
Keseharian erika merasa tidak tenang karena dia selalu diawasi oleh nasya atau pun orang tua araf. Dia merasa tidak leluasa dan nyaman. Ditambah dengan melihat araf setiap hari menyaksikan dia tersenyum dan tertawa membuat dia menginginkan lebih. Dia tidak tau sejak kapan perasaan ini bisa muncul namun yang dia tau dia sangat menginginkan araf.
"apa aku masih pantas untuk araf? Dia terlalu sempurna" erika bergumam saat dia melihat araf mencium istrinya dengan lembut sebelum berangkat bekerja.
Erika duduk sendiri dibalkon menatap langit cerah dia merenungi semua. Ada rasa sakit terselip betapa kacau hatinya sekarang. Berulang kali dia berpikir berulang kali pun dia mendapat jawaban jika dia tidak bisa bersama araf.
"kenapa kita dipertemukan kalau pada pada akhirnya aku harus tersakiti huff...." erika bergumam sendiri.
Annasya melihat erika sendiri dibalkon, sudah 3 minggu semenjak erika kembali dari rumah sakit dia tinggal dirumah ini walaupun beberapa kali dia menghadiri sidang bersama araf tapi nasya tak pernah mengizinkan mereka selalu berdua. Annasya pun tak pernah bicara banyak pada erika. Bahkan mereka tak pernah terlibat obrolan berdua.
Annasya berpikir mungkin dia harus mendekatkan diri erika mencoba untuk menjadi teman. Selama ini nasya merasa cemburu tak beralasan. Walau bagaimana pun dia tetaplah istri araf dan dia tau betapa araf mencintai dia lalu apa yang harus ditakuti?
Annasya mendekat pada erika dia memberikan segelas teh padanya, "kenapa melamun disini?"
Erika menoleh dilihatnya nasya mendekat dan memberikan segelas teh padanya, "hanya merenungi nasibku dan sikecil" jawab erika sambil berpaling dari nasya.
"kebahagiaan seorang wanita adalah saat dia bisa menjadi ibu" ucap nasya memandang lurus jedepan.
"ya... jika kamu memiliki keluarga utuh dan harmonis...." jawan erika sedikit sinis
"sebentar lagi sidang putusan..." ucap nasya terhenti swjenak
"aku tau"
"apa rencana kamu selanjutnya?"
"hmmm?" Erika menatap nasya bingung
Annasya balas menatap pada erika, "kamu ga mungkin akan stay terua disini bukan? kamu harus merencanakan masa depanmu dan bayimu"
__ADS_1
"owh... iya..." jawab erika getir. Ada rasa sedih didalam hatinya dia tidak akan melihat araf lagi setiap hari. Apalagi senyum dan kelembutan itu pasti akan dirindukannya.
"sepertinya kamu belum memikirkannya" nasya bicara dengan nada pelan hampir tenggelam tak terdengar
"aku belum tau mungkinbertahan hidup di kontrakan lama dengan sisa tabungan hingga melahirkan dan kembali bekerja diklub" ucap erika santai
"kenapa harus kembali ke klub?"annasya bertanya pada erika karena dia tidak tau jalan pikiran erika. Bukankah karena klub itu juga dia menjadi seperti sekarang ini dan mengalami banyak kesulitan.
"aku hanya lulusan smk usiaku pun udah 25 mau kerja apalagi? yang bisa menghasilkan banyak uang"
"kenapa kamu berpikir untuk bisa memiliki banyak uang? bukankah mendapat keberkahan lebih penting?"
"hahaha...." erika tertawa mendengar ucapan erika membuat nasya bingung"
"kenapa ketawa? apa aku salah?"
"memsyukuri nikmat itu lebih penting"
"ahhh... bagaimana jika suamimu mengkhianati kamu kemudian dia ingin menikah lagi? apa kamu masih bisa bersyukur?" erika mencoba memancing nasya
"kenapa ga? asal jangan berzinah" ucap nasya santai
Erika terdiam mendengar ucapan nasya. Dia tidak menyangka jika nasya bisa sesantai ini menjawab pertanyaannya.
****
Akhirnya sidang putusan sudah dilakukan, alex benetton dan istrinya mendapat hukuman berat. Ini semua tidak lepas dari bantuan danu. Tidak ada yang tidak bisa danu lakukan demi keponakannya. Danu merasa puas sekarang dia bisa bernafas lega.
Erika diam melamun sendiri sejak pulang dari persidangan. Dia diam dikamarnya menangis, "tuhan rasanya berat sekali meninggalkan araf. Hari ini adalah hari terakhir aku disini. Sungguh sakit sekali rasanya cinta bertepuk sebelah tangan" erika menangis dalam diamnya meratapi dirinya, "tunggu..." erika tampak berpikir lagi, "apa iya cintaku bertepuk sebelah tangan? aku harus memastikannya malam ini" ucap erika pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Malam semakin larut araf belum juga kembali dari kantor nasya sudah beranjak dari ruang tengah ke kamarnya melaksanakan shalat isya dan mengaji sebentar sambil menunggu kepulangam araf. Jam menunjukkan pukul 12 malam saat nasya mendengar ada suara pintu terbuka. Dia ingin turun namun dari atas dilihat erika memeluk araf sambil menangis. Nasya melihat suaminya yang tidak membalas pelukan erika namun juga tidak berusaha melepaskannya.
Nasya merasa emosinya hendak meluap namun ditahannya. Dia turun perlahan tanpa sepengetahuan keduanya nasya sudah berdiri dibawah anak tangga.
"Erika tolong lepas kita bukan muhrim aku pun ga mau nanti nasya melihat kita dan jadi salah paham" ucap araf pelan
"sebentar saja raf, aku ingin merasakan pelukan kamu sebelum aku pergi" tangis erika didada bidang araf
"ga boleh erika tolong mengertilah" ucap araf sambil menekan bahu erika yang terbuka karena erika memakai dress model kemben yang hanya menutupi sebagian dari tubuhnya.
"kenapa raf? apa aku kurang cantik? kurang muda? kenapa kamu menolak aku?" tanya erika
"hah apa maksud kamu?" tanya araf bingung mendengar ucapan erika.
"raf aku... aku mencintai kamu. Apa ga ada sedikit pun rasa cinta untuk aku dihati kamu?" tanya erika dalam isak tangisnya
Araf shock tak mampu bicara mendengarnya begitu pun nasya. Tanpa berlama-lama dia mendekat pada keduanya. Nasya berdiri dibelakang erika, araf melihat wajah merah nasya dia tau nasya pasti salah paham batin araf, "sayang kamu..." araf menatap pada istrinya dan ingin menghampiri namun ditahan oleh erika.
"kenapa raf?" tanya erika parau
"tolong jangan begini aku udah ada istri dan aku sangat mencintai istriku. Kamu tau itu" ucap araf sambil melepas genggaman tangan erika dipergelangan tangannya.
"sedikit aja raf..." erika berucap sambil berbalik ke arah araf dan nasya, "sedikit aja apa aku ga ada dihati kamu walaupun sedikit aja"
"masih banyak laki-laki diluar sana yang masih single kenapa harus suami aku?" tanya nasya dingin. Araf memeluk nasya
"karena hanya suami kamu yang memperlakukan aku dengan sangat baik" ucap erika setengah berteriak, "araf aku yakin kita dipertemukan pasti ada alasan ga mungkin hanya karena kasus. Lagipula nasya memperbolehkan kamu untuk memiliki istri lebih dari 1 kok" ucapan erika semakin tak terkontrol. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang.
Araf menatap pada nasya menghela nafas sejenak kemudian menatap lagi pada erika, "erika tolong jangan salah paham. Aku tidak ada niat untuk memiliki istri lagi. Aku sudah sangat cukup memiliki nasya. Sampai sekarang aku merasa dia sempurna tak ada kurang sampai aku harus mencari wanita lain untuk kunikahi lagi. Ayo sayang kita istirahat aku lelah" Araf menarik tangan nasya dan meninggalkan erika sendiri diruang tamu dengan kepedihan dan airmata
__ADS_1