Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 57


__ADS_3

Berapa kali aku berusaha mengatakannya ini tidaklah mudah


Berpikir untuk berubah?


Kuharap entah bagaimana aku ingin melupakanmu


Tidak mudah untuk berpaling dan pergi


Maka jika aku benar-benar tak berarti bagimu


Semua bukan yang kuinginkan


.


.


.


.


Hujan deras mengguyur bandung barat dan memaksa araf berdiam dirumah mungil yang dia beli untuk erika. Araf duduk memeluk sang istri yang sudah terlelap dalam pelukannya diruang tamu. Dimeja sudah disediakan teh panas buatan erika sang pemilik rumah. Erika melihat mereka begitu intim. Araf sangat dingin saat bekerja begitu tegas dan jarang tersenyum namun hangat dan penolong. Berbeda saat araf bersama nasya, araf akan menjadi pribadi yang usil dan manja juga sangat manjakan istrinya yang ternyata lebih muda 3 tahun dari araf.


Kini erika paham dengan status nasya sang pemilik perusahaan besar yang dikelola araf dia bukanlah apa-apa. Erika merasa iri dengan nasya mengapa hidupnya begitu sempurna dia cantik, genius, solehah dan tentunya kaya bahkan sangat kaya. Sedangkan dia bermimpi untuk menjadi milik araf dan bersaing dengan nasya? Itu adalah hal mustahil. Annasya singodiredjo dia pemilik segalanya bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya. Siapa erika? dia hanyalah orang miskin tanpa orang tua dan sanak saudara yang kini ditolong oleh nasya dengan diberikan tempat tinggal layak dan usaha. Masihkah pantas dia berharap lebih kepada suami wanita yang sudah menolongnya? Dia merasa jijik pada dirinya sendiri.


"Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan ini, Semua tau tidaklah mudah bagiku untuk jatuh cinta dan menghadapi semua ini, kukira aku harus lebih tau diri. Aku sendiri yang membuatnya susah untuk melepaskan" batin erika bergejolak dia menghela nafas sangat dalam melepas penat yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya.


"mas belum berhenti juga ya? aku udah ngantuk banget" suara manja nasya terdengar parau saat mengucapkan kata-kata manja pada suaminya.


"sabar sayang, apa kamu mau balik hotel sekarang? Aku akan menyetir dengan hati-hati" ucap araf sambil mengeratkan pelukannya pada istrinya. Erika merasa jengah dia pun berpaling ke arah lain.

__ADS_1


"ga ah mas bahaya" ujar nasya manja


"aku siapkan kamar dulu untuk kalian istirahat. Kalian bisa istirahat dikamar selagi menunggu hujan reda" erika bangkit berdiri menuju kamar yang ada di belakangnya. Araf mengangguk saja dan tersenyum singkat pada erika.


"tolong jangan berikan senyum itu. Aku tak akan sanggup" batin erika kemudian beranjak pergi.


Araf sangat tau nasya tidak akan bisa tahan jika hujan turun dia pasti bakalan terus mengantuk. Entahlah sindrom putri tidur nasya akan kambuh saat hujan turun dengan deras. Dimana pun berada nasya akan sangat mengantuk jika hujan turun dengan lebat.


Selesai merapikan kamar erika keluar, "raf kamarnya udah siap" ujar erika.


Araf mendongak, " terima kasih erika" araf segera membopong istrinya ke kamar dan membaringkannya. Dilepasnya cadar istrinya agar lebih leluasa dia bernafas. Araf memandangi wajah damai istrinya yang sedang terlelap. Dibelainya dengan lembut seluruh bagian diwajah itu.


Dia seperti merindukan momen damai tanpa masalah saat bersama sang istri. Sudah lama sekali dia tidak merasakan ini. Dikecupnya lama pipi annasya yang masih terlelap tidak merasa terganggu dengan polah tingkah araf. Direngkuhnya kepala nasya diletakkan pada dadanya, "sayang maafkan aku yang sering sakitin kamu, terima kasih atas kesabaranmu mencintai aku. Disaat semua orang menyalahkanku terima kasih masih mendukungku" ucap araf pelan.


Erika yang melihat itu dari balik pintu hanya bisa menahan tangis. Rasanya sesak dan sakit didalam. Erika pun beranjak dan berlari ke arah kamarnya. Menangis tersedu meluapkan kesal dihatinya.


"kenapa harus sesakit ini tuhan.... tolong hilangkan rasa ini hiks...." tangis erika dia pun membenamkan wajahnya didalam bantal.


"kalian ga mau sarapan dulu?" tanya erika pada nasya dan araf.


"ga usah kita sarapan dijalan aja. Kita harus segera pulang kejakarta kerjaanku masih banyak. Nasya juga besok udah mulai kuliah" terang araf


"owh ya udah hati-hati kalian dijalan" ucap erika yang diangguki nasya dan araf.


"nasya..." panggil erika nasya menoleh pada erika. Erika berlari dan memeluk nasya, "maafkan aku" erika memeluk nasya dan menangis.


"iya" nasya menjawab singkat. Dia tak tau harus berucap apa lagi.


"ayo sayang" ucap araf setelah erika melepas pelukannya pada nasya.

__ADS_1


Setelah mereka meninggalkan erika sendiri dirumah itu erika menangis sejadinya karena merasa kesepian. Dia akan memulai hidupnya yang baru disini. Memulai dengan lebih baik semoga saja bisa.


Erika membuka ponselnya terlihat wallpaper ponselnya ada foto araf yang dia curi diam-diam, "jika rasa ini tak mau pergi biarlah tetap disini untukmu. Aku akan tetap mencintaimu dengan caraku" Erika mengelus ponsel ditangannya.


****


"mas aku laper...." nasya berucap manja pada suaminya.


"ya sayang kita cari resto dulu ya" jawab araf sambil menoleh kanan kiri. Nasya pun mengangguk.


"mas..."


"hmmm?"


"erika sendirian disana mana lagi hamil apa dia akan baik-baik aja?"


"kenapa kamu pikirin? Dia udah dewasa sayang bukan anak-anak lagi. Dia harus lebih mandiri dan lebih menata hidupnya demi masa depan dia" ujar araf menjelaskan.


"lagipula aku udah suruh anaknya bi tini untuk bantu dia bersih-bersih rumah dan bantu dia sampai melahirkan" sambung araf.


"kamu detil banget kalau nolong orang"


Araf tersenyum pada istrinya, "kalau mau nolong kan ga boleh setengah-setengah" ucap araf yang diangguki nasya.


💓💓💓💓


Sesampainya dijakarta araf langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Berbeda dengan nasya yang ke kamar mandi langsung membasuh diri. Nasha merebahkan tubuhnya disisi araf tanpa melepas kimono mandinya. Badanya terasa sangat melelahkan. Araf yang melihat istrinya langsung terpejam usai mandi memaklumi jika nasya sangat kelelahan. Padahal hujan kemarin dia tertidur lama sekali hingga pagi menjelang.


Araf menarik tangan nasya dan meletakkan kepala nasya dipangkuannya. Dia mengusak rambut nasya dengan handuk yang menempel dikepala nasya, "rambutnya keringin dulu sayang nanti masuk angin loh" ucap araf pada istrinya yang sudah memejamkan matanya.

__ADS_1


Tanpa membuka mata dengan suara pelan nasya menjawab, "aku capek banget mas pengennya merem aja. Badan aku rasanya rontok tau" Nasya memiringkan tubuhnya dengan kepala masih dipangkuan araf.


Araf tersenyum melihat kelakuan manja sang istri yang sudah sangat kelelahan sepertinya. Setelah setengah kering araf meletakkan kepala nasya dibantal dan membenarkan posisi tidurnya. Setelahnya araf beranjak kekamar mandi mengguyur tubuhnya yang juga sangat lelah karena berkendara sendiri dari berangkat sampai pulang ke jakarta. Selesai mandi araf ikut berbaring disisi nasya.


__ADS_2