
Terkadang seorang wanita terpaksa menjadi orang ke-3 entah karena dibutakan oleh cinta atau demi materi semata. Sulit untuk mendapatkan lelaki mapan diluaran sana. Mencari lelaki tulus? Mungkin bisa dibilang lelaki sekarang lebih banyak yang modus. Salah siapa jika pihak ke-3 bisa masuk?
.
.
.
.
"jadi... kamu menganggap cinta aku hanya sebatas materi zaki?" pertanyaan nabila membuat zaki berdecih mengejek.
"sudahlah nabila jangan terlalu banyak drama, aku udah menikah dan hidup bahagia. Tolong jangan mengganggu kami lagi. Aku kasih kamu kesempatan untuk mengambil cek ini. Silahkan ambil atau hidup kamu ga akan bisa tenang jika kamu mengganggu kami" tatapan mata zaki terlihat sangat serius.
"jahat kamu zaki 8 tahun kita bersama ga ada artinya buat kamu!? aku ga percaya!" teriak nabila sambil memukul pundak zaki.
Zaki geram dengan nabila yang tidak lagi bisa diajak bicara, dia pun memanggil satpam, "satpaaammmm!" teriak zaki emosi. Seketika pak wiryo satpam rumah zaki menghampiri, "ya tuan"
"bawa perempuan ini keluar jangan pernah biarin perempuan ini masuk kesini!" perintah zaki
Nabila menangis sambil menarik ujung jas zaki, "zaki... zaki..." panggil nabila. Zaki sudah masuk kedalam rumah sedangkan nabila ditarik satpam untuk keluar dari rumah mereka. Nabila lemas terduduk dan menangis sejadinya.
Annsya yang hendak pulang melihat nabila masih diluar pagar menangis terduduk didepan pagar. Dia pun menghampiri, "mba nabila..." nasya memberikan tisu pada nabila yang keadaannya sangat kacau sekarang. Nabila mendongak menerima tisu pemberian nasya.
Nasya ikut duduk disisi kanan nabila, "mba penyesalan memang datang di akhir. Sekarang mulailah hidup lebih baik tanpa mengganggu kebahagiaan orang lain" ucap nasya lembut.
"kamu tau apa? aku sangat mencintai zaki lebih dari yang kamu tau" ucap nabila sambil mengusap airmatanya.
"kalau mba memang mencintai bang zaki mba ga akan pernah mengkhianati dia. Apapun alasannya" ucap nasya sambil menatap kedepan
"kamu tau apa soal cinta kamu itu anak kecil!"
"aku memang menikah muda mba usia aku jauhhh dibawah mba nabila tapi 1 hal yang pasti aku ga akan pakai emosi untuk bertindak. Mba nabila memang lebih dewasa dari aku secara usia tapi mba nabila ga lebih dewasa dari aku dalam berpikir"
Diam sejenak
"mba jadilah wanita yang dihargai para lelaki jangan jadi wanita yang hanya dinikmati para lelaki. Mba nabila cantik cobalah untuk lebih memperbaiki hidup mba nabila supaya lelaki ingin menikahi bukan hanya menikmati sesaat lalu ditinggal pergi" Annasya berucap sambik membenarkan rambut nabila yang tak karuan.
Nabila menatap nasya lekat, "anak ini benar ya Allah malunya aku pada anak ingusan ini" batin nabila sambil menatap nasya
"mba tolong biarkan bang zaki bahagia dengan hidupnya sekarang. Ikhlaskan. Memang awalnya berat tapi dalam hidup ga da yang mudah"
__ADS_1
Nabila mengangguk menatap nasya, "terima kasih"
"jangan berterima kasih sama aku mba. Mulailah tata hidup mba lebih baik lagi" memberikan cek dari zaki menggenggamkan ditangan nabila, "jadikan ini modal hidup mba untuk maju. Relakan bang zaki ya"
Nabila memeluk erat nasya, "iya... terima kasih nasya udah membuka mata aku untuk ga terus mengejar yang bukan milikku"
Annasya menepuk punggung nabila
***
Annasya baru tiba di apartemen setelah adzan maghrib berkumandang. Saat dia membuka pintu apartemen dia melihat araf yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tv.
"Mas udah pulang kok ga wa aku?" tanya nasya pada suaminya
"sayang kamu ufah pulang" Nasya menyalami suaminya kemudian araf mencium keningnya.
"mas udah makan?"
"belum nunggu kamu pulang"
"ya udah aku masak dulu ya"
Annsya tersenyum dia pun membalas pelukan araf. Dia menatap wajah araf yang tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Mas kenapa senyum terus? lagi bahagia?" tanya nasya
Araf menarik kepala nasya kedalam pelukannya, "diem ah lagi suasana rimantis juga. Jarang-jarang bisa romantis sama istri begini. Sekarang istriku jafi orang sibuk" Araf seperti anak kecil yang sedang mengeluh
"hihihi... kamu kaya anak kecil mas. hmmm lagian kan kamu sendiri yang kasih izin aku untuk kuliah dan ngaji"
"gapapa sayang aku ga mau kamu cuma fiam dirumah kesepian. Aku paham kok kamu juga mau punya kegiatan"
"mas kenapa kita ga program sekarang aja?"
"program apa?"
"untuk punya anak mas, tadi aku ke rumah utama liat hana lagi hamil jadi iri aku mas. Apalagi liat abang sayaaang banget sama hana, manjain hana, apa aj hana minta diturutin walaupun bang zaki capek baru pulang kerja. bahagia banget deh mas liatnya"
"sayang..." panggil araf sambil membelai kepala nasya yang masih tertutup kerudung lebarnya
"hmmm"
__ADS_1
"dikampus kamu ga mengalami kesulutan kan?" tanya araf ada sedikit nada khawatir
"ih... kok malah ngalihin omingan sih mas"
"kamu kan pakai cadar aku ga mau kamu mengalami kesulitan disana"
"memangnya siapa yang berani menyentuh menantu keluarga abinaya?" ucap nasya sambil melepas pelukannya "mas aku baik-baik aja dikampus semua baik kok sama aku dari mulai teman, dosen hingga rektor ga ada yang menyusahakan"
"syukurlah" araf memeluk nasya lagi
"mas..." rengek nasya manja sambil melepas kancing araf mencoba menggoda araf.
Araf memegang tangan nasya, "sayang bukan aku ga mau ga mau punya anak sekarang tapi kondisinya kamu masih kuliah. Kalau kamu bisa lulus cepat maka kita bisa program cepet. Untuk sekarang kita nikmatin aja waktu kita berdua ya"
"beneran kalau aku bisa lulus cepet kamu mau segera program?" tanya nasya yang diangguki araf
"sayng besok hari minggu kita ngedate yuk, kosongin jadwal ya" pinta araf
"baru aku mau izin kamu mas kalau besok temen aku ada yang ngadain pesta.aku kabarin temen-temen aku dulu mas biar aku ga usah ikut"
"pesta apa?"
"ulang tahun mas"
Seketika araf teringat ulang tahun nasya yang tinggal 3 hari lagi. Dia belum menyiapkan apapun untuk ulang tahun nasya selain rumah yang sudah dia beli.
"kalau besok datengnya sama aku mau?"
"mas mau ikut?"
"kenapa? ga boleh? atau jangan-jangan kamu ga bilang ya kalau kamu udah nikah" selidik araf dengan mata melirik tajam ke arah nasya
"hmmm ga lah mas, aku selalu bilang aku udah nikah. Aku juga jaga jarak kok ke mereka yang bukan muhrim" ucap nasya menyangkal omongan araf
"jadi..."
"jadi... besok kita ke pesta temen aku"
"tapi sebentar aja ya aku mau kuta ngedate besok"
"iya..."
__ADS_1