
Mama hanya menghidang kan makanan sederhana di atas Meja. Setelah ngobrol dengan keluarga Pak chairul.
Cumi pedas Manis, sayur sop sama tumis pare campur teri. Lauk nya telur Dadar, sama tempe Goreng yang di sajikan oleh Mama.
"Maaf ya Bu.. Hanya seada nya " kata Mama.
"Waah Bu Masita tenyata pintar memasak ya.. Kapan kapan boleh ya Bu masak bareng"
"Bu Ivone bisa saja..boleh boleh, Lain kali kitA masak sup Iga bareng ya Bu.."
Pak Chairul Asik mengobrol dengan Papa begitu juga dengan Bu Ivone dan Mama.
Aku sendiri sibuk menyuapi Tristan. Pak Adit hanya diam dan senyum senyum,
"Hai anak kecil! Nama nya siapa! Kenalin Nama ku Om Rizal!" Rizal mengulur kan tangan nya.
"Tristan Om..." Tristan membalas uluran tangan Rizal.
"Mau naik motor nggak! Kita jalan jalan liat ikan di empang sama bebek!! Mau nggak???"
"Mau! Mau! Ayo!"
"Tapi minta ijin dulu sama Nenek dan Kakek ya!!"
"Oke!!"
Sudah ku duga, semua orang memperboleh kan Rizal untuk mengajak Tristan jalan jalan dengan motor Ompreng nya.
Hanya Pak Adit saja yang seperti nya keberatan.
"Hati hati..jangan ngebut," pesan Pak Adit.
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan kurangg lebih nya 3 Jam lama nya. Akhir nya aku sampai di kota kelahiran Midia.
Bahkan aku tidak menyangka, harus bertemu dengan Adik nya yang super aneh tanpa sengaja.
__ADS_1
Ulah dan tingkah nya mirip sekali dengan Kakak nya.
Bahkan aku sempat heran melihat keluarga Midia. Aneh tapi sangat hangat. Ada beberapa penghargaan yang terpasang di dinding dan juga Meja.
Kuberanikan diri ke Bandung tanpa sepengetahuan nya. Respon keluarga nya sangan baik dan hangat.
Papa mengutarakan niat yang membuat nya kemari.
"Seperti kata Papa.. Niat kami kemari terutama saya, yang pertama adalah untuk Bersilaturahmi..Yang ke dua untuk Meminang Kamidia untuk menjadi Istri saya Om..Tante.. Dan juga menjadi ibu untuk Tristan..Saya Berharap Om dan Tante menerima pinangan saya ini..Karena tulus dari dalam hati saya, Meski saya baru mengenal Kamidia..Saya Yakin untuk menjadi kan Kamidia sebagai Istri saya. "
"Saya Menerima niat baik Nak Adit, Mengenai Pinangan Nak Adit..Om kembalikan lagi pada Midia, Om hanya meminta Bahagiakan Kamidia..jangan sakiti hati nya.. Jaga Kamidia sebagaimana Om dan Tante menjaga dan merawat nya.." jawab Om Tanjung. "Bagaimana Mid???" imbuh Om Tanjung ,kini giliran bertanya pada Midia.
"Mid... Tante berharap kamu mau menerima pinangan Adit ya.. Tristan sangat menyayangi kamu.. Hanya kamu Nid, yang bisa menjadi ibu untuk Tristan. " Pinta Mama dengan mata nya berkaca- kaca.
Kamidia terdiam sejenak, Lalu mengangguk kan kepala nya. Mama dan Papa tersenyum bahagia melihat Midia mau menerima pinangan ku.
"Saya berjanji, akan membahagia kn dan menjaga Kamidia semampu saya om dan tante..". Ucap ku dengan tulus.
"Besan! Kapan kita menentukan hari pertunangan anak anak kita??" smbung Mama antusias
"Nggak apa apa kan Bu Masita,, saya panggil besan! ".Mama terus saja nerocos.
"Tidak apa apa Bu Ivone."
Kemudian aku meminta izin untuk ke kamar Mandi dengan di antar Kamidia.
Disaign Rumah nya sangat anggun dan Asri.
"Mid..." ku raih lengan nya.
"Pak Adit??" menatap tangan ku yang menempel di lengan nya,
"Terimakasih..sebentar lagi kita akan menikah"
"Pak Adit yakin?? Mau menikahi saya??"
"Kamu kira saya becanda! Jauh jaih dari Jakarta kesini..masih nggak kamu percaya??"
__ADS_1
"Bukan nya gitu! Kita kan baru kenal.. Jujur aja nih ya Pak! Saya belum siap jika Pak Adit nanti nya minta Hak Bapak sebagai suami??"
"Jangan panggil Bapak! Kecuali di kantor!?!"
"Mas Adit??? Hahaha aneh!"
"Nggak lucu!!!"
"Iya Maaf! Gimana tadi??? Jujur aja saya belum siap Mas!"
"Aku tidak akan memaksa.. Sampai kamu benar benar siap..memberikan hak mu sebagai istri!"
"Oke!!"
"Dan satu lagi.. Jangan bilang bilang sama orang di kantor! Saya belum siap di Bully!"
"Kamu malu???"
"Bukan gitu Pak Adit!! Saya butuh waktu!!"
"Aku bukan Bapak Mu!!! Bisa di atur..asal kamu menurut sama aku!"
"Iya! Setelah menikah aku mau tetep bekerja".
"Kita lihat saja nanti.."
"Tapi Mas Adit?? Aku masih mau bekerja???"
"Aku menikah bukan hanya untuk dirinku sendiri..Tapi juga Tristan. Tristan butuh perhatian dan kasih sayang Mid..Please!? Aku harap kamu mengerti"
Kamidia hanya mendelik menatap ku
Tristan terlihat sangat bahagia jalan jalan bareng Rizal. Aku tidak pernah melihat Tristan secerewet ini.
Waktu sudah menunjukan jam empat sore, kami segera berpamitan hanya saja Tristan yang masih enggan.
Dengan segala bujuk rayu Rizal dan Midia akhir nya Tristan mau di ajak pulang.
__ADS_1