
Kata kata Mama membuat jantung ku serasa di remas. Aku merasa harus bertanggung jawab penuh pada Tristan.
"Ma..Belum ketemu aja sama Jodoh nya.."
"Jodoh nggak akan datang, kalau nggak di ikhtiarin juga Dit.."
"Terserah Mama aja lah!!"
"Dit! Mama dan Papa sudah tua, kalau malam suka Mikirin masa depan kamu sama Tristan.."
Lagi lagi membuat hati ku mencelos "Mah..ngomongin yang lain aja lah.." aku malas membahas hal hal yang seperti ini, meski omongan Mama ada benar nya.
"Kenapa sih selalu menghindar, Kalau Mama ngomongin perihal Jodoh??? coba deh kamu Lihat Kamidia.." Mama mulai menarik sudut Bibir nya hingga membentuk sebuat senyuman.
"Maksud Mama??" Aku mengernyit.
"Mama Rasa Kamidia akan menjadi ibu yang baik untuk Tristan.. Selain iru, anak nya juga sopan,pintar juga telaten.."
"Mama mau menjodoh kan Midia sama Mas Reza?????" Nggak bener nih tujuan Mama, masak mau menjodoh anak orang.
"Bisa jadi! kalau kamu nggak mau??"
"Apa'an sih maksud Mama!!"
__ADS_1
"Gini lho Dit.. coba deh kamu liat kamu perhatikan..Gimana Midia?? Menurut Mama Midia adalah Perempuan yang tepat untuk kamu.. dan Juga Tristan.."
"Mama! Jangan punya pikiran yang aneh aneh!!.."
"Mama Serius Dit! mana ada perempuan kayak Midia.. Coba?? Mana ada yang benar teman perempuan kamu selama ini???? Kalau di depan aja Sok perhatian sama Tristan!!'' Nada bicara Mama sudah mulai meninggi.
Omongan Mama bener bener bikin sakit kepala.
"Mah..lagian Kamidia belum tentu mau sama Aku??" sambil ku pijat pijat ujung hidung ku.
"Jadi cowok itu yang gantelman... pokok nya Mama mau mantu!!! yang nggak cuma mau sama kamu aja!!tapi juga harus mau menerima Tritsan!" Mama kok semakin kemana mana sih arah pembicaraan nya.
"Iya Ma..masalah nya-"
Aku merenung sejenak. Memang benar kata kata mama. Selama ini tidak ada satupun teman perempuan ku , yang bisa mengambil hati Tristan.
Ada yang beralasan tidak terbiasa dengan anak anak, kurang telaten dan Tristan nya yang bermasalah.
Tidak bisa di bohongi, Memang Tristan sangat Senang jika bersama perempuan itu yang kadang otak nya tidak berfungsi dengan normal.
"Dit!! kenapa Diem??, kalau selama tiga hari kamu nggak ngasih jawaban.. Ya udah! Biar Mama bilang ke Reza, untuk meminta Midia menjadi istri nya.. yang penting Tristan Punya ibu sambung yang tulus. Mama sudah tua, kalau Mama mati pun..Mama udah nggak ada beban lagi"
"Mama! jangan bilang gitu dong!! aku dan Tristan masih membutuh kan kasih sayang dari Mama sama Papa! oke!! Aku sendiri yang akan meminta Kamida untuK menjadi ibu untuk Tristan dan juga menjadi istri ku!"
__ADS_1
"Kamu nggak bohong kan???" Mama kembali bersemangat.
"Iya Ma! tapi nggak sekarang.. Adit butuh waktu.."
"Baik! tapi jangan lama lama..Midia itu cantik, jangan sampai orang lain yang lebih dulu mendapat kan nya.".
Jujur saja, aku sama sekali tidak mencintai Perempuan itu. Kenal saja hanya sebatas pekerjaan. Bagaiman bisa, dengan tiba tiba aku meminta nya untuk menjadi istri ku.
Pernah jalan sekali, itu pun bukan kencan. Masalah Foto, aku hanya iseng. Baru kali ini melihat perempuan yang aneh begitu, tidur ngiler..dengan tanpa rasa malu.
Padahal perempuan lain nya berlomba lomba untukmenjaga image terhadap lawan jenis. Agar terlihat Good attitude.
Mungkin saja Kamidia type perempuan yang apa ada nya. Mama mulai menaruh hati pada Midia saat di Rumah Sakit dulu. Anak anak pasti nya tahu mana yang tulus dan mana yang Bulus.
Gadis itu memang sopan, tapi suka semahu nya sendiri.
Untuk Mas Reza, Bukan nya aku dendam atau cemburu jika Kamidia menjadi istri nya.
Aku hanya tidak percaya saja pada dia.
Mungkin benar kata Mama.,aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan terlalu memikir kan Tristan.
Ini saat nya melangkah untuk menjalni hidup yang lebih baik untuk ku dan Tristan.
__ADS_1