
**Waktu serasa terhenti
Bayangan kau menyakitiku tak pernah mau menjauh
Rasanya seperti memakan empedu ular
Rasa pahit tak juga mau hilang
Hatiku sakit
Tunggu apa aku boleh mengeluh?
Untuk kali ini saja
💔💔💔💔**
Araf masih di rumah sakit menunggu erika sadar. Untungnya darahnya dan erika sama hingga dia bisa mendonorkan darahnya pada erika. Araf duduk disofa sambil memejamkan matanya menatap nanar pada langit-langit rumah sakit. Dia terus teringat isak tangis nasya sesaat sebelum dia pergi, "Ya Allah apa yang sudah aku lakukan? Istriku terluka" araf memejamkan matanya sambil memijat kepalanya yangbterasa sangat berdenyut.
Semalaman araf menunggu erika di rumah sakit, Saat eruka sadar dia melihat araf duduk disofa sambil tertidur. Erika tersenyum melihat araf begitu perhatian padanya. Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu.
tok... tok... tok...
Araf kaget dia pun terbangun, saat mnegerjapkan matanya dilihatnya erika sudah sadar. Dia pun beranjak dan menghampriri erika, "kamu udah sadar? aku panggil dokter dulu ya" Erika mengangguk
Saat araf hendak keluar polisi sudah ada didepan kamar araf menyambut polisi itu, "selamat siang pak araf!"
"siang pak polisi"
"kami kesini ingin meminta keterangan soal pengeroyokan terhadap anda kemarin"
"owh baik pak silahkan"
3 jam kemudian polisi sudah pergi meninggalkan araf dan erika.
Araf berjalan ke arah erika, "erika hari ini aku harus pulang nanti aku akan minta salah 1 suster untuk jaga kamu. Kamu harus lekas sembuh ya"
"pak araf..." panggil erika lembut
"ya..."
"apa istri anda tau mengenai kita?"
"hufff... iya..." jawab araf sambil menunduk "udah ga usah dipikirin nanti biar aku yang urus sendiri masalahku. Kamu lekas sembuh biar kita bisa selesaikan ini"
"pak... maaf..."
__ADS_1
Araf mengangguk, "ok saya pergi dulu. Kalau ada apa-apa telepon saya"
Araf bergegas keluar dari rumah sakit, dia ingin segera pulang dan menjelaskan semuanya pada nasya.
***
Sesampainya araf dirumah dia berpapasan dengan zaki dan hana. Hana masih terlihat sinis dengan araf, berbeda dengan zaki yang menyapa araf, "hai raf baru pulang?"
"iya bang" araf melempar senyum kemudian beranjak kekamarnya diatas. Saat dia membuka pintu dilihatnya nasya yang sedang merapikan tempat tidur. Dia terlihat sudah rapi dengan gamis pink fuschia dan kerudung berwarna senada.
"Assalamu'alaikum..." ucap araf sambil memeluk nasya. Nasya melirik tajam pada araf, "wa'alaikumsalam"
"kamu mau kemana sya? kok rapi banget?" tanya araf, mengendus nasya namun nasya menyingkir, "wangi banget"
"aku kan udah wa kamu mas. Kamu sendiri yang bilang kan yang penting aku dah ngabarin kamu" jawab nasya cuek
Araf melihat ke ponselnya benar saja ada pesan dari nasya, "kamu mau jalan sama om danu?"
"om danu baru datang ke jakarta lagi"
"kalau aku ga kasih izin?" araf melipat tangannya didepan dada.
Nasya diam sejenak dia berdiri dan menoleh ke arah araf, "ok" jawab nasya singkat.
Nasya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang, "assalamu'alaikum om.... sepertinya cancel dulu om pertemuannya aku ga dapat izin dari araf" ucap nasya pada orang yang ada diaeberang telepon.
Nasya beranjak dari kamar ke arah ruang ganti mengambil kaus dan celana pendek araf, "ini baju gantinya mas"
Setelah menyerahkan kaos dan celana nasya beranjak, "sya kita jalan yuk"
Nasya mngangguk tanpa menoleh, "aku tunggu diluar" ucap nasya singkat
Araf pun mengganti pakaian setwlah itu menghampiri nasya yang sudah menunggunya diruang tengah.
"ayo sayang" ajak araf. Nasya berjalan mengikuti araf.
Sepanjang perjalanan nasya hanya diam memandang keluar jendela. Sedang araf memutar otak bagaimana caranya untuk mendengar ocehan nasya.
"sya..." panggil araf lembut
"ya..."
"maaf"
"ya"
__ADS_1
"kamu pastih marah bnget ya"
"ga kok santai ja"
"kamu ga minta penjelasan sama aku? kenapa aku lakuin ini ke kamu?"
"kalau kamu mau jelasin ya jelasin ja mas. Kalau ga bisa jelasin buat apa juga aku ga mau maksa" ucap nasya dingin.
"ya Allah dia kembali pada nasya yang dulu, yang begitu dingin dan kaku" batin araf sambil memijat pelipisnya.
"memangnya kamu ga penasaran?" tanya araf sambil tersenyum berusaha menggoda nasya.
Nasya menoleh ke araf, "ga sama sekali mas"
Araf mengerem mobilnya ketepi dia merasa frustasi menghadapi nasya, "sya... jangan seperti ini"
Nasya menatap pada araf, "aku harus gimana?"
"Senggaknya kamu tanya sama aku kenapa aku begini ya... wajarnya seirang wanita seorang istri bertanya ke suami, ini kamu ga. Kamu itu sayang h sih sama aku!"
"mas mau jelaskan aku tunggu. Mas ga mau jelasin ya udah. Apalagi yang harua diperdebatkan mas" jawab nasya santai
"hah..." araf memandang nasya tak percaya, "sya begini.. aku mau kamu marahain aku... kamu... kamu pukul juga gapapa!"
"capek-capekin diri aja mas. Marah hanya akan melemahkan hati. Memukul suami? aku ga diajarkan untuk ga sopan mas"
"sya... dengan kamu seperti ini aku jadi ga tenang aku malah merasa semakin bersalah. Atau jangan-jangan kamu ga ada rasa cinta sama aku makanya kamu ga marah sama aku?"
"jangan pernah membuat asumsi sendiri mas. Aku selalu positif thingking kalau kamu ga melakukan itu. Suatu hari kamu pasti akan kasih aku penjelasan kamu sendiri yang bilang akan menjelaskan setelah selesai. Sekarang kenapa malah kamu uring-uringan sendiri seperti ini!" Nasya bertanya blik pada araf.
Araf menatap ke depan menghela nafas panjang matanya merah karena kesal dengan sikap dingin nasya. Nasya memejamkan matanya.
"rasa sakit pasti aku rasakan mas, tapi terlalu sulit untuk aku meluapkan semuanya. aku hanya ga mau kita terus saling menyakiti aku lebih memilih diam dan menunggu. Karena aku ga mau ngerasain yang lebih sakit lagi"
Araf menatap pada nasya dengan wajh putus asa. "aku harus lekas selesaikan ini" batin araf kemudian dia menjalankan lagi mobilnya. Mengajak nasya kesebuah taman hiburan dan mengajak nasya dinner. Namun dia tidak menyangka jika ditaman hiburan dia bertemu dengan danu. Nasya terlihat sumringah dia terlihat berbeda dengan nasya yang terus diam sepanjang jalan.
"om kok ada disini?" tanya nasya yang berlari ke arah danu dan bergelayut manja. hal yang tak pernah nasya lakukan padanya selama dia menjadi istrinya.
"ternyata hanya dia yang bisa membuat kamu bahagia sya" gumam araf melihat nasya tersengum lebar.
***
Hatiku tetap disini tak kan lari kemana
Namamu tetap terukir sangat dalam
__ADS_1
Terlalu dalam hingga seperti dipahat abadi