Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 63


__ADS_3

Annasya berjalan menyusuri trotoar danu bilang hendak menjemputnya sepulang kuliah, maka dari itu dia berjalan ke arah halte bus untuk menunggu danu. Sambil duduk dia meminum sebotol teh kemasan sambil membaca buku kesukaannya.


Saat nasya sedang menunggu danu ada seorang wanita menyapa nasya, "assalamu'alikum bu nasya?"


Nasya mendongak dia melihat ke arah wanita yang berdiri dihadapannya, "iya..."


Wanita itu mengulurkan tangannya, "saya adinda sekretaris pak araf. Bisa ikut saya sebentar bu? saya mau menunjukkan sesuatu tentang bapak"


Nasya tampak berpikir, "apa iya dia sekretaris mas araf? tapi kalau ga salah ingat dia yang kemarin keluar dari toko pernak pernik sama mas araf"


"ini kartu nama saya bu kalau ibu ga percaya saya sekretaris bapak" Adinda mengeluarkan sebuah kartu nama kecil nasya menerimanya dan membaca. Setelah itu dia menatap pada adinda.


"sebentar aku kabarin om-ku dulu dia bilang mau jemput" ucap nasya yang diangguki adinda sambil tersenyum.


"assalamu'alaikum om,... om dimana?"


"belum sya kerjaan om belum selesai. kayanya kamu pulang duluan gapapa ya" jawab danu diseberang sana.


"owh gitu kebetulan om ini aku udah ada yang jemput katanya sekretaris mas araf"


"iya sayang hati-hati dijalan"


"siappp om assalamu'alaikum" Setelah mengakhiri teleponnya nasya menaruh ponsel didalam tasnya. Dia pun berdiri mensejajari adinda, "ayo jalan"


"baik bu mari" Adinda merentangkan sebelah tangannya kemudian membukakan pintu mobil bagian belakang. Setelah nasya naik adinda menutup lagi pintu mobil itu dia pun duduk didepan samping supir.


"kita mau kemana?" tanya nasya setelah 30 menit belum juga sampai. Adinda hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan istri bos-nya. Mobil memasuki sebuah komplek perumahan mewah yang disisi kanan terdapat taman sedang sisi kiri terdapat sebuah danau buatan yang indah. Nasya takjub melihatnya apalagi saat melihat bentuk-bentuk rumah yang megah dengan pilar-pilar besar. Rumah-rumah ini sangat besar seperti rumah mertuanya.


Mobil berbelok masuk kedalam rumah dengan pagar besi tinggi yang terlihat sangat megah dengan pagar berwarna coklat. Kemudian berhenti disebuah rumah bergaya klasik dengan pilar tinggi disisi kanan kirinya. Annasya turun saat dia sedang takjub dengan keindahan rumah itu keluarlah keluarganya dari dalam rumah diantaranya mertua dan kakak iparnya hana dan zaki juga danu pamannya menyambut kedatangan nasya. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah dimana araf?

__ADS_1


"selamat ulang tahun sayang" ucap mami sambil mencium pipi nasya begitu pun dengan hana. Sedang zaki dan papi hanya berucap tanpa menyentuh.


"Selamat sayang putri kecil om sekarang udah 16 tahun" danu berucap sambil menepuk puncak kepala nasya.


"jadi tadi om bilang sibuk ternyata om disini" ujar nasya sambil melengos. Danu tertawa melihat tingkah nasya.


"sudah-sudah ayo masuk kedalam" ujar mami sambil menarik nasya sedang zaki memapah istrinya yang sedang hamil besar.


Mereka berjalan ke arah kolam renang yang sudah dipasangi lampu thumbler disetiap pohon. Ada sebuah meja yang sudah ada kue tart berukuran sedang yang sangat bagus dengan hiasan buah dan hati diatas kue tersebut. Terlihat araf berdiri disamping meja memakai kemeja biru yang lengannya dia lipat sampai siku dan celana panjang hitam. Dia tersenyum menyambut kedatangan nasya. Nasya sangat senang sekaligus terharu.


Dia tidak menyangka mendapat kejutan meriah seperti ini dari suaminya saat ulang tahunnya. Nasya takjub dengan keindahan dekorasinya juga rumah yang super besar ini.


Nasya mendekati suaminya, "mas..." nasya tak bisa berkata apa-apa dia sangat senang.


Araf mendekat, "selamat ulang tahun sayang maaf aku pergi 2 hari bukan keluar kota tapi mempersiapkan semua ini" ujar araf jujur.


"terima kasih mas" nasya meneteskan airmata terlihat dari cadarnya yang mulai basah. Araf mengangguk kemudian memeluk nasya dan menepuk punggungnya lembut.


Semua terlihat bahagia dan senang di acara ulang tahun nasya. Nasya merasa seperti mimpi hal yang tak pernah diimpikannya. Selama ini ulang tahunnya tak pernah ada yang ingat bahkan ayahnya saat masih hidup tak pernah merayakan bersamanya jangankan merayakan mengucapkan saja tak pernah. Sedangkan danu hanya mengucapkan lewat telepon dan mengirim hadiah selama 6 tahun terkahir sebelum dia menikah.


Nasya duduk disaung tepi kolam renang, dia tampak menikamati langit malam yang indah bertabur bintang, "subhanallah wal hamdulillah wala ila ha ilallah Allahukabar" dzikir itu terus keluar dari bibir mungilnya karena rasa syukur yang tiada tara yang didapatnya.


Araf memeluk nasya dari samping, "sayang..."


"mas" nasya menoleh pada araf yang sudah ada disamping kanannya.


"gimana? kamu seneng ga?" tanya araf pada nasya yang terlihat semakin cantik karena senyumnya yang membuat araf tak bisa lupa.


Nasya mengangguk, "sangat mas"

__ADS_1


"kita akan segera pindah kerumah ini sayang kamu mau kan?" Araf membelai kepala nasya yang masih tertutup hijabnya. Lagi-lagi nasya mengangguk, "iya " jawab nasya singkat


"mas kapan beli rumah ini? kok aku ga tau ya?" tanya nasya setelah meletakkan kepalanya didada bidang araf.


"Sebelum kita nikah aku udah beli tanah ini dari hasil keuntingam cafe hanya belum pernah terpikir untuk bangun karena dulu aku belum menikah. Setelah menikah aku jadi berpikir untuk membangun rumah ini dengan menjual cafe aku"


"loh kenapa cafe dijual mas?" tanya nasya yang bangun dari pelukan araf.


"aku ga ada waktunya sayang untuk mengelola, lagipula yang beli juga david kok masih temen aku sendiri" jawab araf


"tapi itu kan hasil jerih payah kamu pertama kali apa ga sayang?"


"Sebenarnya sayang tapi mau gimana lagi waktu aku habis untuk ngelola perusahaan dan kuliah. Aku ga bisa luangin waktu lagi. Apalagi kalau sabtu minggu harus ke cafe malah aku jadi ga ada waktu buat kamu" araf memberi penjelasan sambil menatap kedepan.


Nasya mwnggenggam tangan araf, "kenapa ga kamu gabung aja diperusahaan ayah mas?"


Araf menggeleng, "ga sayang sekarang belum waktunya masih banyak yang harus aku benahi dan pelajari untuk sekarang aku fokus mempelajari perusahaan dulu"


Nasya mengangguk kemudian memeluk araf, "makasih mas"


"iya sayang sama-sama"


"ehhh mentang-mentang udah nikah jadi mesra-mesraan terus" danu mendekat pada nasya dan araf di saung.


"eh om..." dengan wajah merah karena malu nasya melepas pelukan araf.


"om mau pamit, tengah malam ini om harus berangkat. Maaf sayang om ga bisa temenin kamu sampai selesai acara"


"yahhh kok cepet banget om" keluh nasya

__ADS_1


"tugas negara sayang"


__ADS_2