Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 56


__ADS_3

Annasya menunggu suaminya selesai bersih-bersih dikamar mandi. Dia masih berpikir apa yang erika lakukan tadi. Walaupun dengan tegas araf menolak erika tapi ada rasa sedih dihatinya melihat araf dan erika. Bahkan dia sampai berpikir apa araf punya rasa pada erika.


Araf yang baru selesai mandi melihat istrinya melamun mendekat dan mencium lembut istrinya hingga membuat nasya terkejut, "mas udah selesai?" tanya nasya


"kenapa melamun sayang?" tanya araf, nasya hanya menggeleng.


"mas laper ga? mau makan dulu apa langsung tidur?" tanya nasya.


"aku mau makan tapi...."


"tapi apa?"


Araf tersenyum nakal, "tapi maunya makan kamu"


"ihhh dasar mesum" nasya mencoba beranjak namun araf sudah mengunci nasya dipelukannya.


"biarin mesum sama istri sendiri kok" ucap araf


****


Pagi-pagi sekali seperti biasa sehabis shalat subuh nasya mempersiapkan sarapan bersama bi tini. Setelah selesai nasya naik ke atas membangunkan araf.


"Mas udah jam 7 kamu ga mandi?" tanya nasya yang melihat araf masih terlena dengan bantalnya.


"sebentr lagi ya sayang rasany masih ngantuk banget" Araf masih memeluk gulingnya seperti anak kecil


"emangnya kamu ga kuliah?" tanya nasya sambil mengelus pipi suaminya.


"hari ini ga dulu sayang" jawab araf masih dengan mata terpejam.


"kenapa?" tanya nasya


"nanti kamu temenin aku ya bantu erika cari kost atau kontrakan aku pikir udah waktunya dia pindah. Udah aman juga kan" Araf memebuka matanya dan memegan tangan istrinya.


"mas... ini sih pendapat aku aja ya tapi terserah kamu mau lakuin atau ga"


"apa?" tanya araf menatap pada istrinya


"kenapa kamu ga beliin rumah dibandung terus bukain toko. Biar dia ga pusing bayar kontrakan juga dia ga balik lagi ke klub karena dia kan sebentar lagi melahirkan"


Araf terbangun dan duduk dia menatap lekat netra madu istrinya yang sungguh memikat, "sayang aku ga salah denger kan?"


"kenapa memangnya ada yang salah?" tanya nasya

__ADS_1


"kita sendiri belum punya rumah loh sayang masa mau belikan orang rumah"


"sebenarnya kita bisa beli rumah tapi aku ga tau rumah seperti apa yang kamu mau karena kamu selalu bilang belum cukup uangnya"


Araf tersenyum melihat istrinya, wajah yang tak pernah bosan untuk dilihat. Walaupun jarang tersenyum apalagi tertawa tapi wajah ini yang selalu membuat araf rindu setiap kali berjauhan.


"kok malah diam?"


"kamu kenapa baik banget sama erika?" tanya araf pada nasya yang memakai gamis krem dengan kerudung coklat. Sungguh nasya benar-benar manis hari ini batin araf.


"aku cuma kasihan mas, apalagi kalau bayi itu tau ibunya kerja diklub nanti kalau dia sekolah pasti malu" ucap nasya memjelaskan


"sayang kamu ga sakit hati?"


"Atas kejadian semalam?" araf mengangguk


"bohong kalau aku ga marah atau sakit hati tapi aku lebih kasihan ke bayi itu mas" jawab nasya


"ok lah kalau begitu, nanti aku telepon orang dibandung untuk memebelikan rumah dibandung didaerah perkampungan"


"kenapa harus perkampungan?" tanya nasya bingung


"biar dia ga balik lagi kerja diklub. Ya udah aku mandi dulu sayang. Siapin baju aku ya nanti kita berangkat ke bandung"


Nasya mengangguk mematuhi perintah araf. Sebelum araf beranjak dia mencuri cium dibibir nasya yang selalu dilakukannya dipagi hari.


****


Menjelang sore nasya mengajak araf berjalan ditepi pantai. Araf melihat nasya sangat senang dan terus tersenyum apalagi dia melihat seorang balita, "mas... kapan ya kita punya baby?" tanya nasya saat melihat seorang balita 2 tahun berjalan terhuyung bermain ombak dengn orang tuanya.


Araf mencium nasya, "sabar sayang ya nanti pun kita akan dapat lagi" Nasya beranjak berjalan ke arah balita yang sedang menangis. Mata araf memperhatikan nasya yang sedang menenangkan bocah itu.


"araf" suara seorang wanita memanggil membuat araf menoleh. Dilihatnya erika sudah duduk disisinya, "nasya begitu menginginkan anak ya"


"hmmm dia selalu merasa kesepian kalau dirumah sendiri" ucap araf sambil menatap pada istrinya.


"memangnya kamu ga program?" tanya erika penasaran yang dijawab gelengan araf.


"kenapa?" eruka mengerutkan keningnya


"kami masih muda in shaa Allah masih banyak waktu. Lagipula aku masih ga tega untuk membiarkan nasya hamil lagi. Aku masih takut" ucap araf dengan wajah sendu.


"takut apa? kamu takut untuk punya anak?"

__ADS_1


"bukan"


"lalu?"


"saat hamil pertama kali aku melihat nasya ga bisa makan bahkan minum dia selalu muntah wajahnya juga pucat bukan main. Aku masih takut nasya mengalami hal itu lagi"


"owh..."


"raf"


"ya"


"hmmmhh.... aku yakin tuhan mempertemukan kita bukan krena kebetulan apalagi sampai menyelipkan rasa cinta dihati aku"


"maksud kamu?" araf menoleh ke arah erika


"jika aku ga bisa mendapatkan kamu seenggaknya aku mau berkesan buat kamu. Aku mau ada nama aku terselip disana" erika menunjuk dada araf, "walaupin hanya sedikit aku rela"


"Erika maaf..."


"jangan buru-buru menolakku raf, kita ga akan ada yang tau kedepannya" ucap erika.


Araf menyingkirkan tangan erika, "kamu tau kenapa aku bisa carikan rumah untuk kamu?"


Erika menatap mata araf. Araf menatapnya tajam, "karena permintaan nasya. Kamu tau apa yang membuat aku jatuh cinta sama dia?"


Seketika erika terdiam melihat mata araf merah dia pun berpaling. Araf mengeraskan suaranya, "karena dia berhati lembut dan penuh kasih. Walaupun dia ga suka sama kamu dia masih berkenan menolong kamu dan bayimu. Apa pantas wanita seperti itu aku sakiti?"


Erika terdiam mendengar ucapan araf. Araf beranjak dari duduknya dan menghampiri nasya memeluk istrinya dan bercanda ditepi pantai.


"ihhh mas usil banget deh" ucap nasya geram.


"biarin"


"mas kenalin ini kak winda kakak kelas aku waktu dipondok" Araf menyapa dengan melipat tangannya pada perempuan berhijab didepannya yang juga memakai cadar.


"pantes kamu lama banget ternyata reuni ya, ini baby namanya capa ya... cantik banget" Araf menggendong bayi mungil yang sedang main pasir. Bayi itu tertawa pada araf, membuat araf gemas dan menciumi bayi itu.


"namanya siapa kak?" tanya araf pada ibu bayi tersebut.


"mariatul qibtiyah om. Panggilannya tia om"


"lucunya kamu cayang"

__ADS_1


"nanti juga om dapetin yang kaya aku" ujar winda pada araf yang sedang asyik menggoda tia.


Dari kejauhan dilihatnya araf yang sedang menggendong bayi lucu disampingnya ada nasya yang menggoda tia, "mereka seperti keluarga bahagia. Tuhan maafkan aku yang iri dengan kebahagiaan mereka hiks"


__ADS_2