
Araf berdiri dijendela kantornya yang menghadap ke arah luar, matanya memandang jauh ke depan. Dia terus berpikir, "apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mertuanya hingga banyak sekali musuh yang ingin menghancurkan perusahaan terlebih nyawa nasya pun dalam bahaya hahh..." gumam araf sembari bernafas perlahan. Ingin ia bertanya pada danu namun danu tak pernah mau memberikan penjelasan apapun. Dia lebih meminta araf untuk melindungi nasya.
Tanpa sepengetahuan nasya ia menyewa bodyguard yang mengawasi 24 jam dari kejauhan. Sampai saat ini memang tak ada gerakan yang mencurigakan, masih dalam batas aman namun danu selalu memperingati agar selalu waspada. Walaupun nasya memiliki bela diri yang lebih baik darinya namun tak ada yang bisa menjamin akan berguna jika nasya terdesak sendiri.
Araf melangkah ke kursinya dan memijat kepalanya merasakan pening memikirkan ini semua. Di satu sisi dia harus bisa menjaga kestabilan perusahaan peninggalan almarhum mertua disisi lain dia tak bisa mengabaikan keselamatan nasya. Ia merasa hidupnya sebagai remaja harus terenggut dengan banyaknya beban yang dia pikul. Walaupun dia dibantu oleh zaki dan daffa namun dia juga masih harus sangat bekerja keras.
tok... tok... tok...
Suara pintu diketuk dari luar membuat lamunan araf buyar, "masuk" perintah araf bersuara keras.
"raf gue mau melaporkan penemuan gue yang agak mencurigakan dari bagian keuangan" daffa masuk dengan menyerahkan 2 tumpuk dokumen.
"apa?" tanya araf yang mulai penasaran.
"ini lu liat deh disini kok ada perbedaan dari dokumen asli yang gue kerjain sama copyan yang diserahin ke dewan direksi ya" Daffa menjelaskan dengan seksama.
"disini lebih banyak biaya-biaya daripada yang disini. Tapi keduanya punya tanda tangan gue sebagai manajer keuangan" lanjut daffa
"yang asli yang mana?" tanya araf sambil memperhatikan kedua dokumen didepannya
"gue punya hard copy yang asli yang gue kerjain" menunjuk kr salah satu dokumen, "ini yang asli"
"raf..." fariz masuk tanpa mengetuk pintu dia langsung mengambil posisi duduk dihadapan araf dan memberikan laptopnya, "kita diserang"
"hah kok bisa?" tanya daffa
"gue udah selidikin ini dari beberapa hari yang lalu ada yang diam-diam beli saham perusahaan disaat harga saham mulai turun. Dan pagi ini entah kenapa saham kita anjlok" fariz memberi penjelasan.
"tapi gue udah dapat bukti siapa tersangka utama yang bikin kegaduhan ini. Diam-diam gue udah cari tau orang ini" fariz mengarahkan laptopnya ke arah araf.
"siapa dia?" tanya araf serius
__ADS_1
Daffa yang memang mengenal orang itu berucap, "dia rio asisten bagian keuangan gue. Dan dia juga yang bantu gue bikin dokumen ini"
Fariz menyandarkan punggungnya di sofa, "yang lebih mengejutkan dia adalah kaki tang mister Alex yang udah lu masukin ke penjara. Yang lebih bikin gue shock adalah..." daffa dan araf menatap fariz serius, "mereka bekerja sama dengan wiryo pakdenya nasya"
"hah! serius lu?" tanya daffa setengah berteriak. Araf memainkan bibirnya dengan jari telunjuk, "udah gue duga riz ini pasti bakalan terjadi"
"maksud lu?" daffa menatap pada araf
.
"saat gue nikahin nasya wiryo seperti ingin menghancurkan om mahesa mertua gue. 2x gue ketemu dia ga ada tatapan hangat atau sekedar basa basi. Gue udah dikasih peringatan sama mertua gue juga om danu untuk lebih hati-hati. Ini baru awal kita harus lebih waspada" araf menatap pada kedua sahabatnya.
"gue butuh bantuan kalian untuk ngelakuin sesuatu. Kita harus bisa mencabut akarnya kalau mau pohonnya tumbang" ucap araf serius pada sahabatnya yang diangguki para sahabatnya.
Setelah kepergian sahabatnya araf menelepon danu, "hallo om ada yang mau aku bicarain kita bisa ketemu?"
"saya punya waktu 2 jam dari sekarang sebelum keberangkatan saya pakistan" ucap danu
"ok"
Setelah mematikan telepon araf melihat keluar jendela tampak gedung-gedung menjulang tinggi. Pemandangan ibukota jakarta menjelang malam begitu indah lampu-lampu jalan mulai menyala. Padatnya kendaraan mulai terlihat, banyak karyawan yang sudah mulai pulang. Termasuk karyawannya yang berada digedung arcmedia miliknya.
Araf menyesap secangkir kopi buatan sekertarisnya sebelum sang sekretaris diizinkannya untuk pulang. Kini dia sendiri didalam ruangan berukuran besar tempatnya untuk terus bekerja keras.
Ceklek....
Suara pintu ruangannya terbuka araf pun menoleh ke arah pintu dia melihat seorang pria tegap tinggi berkulit sawo matang berjalan ke arahnya, "apa yang mau kamu bicarakan raf?" tanpa basa basi danu bertanya sambil mengambil posisi duduk disofa.
Araf mendekati danu menyalami paman istrinya itu kemudian mengambil bukti-bukti yang sudah dikumpulkan oleh fariz, "salah 1 anak buah aku menyelidiki ini om. Hari ini perusahaan diserang dan diam-diam ada yang membeli saham dalam jumlah besar" Araf menjelaskan semua secara terperinci. Danu memperhatikan dengan seksama semua bukti yang ada dihadapannya.
"besok ada rapat dewan menentukan nasib perusahaan kedepannya. Saham yang aku punya masih kalah dengan yang orang ini beli"
__ADS_1
"Dia mulai bergerak ternyata" danu bergumam sambil memegang salah 1 dokumen.
"cuma ada 1 cara kamu gabungkan saham yang kamu punya dengan yang nasya punya maka kepemilikan perusahaan masih akan tetap ditanganmu. Tapi sebelum itu kita harus bisa mencegah tikus masuk" tatapan danu terlihat menyeramkan tidak seperti danu yang biasanya yang selalu hangat walau jarang tersenyum.
"om aku udah punya bukti pelakunya"
"terlalu dini untuk menyatakan kamu memiliki bukti soal siapa pelakunya. Karena alex masih enggan untuk bicara, aku pun sama mencurigai orang yang sama namun kita harus dapatkan bukti nyata tentang keterlibatan orang ini" Danu menatap pada araf.
"apa ini semua belum cukup?"
Danu menatap pada araf, "apa disini ada fakta bahwa dia terlibat?" araf memperhatikan setiap dokumen dengan detil dia menghela nafas.
"bodohnya aku!" araf melempar kertas dihadapannya, "kenapa bisa aku ga perhatikan!"
"dia itu sangat licik tapi sepertinya dia mulai lengah kamu bisa mencari bukti soal keterlibatannya mulai sekarang. Karena saya pikir saat ini dia mulai ceroboh ga seperti dirinya yang selalu hati-hati sebelumnya"
"om berapa tahun menyelidiki ini?" tanya araf penasaran.
"hampir 2 tahun semenjak kematian mahesa. Awalnya saya udah menyelidiki kematian maryam dan mengacu pada orang yang sama. Namun mahesa meminta saya untuk ga melanjutkan karena waktu itu mahesa belum memiliki kekuatan yang sepadan. Dia takut mereka akan melukai nasya"
"kenapa harus nasya om?"
"karena dia pewaris tunggal arcmedia dan juga antara meuble"
"tapi untuk meuble kan udah diserahkan sama tante lina"
"kamu pikir meuble bisa mendapatkan keuntungan berapa?"
"jadi..."
"pada umumnya manusia ga ada yang bisa merasa puas. Jika bisa memiliki segalanya kenapa engga"
__ADS_1