Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 71


__ADS_3

Acara pengajian berjalan lancar, semua kolega papi, zaki, araf dan beberapa teman sekolah berdatangan memberi semangat. Nasya sedang menggendong bayi mungil gibran dikamar bersama hana, vita dan nita mereka berkumpul sedang yang lain diluar bersama para tamu.


"bahagia banget ya han punya baby mungil begini ihhh jd pengen cepet punya anak deh" vita berucap samb memonyongkan bibirnya.


"nikah dulu baru mikir anak" nita bicara sambil memasukkan cemilan kedalam mulutnya.


"eh nasya katanya u ambil jalur akselerasi ya?" nita bertanya karena penasaran dengan berita yang fia dengar dari teman-temannya.


"wahhh gosip dah nyebar kemana-mana ya" ujar nasya masih dengan menggendong gibran yang tertidur nyenyak dipelukannya.


"gue akuin sih lu itu jenius makanya lu bisa lulus lebih cepat" nita duduk menghadap ke arah vita dan hana


"aku pengen lekas lulus kuliah dan jadi dokter karena aku pengen program untuk punya baby. Mas araf janji kalau aku lulus kita jalanin program" vita, nita dan hana mengangguk mendengar penjelasan nasya.


"kenapa sih lu ngebet banget pengen punya anak?" kali ini hana yang bertanya


"aku pengen punya banyak anak supaya ga kesepian" nasya tersenyum pada teman-temannya yang memandang kemudian saling pandang.


***


"raf..." fariz mendekati araf


"hmmm" araf mendekatkan telinganya pada fariz


"ada yang mau gue omongin"


"kita ke ruang kerja bokap gue diatas" araf berjalan mendahului yang diikuti oleh fariz.


Araf menaiki setiap undakan untuk menuju lantai 2 rumah orang tuanya. Setelah berbelok melewati 2 kamar araf membuka ruangan paling ujung dikoridor. Araf mengambil posisi duduk disofa kulit diikuti fariz, "ini chip ada alat penyadapnya gue dah periksa. Gue rasa dirumah lu ada mata-mata"


"apa si tukang kebun itu ya? soalnya yang ngasih pin ini si tukang kebun rumah gue" araf berasumsi sendiri.


"kita ga bisa nuduh orang tanpa bukti raf, bisa jadi dia cuma beneran nemu. Kita harus lebih waspada lagi raf ternyata dirumah lu sendiri sekarang ga aman" araf mengangguki ucapan fariz


"gue harus kabarin om danu"


"gue liat tadi om danu dateng"


"sekarang waktunya ga pas untuk ngomkngin soal ini. lu tau sendiri kan sekarang lagi ada acara" Fariz menghela nafas sambil menaikkan alisnya.


"besok gue coba untuk bicara sama om danu dikantor" lanjut araf


"gue ada rencana raf"


"apa?"

__ADS_1


"gue mau periksa selurih rumah lu apa ada kamera tersembunyi atau alat penyadap kalau ga ada gue pasang untuk nyari tau siapa yang jadi mata-mata dirumah lu" fariz mencondongkan tubuhnya ke arah araf.


"boleh tapi gue harus kosongin dulu dong rumah gue?" Araf berucap sambil berpikir


"ga perlu raf, gue akan pura-pura jadi tamu lu dan nginep beberapa hari"


"ok gue setuju"


"gue hrus mastiin sendiri kalau rumah lu aman"


"thanks riz lu udah bantu gue banyak"


"ga usah sungkan kita kan temen"


Araf tersenyum pada fariz.


Araf baru kelur dari ruang kerja dia melihat nasya yang juga kelur dari kamar zaki. Dia tertunduk lesu sesekali melepas nafas dalam. Araf memperhatikan nasya yang terlihat tak bersemangat. Dia berjalan lunglai ke arah kamar miliknya. Araf mengikuti nasya dari belakang. Tanpa nasya sadari araf pun ikut masuk kedalam kamar mereka. Nasya merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"kayanya lelah banget ya sayang" tanya araf membuat nasya kaget langsung terlonjak dari tempat tidur.


"mas ngagetin aja!" Nasya berbalik dan merebahkan diri lagi diatas kasur.


"kenapa? hmmm?" araf berjongkok dihadapan nasya dan membelai pipi nasya lembut.


"ya udah istirahat ya kita pulang besok aja" nasya tersenyum pada suaminya, "aku keluar dulu ya" lanjut araf yang diangguki nasya.


Araf pun beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar kamar. Saat dia diruang tamu dia melihat danu didepannya. Dia pun mendekati danu menyalami, "loh katanya om ke pakistan ga jadi?"


"ga raf cancel. Karena ada yang hrus diurusin dulu disini" danu menjawab yang diangguki oleh araf.


"urusan apa dan? kamu mau nikah?" papi ikut nimbrung dan duduk disamping danu


"mas bayu ini kalau ngomong. Belum mas aku belum ada rencana" ucap danu tersenyum pada bayu.


"anak orang jangan digantungin terus om, lekas ksih kepastian" araf menyela ucapan danu


"loh emangnya kamu udah ada calon dan?" kali ini mami yang baru datang sambil membawa minuman hangat bertanya.


Danu menaikkan alisnya sedang araf dengan santai mengambil secangkir kopi, "udah ada mi tapi om kayanya ga suka deh sama itu cewe"


"kamu kenal raf?" papi jadi penasaran


Araf mengangguk setelah menyesap minumannya dia menaruh cangkir diatas meja.


"iya kita pernah ketemu waktu aku mau dinner sama nasya" araf menjelaskan.

__ADS_1


Leni dan bayu melirik tajam pada danu. Seperti orang yang tidak punya salah danu hanya meminum kopinya dengan santai.


"ga mau ksih penjelasan dan?" mami mendesak danu


"penjelasan apa mba wong belum jelas juga" dengan santainya danu berucap


"makanya dijelasin om"


"mau sampai kapan kamu begini danu, kalau kamu memikirkan nasya dia sudah bahagia dengan kami. Waktunya kamu memikirkan diri kamu danu" mami mencoba bijak


"ga mudah mba buat aku. Aku kenal dia juga udah lama banget hampir 10 tahun tapi sampai saat ini ga ada perasaan apa-apa"


Papi mendekati danu merangkul pada adik temannya itu, "cobalah untuk membuka hati danu. ga mudah memang tapi kamu juga ga bisa terus-terusan hidup seperti ini"


Mami menatap pda araf yang duduk disisinya, "raf memangnya perempuan itu siapa sih?" tanya leni penasaran.


"namanya... fai... ahhh siapa ya lupa mi.."


"faiqa" danu menyahuti


"ahhh iya... faiqa mi, keliatanya sih seumur abang deh pi" araf melanjutkan.


"cantik ga?"


"emang penting apa mba cantik atau ga" danu melirik pada leni


"diem aja kamu kalau nyari info melalui kamu ga akan pernah dapet" leni sinis pada danu


"cantik mi tinggi, langsing, rambutnya lurus panjang sepinggang"


"wahhh lu muji-muji cewe lain saat nasya ga ada. Kalau gue aduin gimana ya?!" zaki yang baru datang ikut nimbrung.


"ga usah usil bang"


"penasaran jadinya sama perempuan yang udah ngejar-ngejar danu sampai 10 tahun lamanya" papi berucap sambil memainkan dagunya.


"namanya faiqa subroto, dia anak atasan saya. Saya kenal dia dari masih smp" Danu memberi penjelasan pada lina dan bayu


"wahhh jarang-jarang loh danu mau kasih info" mami tersenyum merasa senang.


"kan aku bilang kak aku sendiri aja belum yakin"


"kenapa?" tanya bayu


"entahlah masih sulit membuka hati"

__ADS_1


__ADS_2