
Sepulang kuliah nasya mampir ke rumah sakit menjenguk hana, ternyata disana sudah ada mami dan papi yang baru pulang dari perjalanan bisnis mereka ke eropa. Setelah mengucap salam nasya menyalami mami dan papi kemudian ke toilet untuk membersihkan diri karena dia sangat ingin menggendong gibran.
"mami aku mau gendong" rengek nasya pada mami yang masih menggendong gibran.
"ini sayang...." mami menyerahkan gibran ke gendongan nasya dengan sangat hati-hati. Mami melangkah ke arah sofa tempat papi sedang duduk bersama zaki.
"oiya hana mami lupa mau tanya kok kamu bisa pendarahan kenapa? sebelum kami ke eropa kamu baik-baik aja kok. Bahkan dokter bilang kamu dan baby sehat" tanya mami sambil menengok ke arah hana yang masih duduk diranjangnya.
"iya mi... ini semua salah hana" hana menunduk suaranya seperti tenggelam.
"kok bisa na? emang kamu lagi ngapain?" nasya jadi penasaran
"sebenarnya aku liat banyak artikel ibu hamil katanya kalau mau lahir normal dimasa trisemester akhir harus banyak gerak. Makanya aku banyak gerak dengan bersih-bersih kamar biar kepala bayi bisa turun kan waktu usg terakhir kepala bayi masih muter" jelas hana
"pantes kamu jadi banyak bantuin kerjaan imah" zaki mengkerutkan dahi bicara hana
Hana mengangguk, "sebenernya sih udah hampir 3 hari aku ngerasain perut ga enak banget serba salah. Tapi yang aku baca katanya itu hal yang normal yang dialami ibu hamil menjelang melahirkan. Terus aku juga baca katanya hubungan suami istri juga bisa bikin kepala bayi turun..." hana berucap memelankan suaranya
"pantes kamu ngebet banget ya" zaki melirik tajam ke arah hana yang cengengesan.
"iya tapi yang ada aku malah ngeflek menjelang siang pendarahan makanya aku telepon nasya. Nelpon abang ga diangkat" hana mengalihkan pandangannya dari zaki karena takut melihat zaki yang mulai melirik tajam.
"mungkin kamu terlalu kasar zaki makanya istrimu bisa pendarahan" papi mencoba berasumsi
"berarti bukan salah imah atau pak dodo yang ga bisa jaga hana tapi abang yang ga bisa nahan diri hihihi..." nasya bicara sambil cekikikan membuat wajah zaki jadi merah padam.
"kamu tuh anak kecil ga usah ikutan" zaki merasa malu hingga melemparkan kekesalannya pada nasya
"siapa bilang aku masih kecil, aku tuh udah dewasa ya bang. Aku udah kuliah bahkan udah nikah juga" nasya membantah zaki
"tetep aja masih dibawah umur" zaki menimpali
"ihhh selalu bawa-bawa umur" keluh nasya
__ADS_1
"udah-udah kalian kok jadi ribut sendiri" mami menengahi zaki dan nasya.
"ini pelajaran buat kamu hana juga nasya kelak kalau hamil jangan sembarangan mempraktekan apa yang dibaca di internet. Lebih harus bisa memilih demi kebaikan bayi dan ibu" ujar papi memberi nasehat.
"iya pi" nasya dan hana serentak berucap bersamaan.
"assalamu'alaikum" ucap araf membuka pintu kamar rumah sakit.
"wa'alaikumsalam" jawab semua serempak setelah itu dia pun masuk setelah menyalami orang tuanya dia mencium kepala nasya yang tertutup hijab. Setelah itu ke toilet untuk cuci tangan, kaki dan wajah agar bisa mendekati gibran.
"kapan bisa pulang hana?" tanya araf sambil menggendong gibran yang sedang tertidur nyenyak.
"seminggu lagi dokter bilang" jawab hana
"kalau udah pulang boleh pinjem ya hehehe" cengir araf sambil menciumi pipi gembul gibran
"ga boleh enak aja, emangnya boneka main pinjem-pinjem aja" omel hana pada araf
"ihhh dasar pelit" cibir araf
Selepas isya nasya dan araf berpamitan pulang, tinggallah zaki menemani hana di ruang rawat inap. Leni fan bayu sudah terlebih dahulu pamit.
Saat didalam mobil nasya terlihat lebih pendiam memang beberapa hari ini araf jarang melihat nasya tersenyum. Karena penasaran araf pun bertanya, "kamu kenapa sayang?" tanya araf sambil membelai kepala nasya
"mas kita kapan ya?" nasya mengelus perutnya yang masih rata.
"sabar sayang kamu kan masih kuliah belum lulus. Lagian kita masih muda masih panjang perjalanannya" ucap araf mencoba menenangkan nasya
"kita kan ga pernah cegah ya mas kok lama ya mas? udah hampir setahun loh. Dulu sebelum keguguran ga sampe sebulan kita berhubungan aku fah hamil mas" ucap nasya terdengar sedih
"apa jangan-jangan ada masalah ya mas sama aku? makanya ga hamil-hamil?" nasya berasumsi sendiri dengan segala kemungkinan
"ssttt... ga ada masalah sayang kita kan udah periksa dokter juga semua normal aja kan ga ada masalah" ucap araf
__ADS_1
"tapi kok..."
"udah ga usah terlalu banyak mikir nanti kamu malah ga fokus kuliah. Kita kan sepakat sampai kamu lulus kuliah belum hamil juga kita mulai program" araf memotong ucapan nasya.
Nasya mengangguk mendengar ucapan araf. Araf tersenyum melihat nasya, "udah jangan sedih lagi. Kita kuatin doa aja dulu sayang. Nanti kalau udah waktunya kita bakalan punya sendiri kok"
"sebenarnya aku masih takut melihat kamu yang kesulitan di masa kehamilan. Apalagi saat melihat kamu sering pingsan terlebih kamu pernah pendarahan membuat aku semakin takut maaf sayang aku benar-benar ga mau lihat kamu kesakitan seperti dulu aku mengulur waktu dengan berbagai alasan agar kamu ga lekas hamil" batin araf.
Sesampainya dirumah nasya lekas ke kamar mandi membersihkan diri setelah selesai giliran araf yang membersihkan diri.
Saat araf keluar dari kamar mandi dia melihat nasya yang membungkus dirinya dengan badcover. Tanpa curiga araf mendekat duduk ditepi ranjang, "kalau kedinginan kecilin aja ac-nya" saat araf hendak memencet remot ac nasya bergegas merebut.
"ga kok aku ga kedinginan segini aja cukup" ucap nasya merebut remot ac tanpa membuka bedcover yang melilit tubuhnya. Araf melirik pada nasya bingung dengan tingkah nasya.
Sedang nasya tersenyum menampakkan gigi depannya. Araf duduk menghadap nasya, "apa yang kamu sembunyiin?" tanya araf curiga nasya membelalakkan matanya kemudian mengatup bibirnya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya.
Karena penasaran araf mencoba membuka bedcover, "ayo buka" araf memaksa nasya
"ga mau aku malu" ucap nasya menutup wajahnya dengan bedcover.
"malu kenapa? bahkan aku dah hafal setiap bagian tubuh kamu. ngapain malu?" tanya araf
"ihhh mas vulgar banget deh ngomongnya" ucap nasya sambil membuka sedikit bedcover yang menutupi wajahnya.
Karena penasaran araf memegang dagunya kemudian pura-pura berpikir sambil menunggu nasya lengah, "ah biasa aja" ucap araf dia berpura-pura bangkit kemudian nasya menghela nafas. Namun araf lekas berbalik dan bisa membuka bedcover.
"aaaaa" nasya menjerit karena kecolongan, "mas apaan sih aku kan malu" ucap nasya sambil menutup lagi tubuhnya dengan bedcover.
"owhhh jadi istriku pakai lingerie ya, siapa yang ngajarin ayo ngaku" Araf mencubit pipi nasya
"ga ada mas" nasya menutup wajahnya
"pasti gara-gara grup kampus mesum kamu itu ya hemm" araf mencoba membuka tangan nasya yang menutupi wajahnya, "karena kamu dah menggoda aku malam ini ga ada ampun"
__ADS_1
"iya mas ampun aku ga ngulangin lagi" nasya mencoba lepas dari pelukan araf