
Dokter sudah memperbolehkan nasya untuk pulang hari ini setelah hampir 1 minggu dia dirawat. Namun nasya minta untuk pulang ke apartemen dia tidak mau pulang ke rumah utama. Awalnya leni menolak keras namun pada akhirnya dia menghormati keputusan nasya dan araf. Dengan catatan imah atau bi tini ikut mereka. Araf meminta bi tini yang menemani karena ingat nasya oernah cemburu dengan imah.
Perjalanan dari rumah sakit ke apartemen memakan waktu 30 menit. Leni, bayu, zaki dan hana ikut mengantar. Sesampainya di apartemen nasya duduk disofa bi tini membuatkan mereka minum. Nasya menatap pada hana dan zaki, "hana maaf ya karena aku masuk rumah sakit pertunangan kalian jadi dibatalin" ucap nasya pada hana uang berada diseberangnya.
Hana tersenyum pada nasya, "ga usah dipikirin sya"
Zaki menyahut, "pertunangan boleh batal sya tapi pernikahan tetap lanjut. Ga sampe sbln gue udah mau halalin hana"
Nasya mengerjapkan matanya tak percaya, "serius kak?" tanya nasya menegakkan posisinya
"iya sayang mami sih setuju aja yang penting mereka bahagia" ujar mami yang duduk disamping nasya
"nanti kita mau ngadain pernikahan kita di bali sya, jadi sekalian honeymoon. Kalian kan juga belum pernah honeymoon sekalian aja kan jadinya" sahut zaki
"wahhh asyik bisa honeymoon gratis" ucap araf kegirangan
Zaki berdecak kesal, "ck dasar... lu tuh raf udah jadi pengusaha masih aja pengennya grtsan" sindir zaki
"gapapa ya sayang biar kita bisa cepat kebeli rumah" ucap araf yang bergelayut manja pada nasya.
"isshhh... inget tempat apa kalau mau mesra-mesraan" kesal zaki pada araf yang melempar bantal sofa pada araf
"biarin apa bang gue udah halal ini. kalau lu berdua tuh baru ga akan bisa sebelum halal hahahaha" araf mengejek zaki menghampiri kemudian mencekik bercanda pda araf yang tertawa puas.
"kalian ini udah pada gede becndanya masih aja kaya anak kecil deh ah" mami bangkit dan memukul tangan zaki dan pundak araf.
Papi, nasya dan hana hanya tertawa melihat tingkah mereka.
***
Malam semakin larut nasya masih juga belum bisa memejamkan matanya dia bangkit dan menunaikan shalat malam. Dia menangis sesenggukan saat dia memanjatkan doa. Suaranya lirih hampir tak terdengar hanya isak tangisnya yang sesekali terdengar.
Araf merasakan sisi kanannya kosong, dia meraba tapi tak ada nasya disisinya. Dia pun bangkit dan mencari nasya. Dia melihat nasya sedang shalat malam.
Lelah rasanya setelah menangis, dia pun melepas mukenanya dan melipat. Araf mendekat dan memeluk nasya, "kenapa sayang?" tanya araf sambil menyandarkan kepalanya pada kepala nasya.
__ADS_1
Nasya melihat kebawah, "mas aku benar-benar belum bisa ikhlas. Astagjfirullah" tangis nasya
Araf mendekat dan memeluk nasya erat, "sayang sudah jangan terus diingat. Aku ga mau kamu sakit lagi. Sudah cukup ya jangan nangis lagi"
"maaf mas"
"udah gapapa kamu istirahat ya udah larut"
Nasya menuruti araf dia tertidur dengan memeluk araf. Masih juga belum bisa tidur dia memeluk araf erat, "mas" panggil nasya lembut
"iya sayang..." jawab araf sambil mwngecup kepala nasya mesra.
"Setelah lulus mas nerusin kuliah atau langsung kerja?" tanya nasya mencoba membuka omongan karena sebenarnya dia hanya tidak bisa tidur.
"kuliah sambil kerja di perusahaan ayah kamu sya. Sesekali aku harus datangj juga kan perusahaan. Sedikit demi sedikit aku harus mulai terlibat" jelas araf
"mas bakalan sibuk banget ya" ucap nasya manja
Araf tersenyum, "kamu juga harus kejar cita-cita kamu. Aku akan bekerja keras sayang demi masa depan kita"
"tapi... aku mau kita punya anak dulu mas"
"beneran mas?" tanya nasya senang
"Iya sayang, emangnya cita-cita kamu apa sayang?"
"aku boleh kuliah kedokteran mas? aku mau ambil spesialis bedah mas"
"boleh sayang asal kamu bisa atur waktu untuk keluarga dan kuliah. Karena kuliah kedokteran itu menguras waktu" ucap araf lembut pada istrinya.
"hmmm gitu. Kalau gitu aku kuliah jadi ahli kimia aja ya mas" ujar nasya berubah pikiran
"loh kok gitu?"
"kan ga nguras banyak waktu mas. Aku cuma ga mau sampai lalai kewajiban istri mas"
__ADS_1
"hahahaha istriku ini gemes banget sih...." ucap araf tertawa
"apa pun cita-cita dan keinginan kamu aku akan selalu dukung sayang"
"Maksih ya mas"
****
Nasya sudah mulai bersekolah begitu pun araf yang sudah disibukkan dengan kuliah dan kantor. Mereka jadi semakin sedikit memiliki waktu bersama. Pagi-pagi araf sudah berangkat mengantar nasya sekolah, malam hari araf akan pulang sangat larut bahkan nasya sering tertidur di sofa karena menunggu araf pulang.
Jika bertemu mereka seperti orang asing, araf jadi lebih sering bersama teman-temannya di kampus. Sedang nasya sibuk dengan buku walau sesekali dia terus memikirkan perubahan sikap araf. Sabtu terkadang araf ada kuliah minggu pun araf akan sibuk dengan cafe. Membuat nasya merasa diabaikan. Namun nasya tak mau mengeluh dia hanya terdiam entah sampai kapan.
Hari sabtu araf sudah pergi pagi-pagi sekali dia bilang ada urusan dikampus. Setelah selesai membersihkan rumah nasya duduk disofa sambil menonton tv. Tak lama kemudian bel pintu berbunyi. Nasya beranjak dan membuka pintu dia melihat hana datang dengan wajah sembab sehabis menangis, "hana ada apa?" tanya nasya bingung
"ayo masuk dulu baru cerita" ucap nasya sambil memeluk hana dari samping
Setelah memberi minum pada hana, nasya bertanya, "ada apa hana? kenapa kamu menangis?"
"syaaa tadi gue kekantor bang zaki..." isak hana
"terus?" tanya nasya penasaran
"Waktu gue masuk ke ruangannya gue liat dia lagi pelukan sama cewe, cewe itu nangis dipelukan zaki syaaa... huaaa...." tangis hana makin keras.
Nasya mendekat dan memeluk hana, "bang zaki tau kalau kamu mau dateng?"
"ga, gue mau kasih dia sureprise sya. Malah gue yang dapet kejutan" hana terisak
"lu tanya siapa cewe itu?"
Hana mengangguk, "bang zaki bilang namanya nabila dia mantan bang zaki. Terus bang zaki bilang mereka pelukan untuk perpisahan karena bentar lagi kuta nikah. Belum juga jadi suami dia dah khianatin gue. Gimana kalau kita nikah beneran coba sya. gmGue jadi ragu buat nikah sama zaki" ucap hana panjang lebar.
"aku harus bilang sama mami" batin nasya
"sabar ya hana kalau jodoh ga kemana. Aku yakin disini pasti ada kesalah pahaman nanti aku coba ngomong sama mami sama bang zaki" ucap nasya berusaha bijak
__ADS_1
Hana mengangguk, "sya malam ini gue nginep ya. Gue takut kalau nyokap liat gue nangis gue malah jujur"
"iya boleh" jawab nasya