karena tidak ada kontak fisik, kami terlihat seperti kakak adik , begitu kata teman-teman sekantorku.
Aku tak pernah lupa pertemuan pertamaku dengannya.
Saat itu aku dalam perjalanan dari rumah Tante Esti di Magelang naik bis. Dari Magelang bis berhenti diterminal Semarang dan harus berganti bis dengan tujuan Semarang-Surabaya.
Kulihat jam tanganku.
" Masih jam dua siang..." gumanku
Setelah menemukan bis yang terlihat nyaman , akupun duduk dikursi nomor dua dari depan, dekat dengan jendela.
Hari itu suasana agak temaram, kutengok langit melalui jendela bis, mendung tipis menggantung diatas sana.
__ADS_1
Tak lama kemudian beberapa orang masuk dalam bis itu. Salah satunya memilih kursi disampingku. Seorang pria bertopi, dengan tas ransel besar dan terlihat berat yang diletakkan dikakinya.
Aku tak memperdulikannya, dan mataku masih sibuk memperhatikan bulir air yang mulai menghiasi kaca jendela. Kurapatkan tubuhku, karena bersentuhan dengan lengan pria disebelahku.