
**Cinta datang 2 arah
saling bertemu dan terbiasa
cinta tak selalu manis, dia juga pahit
Jika cinta menjadi rumahnya
Kesetiaan adalah tiangnya
Sedang kejujuran adalah atapnya
Kebahagiaan tak bisa diraih sendiri
Namun diusahakan bersama
💓💓💓💓**
Berbagai keadaan telah dihadapi annasya dan araf bersama menghadapi kehamilan nasya yang tak biasa. Dari mulai seringnya dia lupa, sesak nafas bahkan sakit kepala. Seringnya nasya keluar masuk rumah sakit untuk diopname pun araf selalu setia menemani nasya.
Araf tak sedetik pun absen menemani nasya, urusan kantor dia kerjakan dirumah. Sedangkan yang dikantor ditangani daffa sahabatnya dan billy asistennya. Sesekali papi membantu jika daffa dan billy tak bisa menemani. Danu dan faiqa juga sering mengunjungi nasya. Danu kini tak sesering dulu bertugas ke luar negeri. Kini dia fokus pada faiqa dan program memiliki anak.
Saat malam nasya tertidur dalam keadaan duduk araf merasa kasihan sekali melihatnya. Sudah 9 bulan 10 hari tinggal menunggu nasya melahirkan. Tubuh nasya yang terlihat chubby sebenarnya terlihat sangat imut membuat araf gemas. Dia membelai pipi nasya lembut menyingkirkan rambut yang menutupi wajah pucatnya yang kurang tidur semenjak kehamilannya memasuki trimester ke-3.
"Maaf sayang membuat kamu menjadi begitu menderita disetiap kehamilan kamu. Ini yang paling aku takutkan kalau kamu hamil" Araf memeluk nasya dalam dekapannya.
Baru saja araf hendak memejamkan matanya nasya terlihat meringis karena sakit perut hebat yang dirasakannya, "isshhh ya Allah mas...."
"kenapa sayng?" araf panik melihat nasya meringis kesakitan.
"mas aku mau pipis tapi juga mau pup sakit banget perutku" ringis nasya.
"kita kerumah sakit aja ya" araf langsung bangkit dari tempat tidur mengambil tas yang sudah disiapkan jaih-jauh hari.
Saat nasya turun dari tempat tidur dia merasakan ada aluran keluar dari daerah intimnya, "mas... aku pipis"
__ADS_1
"tapi kayanya bukan pipis ini ketuban lengket banget" ujar nasya masih dalam mode santainya.
Araf mendekat memakaikan kerudung untuk nasya, "masih kuat jalan?"
"aku ganti dulu mas, lengket ga enak"
Araf dengan cepat mencopot baju tidur dan celana dalam yang dikenakan nasya dengan cepat memakaikan celana dalam yang baru dan gamis. Setelah menaruh pakaian ke box cucian kotor dia menghampiri nasya
Nasya merentangkan tangannya araf menyambut dan memapah nasya sampai ke garasi. Dengan tertatih nasya dipapah araf menuju mobil. Bi minah membantu araf dengan cekatan dia membantu memapah dan membawa barang yang sudah disiapkan.
Nasya duduk dibelakang bersama bi minah sedang araf menyupir dengan kecepatan tinggi ke sebuah rumah sakit. Nasya sesekali meringis tapi di mencoba olahraga nafas agar sedikit rilex. Sesampainya di rumah sakit araf segera membopong nasya, sedang suster sudah ada yang membawa brankar untuk meletakkan nasya.
"mas..." dengan suara lemah nasya menggenggam tangan nasya.
"iya sayang aku disini" ucap araf menenangkan istrinya.
Dokter yang memeriksa keadaan nasya segera meminta araf bicara diluar, "pak araf sepertinya istri anda tidak bisa melahirkan secara normal karena darahnya rendah juga air ketubannya pun sudah kering. Kita harus segera melakukan operasi caesar agar bayi dan ibu selamat"
"lakukan yang terbaik dokter" ucap araf yang sudah sangat panik melihat keadaan istrinya yang makin pucat menahan sakit. Araf segera masuk dia menggenggm tangan nasya. Nasya merasa senang melihat araf fia mengulurkan tangannya kirinya karena nasya sedang miring ke arah kanan.
"iya sayang, sakit banget ya?" tanya araf lirih dia mengelus perut istrinya nasya hanya mengangguk. Walaupun merasa sakit nasya sangat tenang tak seperti para tetangga yang di sana ada yang menangis, histeris bahkan memaki suami mereka. Namun tidak dengan nasya yang terus mengolah nafas sambil berdzikir melihat itu araf menangis sambil memeluk nasya. Hatinya sangat pilu melihat kondisi nasya. Nasya yang menyadari araf mennagis dia mendongak ingin melihat suaminya yang menangis yang kepalanya berada diceruk leher nasya.
"mas kok kamu malah nangis?" tanya nasya yang menepuk punggung araf
Belum menjawab pertanyaan nasya leni dan bayu sudah masuk ruangan ditemani bi minah. Leni menepuk pundak araf, "raf kalau kamu ga kuat biar ibu aja yang nemenin" tutur kata lembut leni membuat araf bangkit melepas pelukannya pada nasya.
"sayang aku keluar sebentar ya" pamit araf pada nasya yang diangguki oleh nasya. Araf pun bergegas keluar diikuti bi minah dan ayanhnya.
"gimana keadaan kamu sayang?" mami mengelus perut buncit nasya yang berisikan janin 3 nyawa.
"sakit banget mi..." ringis nasya wajahnya sangat merah karena menahan sakit yang luar biasa ini.
"sabar ya sayang" leni mencoba menenangkan nasya.
Diluar araf meminta bi minah pulang diantar supir orang tuanya. Setelah kepergian bi minah araf duduk dibangku ruang tunggu badannya lemas seketika bahunya berguncang.
__ADS_1
"raf..." bayu duduk disamping anak bungsunya menenangkan anaknya yang sedang menangis.
"pi... kenapa papi sama bang zaki bisa tenang menghadapi istri kalian melahirkan?" araf memandang papinya dengan wajah sendu.
"karena emang kita yang harus menjadi kekuatan istri kita saat melahirkan. Dia yang menahan sakit kitalah yang harus menguatkan" terang bayu yang diangguki araf
"aku ga bisa tahan pi lihat nasya seperti itu" araf berucap dengan suara parau
"jika hanya melihat aja kamu ga kuat gimana mereka yang menahan sakit" araf menoleh pada bayu.
"kamu tuh harus kuat supaya istri kamu juga lebih kuat" sambung bayu. Araf mengusap wajahnya kasar menghela nafas dalam.
"dah sana masuk pasti nasya lebih butuh kamu dari pada mami"
"iya pi makasih ya pi" bayu mengangguk kemudian araf betdiri dan masuk lagi kedalam ruangan.
"mas...." lirih nasya terdengar manja
"ya sayang..." araf beralih memeluk nasya yang masih miring
"raf mami sama papi diluar ya"
"iya mi, makasih ya mi"
"iya sayang"
Araf membelai lembut wajah nasya yang terus berdzikir sambil sesekali mendesis atau mengeluh karena sakit sampai menangis.
"pak araf bu nasya akan segera kami bawa bapak bisa menunggu diluar" salah seorang suster datang mengintrupsi araf. Ataf pamit pada istrinya setelah menvium kening istrinya dia pun beranjak meninggalkan istrinya.
Hampir 2 jam araf menunggu diruang operasi dia, bayu dan leni terus berdoa untuk kesehatan nasya dan bayinya. Setelah menunggu 2 jam akhirnya dokter pun keluar, "tuan..." dokter memanggil seketika araf dan yang lainnya menoleh.
"bisma gimana keadaan menantuku?" tanya bayu
"ibu dan bayi sehat-sehat aja. Alhamdulillah bayinya laki-laki semua mereka ada 3 bayi" terang dokter
__ADS_1
"alhamdulillah" semua mengucap syukur