
Saat makan siang nasya, araf dan danu menepi ke sebuah resto pinggir pantai. Danu sejak tadi memperhatikan nasya dan araf yang canggung seperti mereka bukan suami istri. Bahkan nasya seperti lebih bebas bersama danu dan kaku saat bersama araf. Saat nasya sedang makan danu memperhatikan dua ponakannya itu, "kalian baik-baik aja kan?"
Nasya menatap pada om-nya dan mengangguk sambil memyuapkan yong tou fu soup ke mulutnya. Danu tersenyum melihat nasya sangat lahap. Danu memperhatikan araf yang sejak tadi terlihat muram dan sesekali menghela nafas dalam-dalam. Setelah makan nasya pamit ke toilet.
"ada apa dengan kamu dan nasya raf?" tanya danu.
Araf masih enggan menatap pada danu, "masalah rumah tangga om" jawab araf enggan
"Apapun masalah kamu nasya udah memilih kamu menjadi imamnya, jadilah imam yang baik jangan kecewakan dia"
"bagaimana dengan aku om?" tanya araf menatap tajam ke arah danu
"hmmm memangnya nasya membuat kamu sakit hati?" tanya danu membalas tatapan araf dengan lembut
"Nasya sangat berbeda saat bertemu om dan saat bersama aku. Dia terlihat sangat bahagia saat bersama om dia bergelayut manja. Banyak bicara, banyak tersenyum heh.... sungguh sangat jauh berbeda om"
"Perlahan araf...." ucap danu sambil mendekatkan diri pada araf.
"kami udah 1 tahun lebih om menikah"
"om butuh waktu hampir 2 tahun untuk bisa dekat pada nasya ditambah kami tidak tinggal serumah"
"serius om?" tanya araf sambil membelalakkan matanya dan diangguki oleh danu.
"nasya bukan orang yang mudah didekati dan dipengaruhi dia terlihat seperti dinding besi yang kokoh tapi sebenarnya dia sangatlah rapuh. Kamu harus bisa memjadi sandaranya jangan menjadi bebannya"
Araf mengangguk saja mendengar penuturan dari danu tentang nasya. Saat nasya selesai dari toilet mereka berhenti untuk bicara. Tak lama kemudian ponsel araf berbunyi dia memohon izin pada danu dan nasya untuk terima telepon. Danu melihat nasya yang memperhatikan araf dengan wajah kecewa dan sedih. Danu seperti ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
5 menit kemudian araf memdatangi danu dan nasya di meja mereka, "om maaf sepertinya saya masih banyak urusan saya dan nasya pamit dulu"
"aku masih mau disini mas" ucap nasya yang enggn beranjak
__ADS_1
"tapi..."
"please untuk kali ini aja izinkan aku" ucap nasya sambil menatap malas pada araf
"ahh... baiklah... om aku titip nasya ya om" ucap araf kemudian dia pergi mwninggalkan mereka setelah mendapat izin dari danu.
Danu menatap pada nasya yang terlihat muram dan tak bersemangat saat mereka berjalan bersama, "ada apa nak?" tanya danu. Nasya hanya tersenyum kemudian menggeleng.
"om sedih jika melihat kamu menyembunyikan sesuatu dari om, sepertinya om bukan orang penting lagi ya untuk kamu nak"
"bukan begitu om masalahnya ini kan urusan rumah tangga nasya ga mau masalah rumah tangga semua jadi tau" ucap nasya menunduk.
"sayang apapun masalah kamu om percaya kamu bisa selesaikan kalau kamu butuh saran dengan senang hati om akan memberi saran"
"om..." nasya memandang sendu pada danu
"ya sayang..." sahut danu
"kalau suatu saat kami harus berpisah bisa ga om bawa aku pergi jauh?"
Nasya mengangguk mengerti dia manatapa kosong pada jalan yang dia tapaki bersama danu. Setelah selesai shalat ashar dia menunggu danu yang juga sedang memakai sepatu. Nasya melihat sepasang suami istri bercanda tawa duduk berdua dengan suaminya yang sedang menggendong bayi mereka dan istrinya memberi minum jus pada suaminya dan mengelap bekas minum mereka.
"ayo sya..." ajak danu yang melihat nasya melamun
"ahh iya om..." sahut nasya
"habis ini mau kemana?" tanya danu
"mau pulang om nasya capek" ucap nasya dengn wajah memelas.
"ya udah om antar ya"
__ADS_1
Nasya mengangguk senang mereka berjalan berdampingan dengan nasya masih bergelayut manja pada danu menuju parkiran mobil.
Sesampainya dirumah danu langsung pergi begitu saja. Hana yang melihat ke arah nasya bertanya, "diantar siapa sya?"
"om danu"
"owh om kamu itu" Nasya mengangguk hana tersenyum setelah berbasa basi sebentar pada hana nasya pamit ke kamarnya.
Sesampainya di kamar nasya melihat ke arah ponselnya. Dia mengirim pesan pada araf
imamku:
Suamiku izinkan aku untuk menjadi niqob squadmu
ketika kamu lelah izinkan pundakku untuk menjadi tempatmu bersandar
ketika kamu sakit izinkan aku menjadi dokter yang merawatmu, ibu yang mengkhawatirkanmu dan anak yang meratapimu namun tetap seorang istri yang selalu ada disisimu dalam sedih maupun senang
Suamiku aku percaya semua yang kamu lakukan untuk kita bersama. Maafkan ketidak mengertianku padamu jangan marah lagi padaku karena aku takut malaikat akan melaknatiku jika kamu masih marah dan bermuram durja. Maafkan ketidak mampuanku menjadi seorang istri yang masih banyak kekurangan
Ketika kamu ga punya apa-apa lagi jadikan aku sebagai satu-satunya harta paling berharga didalam hidupmu. Yang selalu membuat dirimu puas hanya dengan memilikiku bukan harta duniawi. kita mungkin akan melalui banyak hal dengan sebuah pertengkaran tapi ingatlah selalu janjimu saat menikahiku aku adalah selimut bagimu dan kamu adalah selimut untukku. Aku tidak butuh hartamu, yang kubutuhkan peluk erat aku dengan sepenuh keimanan.
💓💓💓💓
Nasya mengirim pesan tersebut pada araf dia tersenyum semoga hal ini bisa menyelesaikan masalah mereka.
Araf sedang nerada dikantornya saat sebuah pesan masuk dari nasya awalnya dia hanya melirik saja namun karena penasaran dia pun membukanya. Araf tercengang dengan banyaknya tulisan dipesan nasya. Baru kali ini dia menerima banyak tulisan dari nasya. Dia pun membacanya dengan seksama tak terasa bulir airmata mengalir dipipinya. Araf menghela nafas dalam-dalam sambil menangis membaca pesan istrinya.
Selesai membaca pesan tersebut araf memutuskan untuk segera pulang. Dia meminta cancel semua meeting hari ini pada sekretarisnya. Dia berlari ke lobby ingin segera pulang bertemu dengan istei solehahnya. Dia mengemudikan mobilnya dwngan kecepatan penuh tak peduli orang yang mengklakson dirinya.
Sesampinya dirumah Araf berlari kedalammm. Bayu dan leni yang melihat memanggil araf, "kamu dah pulang raf? ada yang mau papi bicarakan"
__ADS_1
Araf berbalik dia bersalaman dengan orang tuanya namun segera pamit, "pi setelah araf bertemu nasya araf akan turun dan kita bicara nanti ya"
Araf segera berlari kekamarnya ketika melihat nasya bru selesai mandi dia langsung memeluk nasya dengan erat dan meminta maaf