
Fariz memasang banyak cctv dirumah baru araf tanpa sepengetahuan para pembantu araf. Setelah menyambungkan ke laptop milik fariz dia segera melaporkan pada araf. Setelah selesai fariz merebahkan dirinya di kamar tamu rumah araf.
Belum lama dia merebahkan dirinya matanya terpejam rasa mengantuk dan lelah membuat dia sudah tidak bisa menahan kantuk lagi. Fariz merasa baru tertidur saat ketukan pintu kamarny berbunyi.
tok... tok...tok...
fariz memicingkan matanya membuka perlahan matanya yang baru saja terpejam. Dengan langkah gontai fariz berjalan ke arah pintu dengan malas dia membuka pintu kamarnya, "ya..." Sesaat dia terkejut dengan wanita bercadar didepannya yang memakai pakaian tertutup, "astaga!" Fariz mundur 2 langkah.
"astaghfirullah" nasya bicara perlahan, "k fariz ditunggu mas araf diruang makan"
"ahhh udah waktunya makan malam ya sya hoammm" fariz menguap menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Nasya membalik badannya meninggalkan fariz yang mengekori nasya menuju ruang makan.
"hai raf" sapa fariz pada araf yang sudah duduk terlebih dahulu diruang makan.
"hai" araf tersenyum pada sahabatnya ini.
"wahhh masakan siapa ini raf?" fariz merasa terkejut dengan banyaknya hidangan diatas meja yang tertata rapi.
"art gue lah" jawab araf disela-sela menerima piring berisi nasi dan lauk pauk dari nasya.
"gue kira masakan nasya terakhir gue makan msakan nasya enak banget tau bikin gue ketagihan tapi sayang lu ga pernah kasih gue kesempatan buat nyobain masakan nasya lagi" gerutu fariz sambil menyuap makanan dimulutnya.
"loh emang mas araf pernah ngelarang mas?" nasya bertanya pada suaminya yang masih asyik makan
"he'emmm" araf mengangguk menyahuti ucapan nasya.
"kenapa memangnya mas?"
"keenakan ngasih makan mereka gratis terus bisa bangkrut aku sya" jawab araf asal yang masih fokus menyantap makanan didepannya.
"cih" fariz mendecih, "pelit banget lu raf lu tuh udah kaya masih takut bangkrut aja lu"
"mas mas ada-ada aja" nasya menggeleng mendengar jawaban araf.
__ADS_1
Fariz meletakkan banyak mikro chip dimeja kerja araf. Araf duduk termenung menatap benfa didepannya, "gue temuin ini dirumah lu. Bahkan ada yang di kamar lu"
Araf memicingkan matanya menatap fariz, "gue temuin dibawah ranjang lo, di balik lukisan yang dipajang dikamar mandi dan beberapa di balik tirai juga dilemari baju. Gue rasa mereka masih punya etika dengan g masang kamera kecil dikamar lu. Cuma penyadap" fariz bicara pelan.
"kamera-kamera kecil ink gue temuin didalam aquarium, sudut rumah, lemari, bupet dan masih banyak lagi, gila rumah u bisa ga aman banget ya" fariz melanjutkan penjelasannya.
"siapa yang berani masang ini semua di rumah gue!" geram araf
"besok kita bisa liat tapi gue curiga sama tukang kebun lu dan salah 1 art lo yang masih muda" fariz membuka laptopnya memperlihatkan 2 orang manusia berbeda kelamin berbicara sambil melirik kanan kiri "gue lagi selidiki juga kepala art lu"
"bi arti?" araf bertanya dengan mimik wajah kebingungan yang diangguki fariz.
"tadi pagi gue liat keluar gerbang diam-diam dan ngasih amplop ke orang luar. Gue belum selidikin sih siapa orang itu karena posisi gue lagi dibalkon atas rumah lu tapi gue dah ambil foto orang itu dan gue udah suruh orang selidiki"
Araf mengusap kasar wajahnya dia tampak gusar sesekali terdengar hembusan nafasnya berat. Araf menatap pada fariz, "Sebelum rapat direksi gue harap masalah ini udah kelar ya riz"
"gue usahain raf, gue juga udah nurunin tim gue juga tim om danu. Setelah perbincangan lu sama dia dikanyor waktu itu dia bersedia bantu gue" araf mengangguk
Malam semakin larut jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Araf masih memeluk nasya yang terlelap sambil memainkan rambut hitam nasya dengan sesekali menghirup aroma wangi dirambutnya. Mata araf sulit terpejam walaupun tubuhnya sangatlah lelah.
Dia masih sangat memikirkan ucapan fariz yang mengatakan bahwa didalam rumahnya utusan penjahat yang mengincar nasya berkeliaran. Membuat araf was-was dan tidak tenang. Berulang kali dia mengelus rambut panjang nasya dan menciuminya.
"kamu kenapa sih mas? lagi banyk pikiran ya?" suara parau nasya yang terbangun terdengar seksi ditelinga araf. Araf tersenyum pada nasya dia menarik dagu nasya dan mencium lembut bibir nasya. Nasya melepas pagutannya pada araf, "orang ditanya kok malah mesum" nasya menepuk pundak araf.
"ga tahan aku kalau liat kamu lagi seksi begini" araf menatap nasya sambil merapikan rambut nasy kebelakang telinganya.
Nasya tak menggubris ucapan araf dia berbalik memunggungi araf dan memeluk guling dan memejamkan matanya lagi. Araf memeluk nasya dari samping, hatinya merasa damai dengan nasya yang berada didekapannya.
"sayang..." panggil araf lembut
"aku lagi dateng bulan mas" nasya menyahut dengan mata masih terpejam.
Araf menengok pada nasya, "yang nanya siapa?"
__ADS_1
"kalau kamu manggil aku kaya gitu pasti otak mesum kamu lagi mode on" ucap nasya yang masih tak bergeming dari posisinya.
Araf tertawa mendengar ucapan nasya, "hahahaha.... pede banget kamu tuh tau ga" araf mencubit hidung mungil nasya.
Nasya membalikkan tubuhnya menghadap araf, "terus kenapa manggil?"
"manggil istri sendiri ga boleh?" araf menggoda nasya.
"ah tau deh aku ngantuk banget mas. besok ada praktek lagi" nasya membalikkan tubuhnya lagi membelakangi araf.
"mulai sekarang kamu ga boleh berkeliaran tanpa niqab apalagi tanpa jilbab" araf berucap sambil membelai rambut nasya lembut dan menciuminya lagi.
"emang kenapa mas?" dengan malas nasya bicara
"karena fariz udah banyak pasang kamera dan penyadap disetiap sudut rumah" araf memeluk nasya erat dan menciumi tengkuk nasya
"hah!" nasya terlonjak, "ngapain dah mas fariz pasang banyak kamera?"
"ssttt...." jari araf menyentuh bibir nasya, "jangan berisik dah malam. diam-diam aja jangan ada yang tau. Aku sengaja memasang kamera tersembunyi sama penyadap biar aku bisa memantau pergerakan orang-orang dirumah ini" jelas araf yang tidak menjelaskan detilnya agar nasya tidak khawatir.
"hmmhhh ga enak ya mas jadi orang yang terlalu kaya hidup jadi ga nyman gini" nasya berspekulasi
"loh kok kamu bisa bilang begitu?" araf bingung dengan ucapan nasya
"aku kangen waktu kita tinggal diapartemen mas ga ada rasa khawatir soal apapun. Semenjak kita punya rumah besar makin besar juga rasa khawatir kamu" setelah berucap seperti itu nasya mengecup bibir araf sekilas setelah itu dia berbalik lagi memunggungi araf.
"sya..." panggil araf sambil menggoyangkan tibuh nasya
"hmmm" sahut nasya yang sudah memejamkan matanya lagi.
"aku ga suka dipunggungin begini"
Nasya berbalik menghadap ke arah araf dan memeluk pria itu, "udah ayok tidur dah tengah malam kamu harus istirahat besok kan harus kerja keras lagi" Araf tersenyum dan memeluk nasya kemudian memejamkan matanya.
__ADS_1