Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Jangan menoleh lagi


__ADS_3

" Ck...ibu, boleh nggak aku makan dengan tenang..." suara sewot terdengar dari mulut adik iparku itu.


"Ibu kesal sekali padamu, coba kamu mengenalkannya pada ibu, pasti nggak bakalan kamu putus dari gadis itu..." ibu masih saja berceloteh sambil sesekali menikmati masakannya.


" Sudahlah Bu, bukankah ibu sudah merencanakan sesuatu..." mas Devan menyahut dengan melirik adik satu-satunya itu.


"Heh....apa yang ibu rencanakan?" pria yang masih sewot itu seketika menoleh ke arah ibunya.


" Nanti kalo sudah saatnya kamu juga tau...sekarang habiskan makananmu. Lihatlah Kinan dari tadi diam gara-gara kamu berisik ..!"


Aku hanya bisa menunduk dan mencoba fokus pada sisa makananku yang dari tadi seperti tak berkurang. Meski masakan ibu sangat enak, bagaimana aku bisa menikmatinya? Beberapa kali aku menahan diri untuk tidak menghela nafas karena merasa tak nyaman.


" Kurasa ponselku bunyi, masakan ibu masih saja de best, terima kasih Bu..." adek iparku itu beranjak lalu sekilas mencium kening ibunya dan melangkah ke kamarnya meninggalkan kami.


Hhh... terasa lebih lega saat dia pergi dan tak lagi berbagi oksigen diruangan makan ini. Lalu sekarang aku harus memanggilnya apa? Adek? Kuatlah Kinan...semua pasti ada hikmahnya.


Malam ini, untuk pertama kalinya aku tidur dalam ruangan yang sama dengan suamiku. Entah apa yang harus kurasakan sekarang, haruskah aku merasa lega saat mas Devan memutuskan untuk tidur disofa?


Aku seperti orang bodoh saja, meski telah berbaring ditempat tidur, bahkan kerudung pun dari tadi masih melekat dikepalaku.


Ataukah ini yang membuat mas Devan memilih tidak mau berbagi tempat tidur yang besar ini? Ya..Allah ampuni aku, kumohon kepadaMu berilah hambamu ini keikhlasan untuk menerima mas Devan sebagai suami yang sesungguhnya.

__ADS_1


Mungkin karena suasana baru, dari tadi aku tak kunjung memejamkan mata. Kubolak-balikkan tubuhku, mencari kenyaman ditempat yang masih asing bagiku ini, namun tetap saja aku tak merasa mengantuk meski jam dinding berdetak menunjukkan hampir jam 12 malam. Mungkin karena rasa pening kepalaku, yang semakin membuatku susah tidur.


Karena tidak tahan lagi, akupun turun dari tempat tidur. Dalam cahaya remang itu, aku mendekati mas Devan. Wajahnya yang memang tampan itu, terlihat lelap menikmati tidurnya.


Mas Devan juga mempunyai masa lalu yang membuatnya terikat kuat, namun dengan rela dia menerimaku apa adanya. Lalu apa salahnya kalo aku juga berbuat hal yang sama.


Setelah puas memperhatikan suamiku, kakiku melangkah mencari obat sakit kepala dan ke luar kamar menuju meja makan.


Kutuang air putih dari teko ke dalam gelas . Akupun duduk disalah satu kursi disana lalu kuminum segelas air dan obat sakit kepala. Kupijat keningku saat suara pria yang kukenal keluar dari dapur dan membawa secangkir kopi ditangannya.


"Kamu sakit?" ucapnya sambil duduk di hadapanku lalu meletakkan kopinya dimeja.


" Nggak...ini hanya vitamin saja..."sahutku seraya bangkit dari kursi.


" Maaf...membuatmu tak nyaman..."Ucapannya itu menghentikan gerakanku.


"Aku hanya dua Minggu disini, setelah resepsi pernikahanmu aku pasti akan pergi ..."


Akupun menoleh memberanikan diri untuk menatapnya secara langsung, suatu hal yang sudah lama tak kulakukan padanya.


" Oh iya...kamu belum memberiku ucapan selamat atas pernikahanku..."

__ADS_1


" Mas Devan pasti akan membuatmu bahagia.."


" Terima kasih ...adik ipar..."sahutku lalu kulanjutkan melangkahkan kaki tanpa menoleh lagi.


Memang seharusnya ini yang kulakukan, aku harus menatap hari esok, biarkan yang lalu menjadi pelajaran hidupku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari kemudian, aku mengajukan cuti empat hari, karena lusa acara resepsi yang selalu membuat ibu mertuaku heboh. Mungkin itulah ungkapan kebahagiaan seorang ibu saat pertama kali menikahkan anaknya. Apalagi selama ini mas Devan selalu berhasil menghindar dari pernikahan, jadi dengan bangga ibu akan memamerkan bahwa putranya itu bukan bujang lapuk lagi.


Pagi ini berjalan seperti biasa, aku berusaha menghindari pertemuan dengan mas Ryan. Bagaimanapun aku adalah manusia biasa, kadang rasa yang dulu selalu saja mengganggu ketenangan pikiranku.


Hari ini ibu mengajakku perawatan disalon langganannya, hhh...memang ibu mertuaku itu seorang sosialita yang selalu menjaga penampilannya meskipun sudah menjadi seorang janda. Atau mungkin saat bertemu dengan pria tepat untuk kedua kalinya ibu juga akan melepas masa lajangnya...


" Ryan itu sudah cukup lama berhubungan dengan seorang gadis, tapi entah mengapa beberapa waktu belakangan dia sering mengambil proyek yang jauh. Padahal sebelumnya, dia hanya mau bergabung dengan proyek yang dekat saja, katanya sih nggak bisa jauh dari gadisnya."


Aku mencoba untuk menyelami keputusannya bahwa hubungan kami harus berakhir dari sudut pandangnya.


" Pas ibu minta agar dia segera melamar gadis itu, katanya nunggu gadisnya itu selesai kuliah. Ryan itu benar-benar susah ditebak, dia nggak pernah ngajak cewek kerumah, ya kukira jomblo kan, trus aku kenalin dengan teman-teman arisan ibu, eh dia bilang sudah ada calon...lah tiba-tiba saja pas aku pamer fotomu bahwa Devan sudah punya calon dan akan menikahkan mereka barengan aja...dia bilang sudah putus dan akan ambil proyek luar negeri..ibu jadi tak habis pikir.."


Jadi seperti itu, meski sebelumnya aku meyakinkan diriku bahwa semua ini adalah kebetulan saja, ternyata seperti kata hatiku yang lain. Bahwa dia sengaja memberikanku pada kakaknya... Jadi aku tak begitu berharga dihatinya, hingga rela melepasku begitu saja tanpa memikirkan perasaanku...

__ADS_1


__ADS_2