Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 47


__ADS_3

Nasya berbalik dia duduk disisi araf dia menatap araf yang menghela nafas panjang, "mas ga perlu cemburu aku sama om danu murni cuma om dan keponakan"


"tapi matamu bicara lain" araf menatap tajam pada nasya.


"apa maksud kamu?" nasya menatap tajam menyelidik dengan tatapan tak kalah tajam


"hahh...." Araf bangkit dia menyamakan duduknya pada nasya, "sya... setahun kita menikah aku... suami kamu kamu bukan pembantu aku. Aku ga butuh kamu layanin aku butuh kamu bahagia sama aku"


"ada apa sebenarnya?" Nasya menatap araf dengn mata penuh pertanyaan, "langsung to the point ga usah bertele-tele mas?"


Araf kesal dengan ucapan nasya dia bangkit dengan wajah merah penuh amarah, "aku... 1 tahun menikah sama kamu... 1 tahun sya tapi aku belum pernah melihat kamu sumringah bahkan banyak bicara seperti tadi. Aku pikir memang karakter kamu pendiam tapi aku salah. Aku liat sendiri dengan mata aku betapa bahagianya kamu ketemu om danu"


"itu karena aku udah lama ga ketemu mas, lagipula dia satu-satunya keluarga yang aku punya" Nasya masih bicara lembut walaupun berusaha menahan amarah


"apa kamu bilang? satu-satunya keluarga yang kamu punya? lalu aku? mami papi bang zaki? kamu anggap apa?" tanya araf penuh emosional


"mas kamu ini kenapa sih? kamu jangan suka mencari alasan memulai pertengkaran sama sekali ga lucu" Nasya bangkit dan membalas tatapan araf


"aku ga sedang cari alasan aku bicara fakta sya... betapa sakitnya aku... cemburunya aku... melihat kamu bahagia banget bahkan waktu kamu tau kamu hamil anak kita kamu ga sebahagia itu!!! tapi tadi..." araf berbalik dia pun kesal bukan main kemudian melempar gelas kopi yang disuguhkan nasya, "ahhh....." teriak araf


"sekarang kamu tau apa rasanya cemburu? sakit bukan!" Nasya berucap dengan deraian airmata. Araf berbalik melihat nasya yang biasanya tegar dan kuat kini menangis.


"sya... maaf bukan maksud aku bikin kamu nangis... aku..."

__ADS_1


"setiap kamu bilang kamu lembur kamu pulang dengan pakaian wangi parfum perempuan, bahkan dikerah leher kamu pernah aku temuin bekas lipstik. Aku tanya sama kamu apa aku ga boleh cemburu?"


"hah..." araf terkejut


"jangan suka mencari alasan untuk membuat pihak lain lebih bersalah mas. Aku diam bukan aku ga peduli, aku diam karena ga mau kita bertengkar. Aku memahami betapa lelahnya kamu kuliah sambil bekerja. Aku ga mau menambah beban kamu dengan pertanyaan konyol yang bisa membuat kamu bertambah beban pikiran" ucap nasya penuh penekanan


"sya kita lagi bahas kamu loh kenapa disini jadi aku yang seperti tersangkanya ya. Gila bener-bener gila aku lama-lama"


"Kamu pikir sendiri pernahkah dalam pernikahan kita aku menuntut kamu untuk melakukan sesuatu yang memberatkan kamu? Aku belajar untuk memahami kamu tapi kamu ga! apa aku mengeluh?" Nasya menatap tajam pada suaminya


"aku selama ini bekerja keras agar aku bisa sukses dan membahagiakan kamu sya... aku ga seperti yang kamu pikirkan!"


"memangnya apa yang aku pikirkan? mas jika suatu saat kamu sukses kamu tidak akan pernah puas hanya dengan miliki aku bicara dari sekarang agar aku paham dan bisa tau harus bagaimana melangkah"


"laki-laki sukses dia bisa mencari berapa pun wanita yang dia mau. Tapi wanita sukses memikirkan lelaki aja no" nasya bicara dengan mendekatkan wajahnya pada araf.


"so, kamu mau jujur atau ga sama aku terserah kamu. Kamu tau aku ga akan banyak bicara maupun pertanyaan. Silahkan kamu pikir sendiri aku atau kamu yang berbuat salah disini!" sambung nasya


"sya... kamu kenapa jadi begini sih! aku cemburu sama om danu lalu kenapa kamu malah tuduh aku yang ga-ga?"


"sepertinya kita butuh introspeksi diri mas, lama-lama hubungan kita bisa ga sehat kalau saling menuduh"


"sya..." araf memanggil nasya saat nasya beranjak ke kamarnya. Dia ga mengunci pintu araf masih bisa mengejar nasya. Ditariknya tangan nasya hingga tanpa sengaja araf menarik keras tangan nasya. Tubuh nasya memeluk araf dengan keras.

__ADS_1


"udah ya aku ga mau kita bertengkar lagi sya, sakit hati aku karena cemburu. Aku ga mau tambah sakit dengan melihat kamu seperti ini" araf menangis memeluk nasya. Nasya sendiri sudah tak terhitung berapa bulir airmata dia keluarkan.


Araf memegang pundak nasya, "sya aku akui aku lembur bertemu klien ditempat hiburan malam. Klien ini sangat penting untuk perusahaan kita sya dia minta aku entertain dia di tempat seperti itu. Kamu tau sendiri tempat seperti itu banyak gadis-gadis salah satunya mencoba mendekati aku. Namanya erika dia membantu aku merayu big boss ini"


"carilah rizky yang halal mas, perbanyaklah amal jariyah bukan dosa jariyah. Aku ga pernah menuntut kamu untuk jadi sukses didunia. Aku mau kita sukses diakhirat"


"iya sya... maaf aku..."


"berhentilah meminta maaf mas. No point ketika kamu meminta maaf kemudian kamu mengulanginya lagi. You are not serius" Nasya menggeleng kemudian beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.


Setelah selesai nasya menyiapkan pakaian araf dan menaruhnya disisi tempat tidur. Sekeluarnya araf dari kamar mandi dia hanya bisa menatap punggung nasya yang tidur dengan membelakanginya.


Araf merebahkan dirinya dibelakang nasya tanpa berniat memeluk nasya.


"hubungan kita ga akan mudah hancur karena orang ke-3 mas jika kita ga buka peluang untuk mereka masuk. Pikirkan baik-baik jangan selalu minta maaf. Karena permintaan maaf ga akan menyelesaikan masalah"


Araf menatap punggung nasya dia hendak memegang nasya namun urung dia lakukan.


"tidurlah besok kamu ada ujian. Lupain malam ini aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi. Aku cinta kamu sya. Aku benar-benar bisa gila kalau kamu berpaling dari aku" ucap araf pelan


"hufff.... aku terlalu mencintai kamu sya" sambung araf lirih.


"kita masih terlalu muda dan naif jangan bicarain cinta kalau kamu sendiri belum yakin" nasya bicara sambil memejamkan mata. Araf hanya mendengar tanpa membantah. Dia sudah terlalu lelah dengn rasa kesal dan marah didadanya. Dia pun hanya bisa terus mengambil nafas dalam-dalam. Araf tidur memunggungi nasya.

__ADS_1


Setelah kejadian itu araf dan nasya semakin jarang bertemu karena araf jarang sekali pulang tepat waktu dia akan pulang lewat tengah malam dan pergi pagi-pagi sekali setelah nasya mempersiapkan sarapan. Mereka nyaris tidak pernah bicara. Nasya merasa sedih dengan keadaan ini namun setiap dia mengirim pesan pada araf lelaki itu jarang sekali membalas nasya hanya bisa pasrah fokusnya saat ini adalah ujian sekolahnya. Setelah selesai ujian nasya akan mencoba bicara pada araf.


__ADS_2