Bidadari Syurgaku

Bidadari Syurgaku
bab 76


__ADS_3

Annasya terus memperhatikan faiqa, wanita dewasa yang cantik bak model yang menurut pengakuan danu sudah mengejar dirinya dari 10 tahun yang lalu. Wajah cantik, anggun dan menarik membuat siapa pun yang melihat faiqa akan terpesona. Dia sangat pandai memadu padankan pakaian agar terlihat cantik ditubuhnya juga make up yang walaupun sedikit merona namun terlihat pas dan cantik. Senyum faiqa bisa membuat siapa pun akan betah melihatnya senyum itu begitu indah membingkai wajah cantik faiqa. Nasya melihat ke arah danu terlihat danu begitu bahagia dan tertawa sepertinya sudah lama dia tak melihat danu sebahagia ini. Ahh ternyata wanita ini bisa membuat om danu bahagia. Pikir nasya.


"sya... aku dengar kamu dapat beasiswa ke jerman?" tanya faiqa akhirnya bicara pada nasya yang sedari tadi diam. Sejenak araf dan danu terkejut terlebih araf sebagai suami mengapa tidak mengetahui sama sekali soal ini.


"beneran sya? kok kamu ga pernah cerita?" tanya araf yang menatap nasya dengn serius.


Nasya menatap suaminya kemudian beralih ke faiqa, "darimana kamu tau itu?" tanya nasya dengan nada tak suka.


"hari ini aku mulai ngajar dikampus kamu, aku dengar dari para rektor dan dosen dikantor mereka membicarakan kamu yang melewatkan kesempatan emas ini untuk kuliah disana" jawab faiqa masih lembut walaupun dia tau ada nada tak suka dari pertanyaan nasya.


"bukannya itu cita-cita kamu ya sya untuk bisa kuliah dijerman?" tanya danu yang menatap pada keponakan tersayangnya.


Cita-cita? pertanyaan danu seketika menohok araf yang jadi pendiam. Selama ini dia tak pernah bertanya pada nasya soal cita-cita bahkan keinginan nasya. Nasya pun tak pernah bicara apa pun soal keinginan dan cita-citanya. Bahkan apa yang terjadi dikampus nasya, araf pun tidak pernah menanyakannya.


"iya tapi bukan kampus itu yang aku mau" jawab nasya santai kemudian menyendokkan nasi ke mulutnya sambil membuka sedikit cadarnya.


"memangnya kampus mana yang memberikan nasya beasiswa?" tanya danu pada faiqa yang duduk disisi kirinya.


"LMU kak, hmmhhh banyak banget mahasiswa yang pengen bisa kuliah disana tapi keponakan kamu ini melewatkannya begitu aja" sesal faiqa sembari mengaduk makanan dipiringnya.

__ADS_1


"owh... LMU... pantas nasya ga tertarik" dengan santainya danu berucap.


"loh emangnya nasya maunya kemana?" pertanyaan faiqa membuat araf menatap danu intens namun nasya seperti tak peduli dia masih asyik dengan makanan didepannya.


"dari dulu dia maunya bisa kuliah di ruperth-kahl universitu heidelberg bukan di ludwic-maximillian universitu munchen" jelas danu


"tapi 2 kampus itu kan sama-sama kampus terbaik dijerman kak" ujar faiqa yang diangguki oleh danu.


"hahhh sayang banget tau sya, kamu ga mau pikir lagi?" faiqa menopang dagunya dengan 2 tangan diatas meja menatap pada nasya yang dijawab gelengan nasya.


"kamu bisa kuliah disana sya kalau kamu mau. Aku ga akan menghambat cita-cita kamu" kali ini araf yang bicara.


"sekarang aku udah bahagia dengan kuliah disini ada keluarga yang selalu menyayangi aku punya teman yang juga sayang aku. Kamu sendiri tau itu mas" jawab nasya.


"tapi kalau ada kesempatan kenapa ga diambil sya" danu mencoba menggoyahkan nasya yang sebenarnya dia tau nasya tak mudah goyah.


"itu kan cuma cita-cita aku saat kecil om. Aku udah ga minat sekarang. Terlebih aku udah punya suami aku ga mau LDR sama suami aku om. Mas araf juga masih kuliah disini apalagi dia juga mengurus perusahaan ayah ga mudah buat dia ikut aku ke jerman dan ga mudah buat aku harus LDR" nasya menjelaskan.


Araf tersentak dengan jawaban nasya seketika araf terdiam. Araf baru tersadar jika selama ini istrinya sangat menjaga keharmonisan keluarganya. Istrinya yang 3 tahun lebih muda darinya selalu menekan ego-nya. Selama ini hanya tentang keinginan araf yang araf pikir bisa membuat nasya bahagia namun nyatanya araf tak pernah bertanya apa iya nasya bahagia. Araf merasa sangat malu.

__ADS_1


Faiqa gadis itu terkejut karena alasan sepele menurut faiqa yang membuat nasya melewatkan kesempatan emas itu. Nasya masih 18 tahun jadi dia maklum jika nasya masih labil.


"kamu masih labil jadi aku maklum tapi kesempatan ini ga akan datang untuk kedua kalinya sya apa ga lebih baik dipikir lagi?" tanya faiqa dengan tatapan intens menatap mata nasya.


"nasya bukan orang yang labil fai, dia sangat tau apa yang dia inginkan" danu berucap sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"pasti ada alasan khusus kan sya?" desak faiqa


Nasya menatap balik faiqa yang menatapnya dengan tatapan heran seperti banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan. Nasya meletakkan sendok didepannya melipat tangan kanannya, "alasan aku yang pertama karena aku seorang muslim aku ga mau jadi korban rasisme karena aku seorang muslim dan bercadar, yang kedua karena aku sudah berkeluarga aku ga bisa dan ga mau LDR, banyak kasus dimana suami istri tinggal bersama aja masih bisa bercerai bagaimana dengan LDR? aku percaya sama mas araf tapi aku ga percaya dengan diri aku sendiri ketiga kalau aku merindukan orang tua aku, aku ga akan bisa langsung ke kuburan mereka karena aku pasti diribetin dengan birokrasi antarnegara. Dengan aku ada diindonesia aja aku bisa pulang kampung jika aku libur kuliah gimana kalau aku disana. Sampai sini aku harap kamu paham nona"


"yah... kita ga bisa mendebatkan dengan nasya walaupun kita selalu bilang sayang banget pada kenyataanya dia juga yang ambil keputusan. lagian kamu sendiri kan juga tau fai kuliah kedokteran itu ga sebentar" danu menengahi karena dia pikir nasya sudah mulai banyak bicara namun dengan nada sinis.


"Sebagai pertimbangan pun ga bisa sya?" danu menghela nafas kasar mendengar pwrtanyaan bodoh faiqa. Danu sangat tau keponakannya sangat tidak suka dipojokkan.


Nasya menatap tajam pada faiqa, "kuliah kedokteran disana 6,5 tahun ditambah bekerja sebagai dokter 1 tahun total 7,5 tahun..."


"tapi aku yakin sayang kamu bisa lulus lebih cepat" araf menyahut


"kamu terlalu percaya diri dengan otak kecil istrimu ini mas" nasya berucap sambil menatap suaminya kemudian menatap pada faiqa, "dari awal aku juga udah bilang aku udah punya suami aku punya tanggung jawab dunia akhirat pada suamiku. Dulu aku bilang seperti itu pada om danu karena aku masih punya ayah yang masih hidup sekarang kedua orang tuaku udah ga ada aku ga mau dan ga ada lagi keinginan itu. Sekarang aku punya mas araf dan keluarganya yang sangat menyayangi aku ga ada lagi yang aku inginkan selain ini" tegas nasya membuat semua yang ada disana terdiam

__ADS_1


__ADS_2