
Araf lekas pulang sebelum acara selesai dia ingin bicara dengan nasya perihal hari ini. Selama hampir setahun menikah nasya ga pernah bersikap seperti ini pada araf. Maka dari itu araf pun terkejut dengan sifat nasya.
Sesampainya dirumah dia menemukan nasya masih berdzikir dengan khusyuknya sambil memejamkan mata. Dia menunggu nasya selesai dengan duduk di ranjang sambil memainkan hp-nya.
Setelah selesai nasya membuka mukenanya, nasya terkejut saat melihat araf sudah ada di kamar, "mas udah pulang?" nasya mendekat lalu mencium tangan araf, araf pun mencium kening nasya.
"sya... aku mau bicara" ujar araf yang melihat nasya masih asyik membenahi mukenanya.
Nasya menoleh pada suaminya terlihat ada raut wajah tak biasa pada araf, "silahkan"
"sya... apa maksud kamu bicara seperti tadi ditelepon?"
"apa?" nasya menatap balik araf dengan tatapan tajam. Araf mendekat dan memegang bahu nasya, "sya... kamu ga beneran kan dengan ucapan kamu?"
Nasya masih menatap tajam araf tanpa bicara, "sya ok aku minta maaf tapi kan kita cuma temen sya demi Allah kita ga ada apa-apa. Tadi kebetulan aja aku sama mika dapat tugas beli kue" ujar araf berusaha menjelaskan
"mas tadi udah bilang kenapa diulang?" nasya bersikap cuek dan dingin. Begitulah nasya jika dia sedang merasa badmood maka dia akan bersikap dingin dengan lawan bicara.
"sya... aku minta maaf ok. Tolong jangan marah lagi ok?"
"aku ga marah siapa yang bilang aku marah?" Nasya bertanya masih dengan tatapannya yang tajam. Araf merasa kali ini dia seperti tidak melihat nasya yang biasanya.
"sya..."
"kamu seorang imam yang menuntun aku dan membimbing aku. Aku ga perlu jelaskan lagi kan" setelah berucap nasya berdiri namun ditarik oleh araf.
"sya... aku udah minta maaf aku pun udah bilang sama kamu aku sama mika cuma temen next aku ga akan ulangi kok"
"itu terserah sama kamu mas aku ga mau larang kamu. Aku cuma istri yang harus patuh sama suami bukan?" Nasya berbalik melihat ke arah araf
"sya... cuma masalah sepele gini ja kenapa sih kamu segini marahnya sama aku? dulu waktu kejadian karen kamu ga gini kenapa sekarang kamu malah dingin sama aku?" Araf mulai meninggi suaranya
__ADS_1
"aku memang kolot mas makanya aku akan belajar menjadi orang yang ga kolot seperti yang kamu bilang termasuk bergaul dengan lawan jenis"
"sya jangan berani kamu ya!"
"cuma berteman kok apa salahnya?"
"sya aku ga suka kamu jadi bangkang begini!" Araf mulai marah
"mas aku ga bangkang, apa ada yang salah dengan kata-kata aku? kamu sendiri yang bilang aku kolot
"aku udah minta maaf sya..." araf mulai lembut kembali
"aku kan udah bilang aku maafin. Lagipula kamu jangan takut kalau aku akan berdekatan dengan lelaki lain yang bukan muhrim karena aku masih punya akhlak. Aku menghormati kamu sebagai suami" Nasya berbalik meninggalkan araf sendiri dikamar.
Araf tercengang dengan ucapan nasya, "menghormati? jadi selama ini kamu ga pernah cinta sama aku sya?" suara araf perlahan sambil menatap kepergian araf.
Saat makan malam hanya ada keheningan diantara mereka. Saat nasya selesai makan dia melihat araf hendak beranjak namun nasya berucap, "mas aku mau minta izin"
Araf berbalik pada nasya, "apa?"
"silahkan" Jawab araf singkat kemudian pergi.
Araf meonton acara di tv, namun dia tidak fokus pada tv yang dilihatnya. Pikirannya kacau dengan ucapan nasya tadi sesekali matanya melihat nasya yang membereskan dapur setelah mereka makan. "Ya Allah apa yang sudah kuperbuat" batin araf
Saat araf melihat ke layar tv nasya datang dengan membawa secangkir kopi kesukaan araf, "mas kopinya" ucap nasya.
"sya mau sampai kapan kamu seperti ini!" araf menatap pada nasya yang berbalik melihat kepadanya.
"kenapa mas?"
Araf menarik tangan nasya, "duduk" araf memeluk nasya dengan erat, "jangan bersikap dingin sama aku. Aku ga tahan"
__ADS_1
"maaf mas" nasya menepuk punggung araf
"apa kamu mencintai aku?"
"kenapa harus tanya apa selama ini sikapku kurang terlihat dimata kamu?"
Araf melihat wajah nasya mata bulat dengan wajah bening bibir mungil hidung mancung kecil. Wajah yang hampir sebulan ini dia tidak nikmati. Araf memeluk nasya dari samping, "aku mencintai kamu sangat" ucap araf kemudian mencium bibir nasya
Nasya tersenyum, "aku juga mas dan aku minta jangan biarkan orang ke-3 bisa masuk dengan mudah dalam hubungan kita"
Araf menatap isrrinya, "kok kamu bilang begitu?" tanya araf heran. Nasya menaruh kepalanya didada bidang araf, "aku cuma ga mau kamu dengan mudahnya berteman dengan lawan jenis. Mungkin menurut kamu, kamu biasa aja tapi hati orang ga ada yang tau mas"
"sayang buat aku kamu aja cukup sya. Maaf aku benar-benar minta maaf aku ga akan ulangi keslahanku"
"semoga ya mas"
"btw soal bang zaki aku udah bicara sama dia. Dia bilang memang ga mudah melupakan nabila tapi dia akan terus berusaha. Lagipula dia juga sedang belajar untuk mencintai hana"
"Hari ini aku ketemu sama nabila di mall"
Araf mulai tertarik kemudian bertanya, "terus?"
"Intinya dia ga akan diam aja kehilangan abang. Dia akan berusaha karena dia bilang ga ada hubungan yang kuat yang ada hanya orang ke-3 yang kurang berusaha"
"dia bilanh begitu ke hana?"
Nasya mengangguk, "mas ga akan ada orang ke-3 kalau ga ada kesempatan untuk mereka bisa masuk. jadi aku harap kamu ngerti bukan aku melarang kamu bergaul diluar, semua ada batasnya mas"
"iya sayang, aku paham lagipula semua teman-temanku juga udah tau kalau aku udah nikah" sahut araf
"hati wanita itu lembut seperti kapas mas kamu sentuh sedikit aja dia akan nempel dijari kamu. kamu tiup pun masih akan ada sisa. Jadi jangan pernah kamu mainin. Aku bisa dengan mudah memaafkan tapi sulit untuk percaya lagi jangan khianati kepecayaan aku. Yang aku tau kamu selalu sibuk kuliah dan kerja tapi aku ga pernah tau kamu juga ada waktu untuk merayakan ultah teman kamu. Aku ga masalah tapi kamu juga harua bilang sama aku"
__ADS_1
"iya sayang aku minta maaf tadi juga mendadak kok sayang"
"selama ini apapun yang aku mau lakuin selalu bilang sama kamu. Aku harap kamu juga lakuin hal yang sama. Dan berikan aku sedikit aja waktu kamu yang berharga itu. Jujur aku sangat kesepian mas" Terdengar nasya menghela nafas berat. Araf memeluk nasya kemudian mencium puncak kepala nasya, "maaf sayang"