
💥💥💥
Kehidupan itu berlanjut terus selagi kita masih hidup
Sedih, senang, menangis tertawa, bahagia, terluka sudah terbiasa ada didalam hidup ini
Lalu kenapa masih terpuruk
Dengar jika kamu terluka teriaklah lepaskan beban didirimu jangan biarkan luka itu memguasai dirimu hingga tak berdaya
Bangkitlah untuk disembuhkan walaupun hasilnya tak akan sama seperti dulu lagi
Stay strong
💔💔💔💔
Araf tetaplah araf yang tak akan menjelaskan apapun jika belum ada pertanyaan. Nasya tetaplah nasya yang akan enggan bertanya karena dia tak akan pernah mempertanyakan sesuatu yang belum jelas. Bukan dia tak peduli dia hanya ingin menghindari pertengkaran. Selagi araf masih ingat jalan untuk pulang tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Nasya kini hanya ingin fokus sekolah agar dia bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Dia ingin menggapai cita-citanya. Dia harus bekerja keras karena hidup bukanlah tentang meratapi kesedihan namun kerja keras untuk menggapai cita-cita. Cinta? nasya bukan tak mau memperjuangkan dia hanya percaya selagi dapat dipercaya.
Hana sungguh datang keapartemen nasya malam minggu sebelumnya nasya sudah memdapat izin dari araf. Kebetulan araf pun ada rapat dibandung dan kembali keesokan harinya.
Setelah makan malam nasya duduk didepan tv bersama vita dan nita. Sedang hana masih sibuk menelepon suaminya yang setiap 1 jam akan menelepon dirinya.
Vita dan nita yang memperhatikan hana yang sedang di balkon menelepon menghela nafas dan bicara berdua.
"vita kalau pengantin baru begitu ya masih wangi jadi tiap jam ditelepon sayang-sayangan" ucap nita sambil melipat tangan didagunya
"ho'oh beda banget sama sebelah kita dari siang kita disini ga ada dengar dia ditelepon suami" vita dan nita serempak menoleh pada nasya.
Nasya yang sedang makan cemilan jadi menoleh pada kedua temannya, "kenapa ngeliat ke aku"
"hufff...." nita menghela nafasnya
__ADS_1
"berdoa aja semoga pernikahan mereka selalu rukun dan adem ayem"
Hana menyelesaikan teleponnya dia berjalan ke arah teman-temannya. Mengambil cemilan yang sedang dimakan nasya. Vita dan nita melihat ke arah hana, "hana lo ga risih apa saban hari ditelepon setiap swjam sekali" tanya vita yang duduk miringbke arah hana.
Bukannya memjawab hana menoleh ke arah nasya, "sya... are you ok?"
"aku? gapapa memangnya kenapa?" nasya bertanya balik.
"nothing" jawab hana yang beralih menatap tv
Vita dan nita saling tatap
"ehhh besok kita ke bioskop yuk nonton lagi ada film seru" ajak vita
"kalau laki w dinas lagi bisa tapi kalau ga ya wassalam gue ga akan bisa ikut"
"lo sya?" tanya nita
"haisss.... sedih amat ya punya temen udah nikah jadi ga sebebas dulu"
Sebelum tidur nasya melihat ke arah ponselnya tak ada pesan dari araf. Nasya terus positif diri jika araf mungkin terlalu sibuk.
Ponsel nasya berbunyi saat dia hendak memejamkan matanya terlihat ada nomor tak dikenal. Nasya enggan mengangkat namun dia penasaran.
"assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam sayang, ini om danu nak kamu dimana? maaf om baru dengar kalau ayahmu meninggal"
"om danu... hiks...hils... hiks... om dimana?" tangis nasya pecah. Dinding kokoh yang selalu membentengi dirinya runtuh sudah hanya karena seorang danu. Adik sang ayah yang selalu berkeliling dunia demi bisa melupakan ibunya uang sangat dicintai. Annasya sangat tau bagaimana cintanya om-nya ini pada ibunya, dia pun sangat tau betapa sayangnya om danu dia pada dirinya.
"om ada dijakarta sekarang tapi lina ga mau kasih tau om kamu dimana. Om dapat nomor kamu dari asih guru kamu dipondok pesantren. Maafkan om nak saat kamu sedih om ga ada disisi kamu"
"om nasya share lok ya, om kesini ya" nasya terisak dia sangat membutuhkan pamannya ini.
__ADS_1
"iya sayang"
***
Nasya lekas keluar dari kamar saat omnya nilang jarak mereka tak lebih dari 20 menit. Hana melihat nasya yang berlari terburu-buru, "mau kemana malam-malam begini sya?"
Nasya berbalik melihat ke arah hana, "ada urusan penting banget maaf aku ga bisa kasih tau kamu dulu hana. aku ga akan lama kok. Assalamu'alaikum" nasya langsung berlari
"wa'alaikimsalam ada apa sama dia ya. Ya Allah semoga semua baik-baik aja"
Hampir tengah malam nasya terus berlari ke arah jalan tempat dia berjanji ingin bertemu dengan pamannya. Dia berdiri ditrotoar menunggu sang paman. Dia sengaja berdiri agar om-nya tak perlu mencari dirinya. Nasya berdiri dibawah tiang listrik lampu jalan yang cukup ramai. Dia memakai gamis dan sweater tebal karwna malam ini sangat dingin dengan cemas sambil melihat ke kebawah nasya menunggu dengan khawatir.
"Nasya...." nasya langsung menoleh saat dia mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya suara yang sangat dirindukannya beberapa tahun ini. Suara yang selalu memguatkan dan menenangkan dirinya disaat sedih. Suara yang selalu bisa membuatnya melupakan kesedihan dan airmata. Suara yang selalu ingin dia dengar.
Nasya tak menjawab dia melihat ke arah lelaki tampan berbadan tinggi atletis. Wajah itu.... wajah yang selalu dirindukannya. Wajah teduh yang selalu bisa membuat hatinya bergetar. Airmata nasya turun dengn derasnya melihat lelaki didepannya. Adik ayahnya, cinta pertamanya. Tanpa pikir panjang dia ada dimana nasya langsung berlari ke arah danu dia memeluk danu disertai tangis yang terdengar sangat pilu.
"ha.... ha.... ha..." Nasya tak lagi bisa membendung airmatanya
"maafin om sayang" danu memeluk erat nasya begitu pun nasya yang memeluk danu sangat erat seperti takut om-nya akan pergi lagi dan dia ditinggalkan lagi.
Nasya tak mempedulikan orang lewat dia terus menangis terisak dipelukan danu. Danu membelai kerudung nasya.
Setelah agak tenang danu membawa nasya ke bangku taman dia membeli 2 botol air diberikannya pada nasya 1.
Nasya meminum airnya setelah danu membukakannya. Bagi danu nasya tetaplah putri kecilnya walaupun dia tau kini nasya sudah menikah bagi seorang danu tetaplah nasya putri kecil yang selalu dimanjakannya.
"maafkan om ya, om bru datang" ucap danu sambil menatap nasya. Nasya hanya mengangguk
"aku seneng setelah 6 tahun akhirnya kita bisa ketemu lagi om. Om tau darimana ayah udah meninggal?" tanya nasya pada om-nya
Danu menatap ke depan sambil bersandar pada bangku taman, "waktu om pulang dari afrika om rindu kamu makanya om langsung meluncur ke semarang. Tapi sampai disana om hanya memdapatkan lina yang sudah menempati rumah orang tua kamu. Lina hanya bilang kamu sudah menikah dan tinggal dijakarta. om ke pondok pesantren hanya memdapat alamat mertua kamu dan nomor telepon kamu dari ummi asih guru kamu"
Nasya tersenyum sambil menatap wajah tampan sang paman yang sangat dirindukannya
__ADS_1