
Annasya berjalan mengitari taman dirumahnya, dia memperhatikan setiap detil bunga yang tumbuh dihalaman belakang rumahnya setelah melewati kolam renang yang besar. Hari ini tidak banyak kegiatan yang dilakukannya. Setelah melewati 2 mata kuliah dia langsung pulang karena memang tak ada kegiatan lain lagi. Pengajian yang diikutinya pun sedang libur. Dia duduk disebuah bangku besi yang berukiran bunga berwarna putih. Menatap lurus kedepan melihat betapa besar rumah yang ditempatinya sekarang.
Dulu saat diapartemen jika dia sedang bosan dia akan membersihkan ruangan demi ruangan. Namun sekarang dia tidak diperkenankan melakukannya karena araf sudah menyewa hampir 10 orang pembantu berikut tukang kebun dan security. Di satu sisi dia senang karena araf memanjakannya namun disisi lain dia sungguh sangat bosan. Walaupun dia sangat bersyukur dengan kehidupan yang dijalaninya.
Nasya merebahkan kepalanya disandaran kursi dan memejamkan matanya. Walaupun ada tukang kebun disana dia tidak merasa terganggu. Dia menengadahkan kepalanya ke langit. Memejamkan matanya dan menghirup udara sore yang segar dihidungnya. Saat sedang menenangkan pikirannya, ponsel nasya berbunyi.
ddrrrrrtttt ddrrrttt.....
"assalamu'alaikum" nasya membuka matanya dan memgucap salam.
"wa'alaikumsalam sya..."
"iya mi,,,,"
"nanti malam kamu nginep ya sayang besok kan acara akikah gibran sekaligus selametan selapan dia. Bantu mami persiapkan ya" mami berucap diseberang sana.
"iya mi nanti setelah makan malam sama mas araf nasya kesana mi"
"ok sayang mami tunggu"
Leni menutup telepon, nasya menaruh ponselnya kedalam saku gamisnya. Dia memperhatikan rumah besar yang berdiri megah mentereng didepannya, "hmmm semua udah aku miliki hanya saja seorang anak yang belum Engkau karuniai walaupun begitu hamba sangat bersyukur ya Allah" Nasya tersenyum kemudian menunduk.
"non..." tiba-tiba ada suara dari belakang memanggil nasya menengok ternyata tukang kebunnya.
Nasya menatap pada tukang kebun yang menunduk tak berani melihat pada mjikannya, "ya pak ada apa?" tanya nasya.
"saya... nemu ini non" tukang kebun itu menyerahkan sebuah pin berwarna emas yang diterima oleh nasya.
Nasya memperhatikan, "punya siapa pak?"
"maaf non saya kurang tau" kawab tukang kebun itu masih sambil menunduk.
"nemu dimana pak?"
"diantara bunga matahari disana non" tunjuk si tukang kebun ke salah 1 kumpulan bunga matahari.
"makasih ya pak nanti saya tanya ke yang lain"
"baik non"
"lain kali kamu bisa serahkan apapun ke bi arti jangan langsung ke istri saya" tanpa mengucap salam araf berbicara dengan lantang dan keras.
__ADS_1
"mas..." Nasya menoleh ke arah araf yang berjalan ke arahnya.
"maaf tuan saya tidak akan mengulangi" ucap sang tukang kebun dengan gemetar.
"ini peringatan terakhir, kamu tau kan laki-laki dan wanita yang bukan muhrim haram berdekatan walaupun ditempat terbuka. Lain kali harus melalui bi arti sebagai kepala asisten rumah tangga disini. Jangan melangkahi" Araf mengambil pin ditangan nasya kemudian menarik tangan nasya ke dalam rumah. si tukang kebun menatap kepergian majikannua dengan senyum smirck dan tatapan tak suka.
"kamu kok kasar gitu sih mas dia kan cuma mau menyerahkan pin yang dia temuin mas" ujar nasya saat sudah sampai didalam rumah.
Tanpa menggubris ucapan nasya, araf berteriak, "bi arti...." dengan tergopoh-gopoh bi arti keluar dari dapur.
Dengan celemek ditangannya bi arti menunduk, "ya tuan"
"bilang sama semua karyawan laki-laki ga boleh bicara sama istri saya. Juga ga boleh menatap istri saya. Apa bibi lupa aturan ini!" sentak araf membuat nasya kaget. Tidak biasanya araf berteriak dan bicara seperti itu.
"i... iya tuan" ucap bi arti takut, "maaf... tuan saya akan biacara lagi sama mereka semua tuan"
Tanpa bicara lagi araf menarik nasya naik ke lantai atas sambil menarik lengan nasya.
"mas kamu kenapa?" tanya nasya yang bingung dengan sikap araf.
"kamu tunggu dikamar" araf meninggalkan nasya dipintu menuju kamar mereka. Sedang araf masuk kedalam ruang kerjanya yang berseberangan dengan kamarnya. Tanpa membantah namun masih diliputi kebingungan nasya masuk kedalam kamar.
"ok siap kapan gue ambil barangnya kapan?" tanya fariz
"besok lu kekantor gue"
"ok boss"
Setelah menelepon araf masuk kedalam kamar dilihatnya nasya yang sedang duduk menutup matanya dengan masker mata.
"mas hari ini kita diminta dateng ke rumah utama" ucap nasya tanpa melepas maskernya.
"iya kita siap-siap"
Nasya melepas maskernya dan menatap pada suaminya. Dia berdiri melepas dasi suaminya, "suamiku ini kenapa ya? kok uring-uringan?"
"aku ga suka kalau liat kamu ngobrol sama yang bukan muhrim berduaan" ucap araf tegas.
"iya mas maaf, aku ga akan ulangi lagi. suamiku cemburuan" nasya tersenyum sambil menatap wajah araf intens.
"mau renang ga? kita olahraga dulu yuk sebelum berangkat ke rumah utama" ajak araf yang diangguki nasya. Dia pun mengambil telepon dan menelepon bi arti, "bi pegawai laki-laki jangan ada yang boleh ke taman apalagi kolam renang. Aku sama nasya mau renang"
__ADS_1
"baik tuan" jawab bi arti
"hmmm ternyata repot ya kalau punya runah besar" nasya berucap sambil berlalu dari hadapan araf. Araf menarik pinggang nasya memeluknya erat.
"mas..."
"sebentar aja"
"terus kita ga jadi renang nih?"
Araf membalikkan tubuh nasya mengecup lama bibir nasya, "hukuman karena dah berani senyum sama cowo lain selain aku!" Araf berlalu meninggalkan nasya ke kamar mandi. Nasya hanya menatap pada suaminya.
****
Dikolam renang nasya hanya mencelupkan kakinya diair. Dia tak berselera untuk renang. Dilihatnya araf yang sudah 2x putaran nasya hanya tersenyum. Araf mendekat pada nasya, "kamu ga mau renang?"
Nasya menggeleng, "ga mau"
"kenapa pakai baju renang?"
"awalnya pengen renang tapi sekarang males" jawab nasya santai.
Araf menarik nasya kedalan air, "aaaa...." jerit nasya, "mas aku kan bilang ga mau renang" rengek nasya.
Araf menatap istrinya yang sudah basah kuyup, "wahhh... istriku cantik ya kalau lagi kuyup begini. Bikin aku jadi pengen makan kamu"
Nasya hanya mencebik kesal, "ihhh dasar mesum!"
"hmmm kamu ngomong apa barusan?" tanya araf dengn lirikan tajam. Araf pun mendekat dan memeluk nasya dia pun menjahili nasya didalam air.
"mas ihhh ampun hahaha" tawa nasya terasa lepas karena araf mulai mengelitiki nasya, araf senang melihat nasya bahagia dan tertawa seperti itu.
💓💓💓💓💓
Kau selalu ada dalam pikiranku
Membunuh semua inginku
Mengikatku dalam jeratan cintamu
Kau hanya kau mimpi dan nyataku
__ADS_1