
Siang ini aku datang membawa Map yang berisi tentang perencanaan Anggaran yang beberapa hari lalu di minta oleh Pak Adit.
Kebetulan di ruangan nya, ada Mas Erwin, Pak Adit ,Mas Budi Juga Pak Basuki.
Seperti nya mereka sedang membahas hal yang serius. Wajah mereka tegang semua.
Setelah membaca dengan serius Pak Adit membanting Map yang tadi ku berikan.
"Memalukan!!!!" teriak nya. Baru kali ini aku melihat Pak Adit marah.
"Coba Mas Reza Periksa!". Pak Reza mengambil dan memeriksa Laporan sesuai perintah Pak Adit.
"Kenapa nggak kamu cek Lagi Mid!! Sudah berapa kali saya bilang!! Jangan sampai Rencana dan Real nya selisih banyak seperti ini!!!!" Kali ino Giliran aku yang di Marahi oleh Pak Adit.
"Pak.. Mengenai anggaran belanja di lapangan.. Sama sekali tidak ada konfirmasi, jadi saya-"
"Saya Apa!!! Harus nya kamu cek ulang! Kalau nggak ada laporan tapi kenapa bisa produksi!!"
"Pak.. Ini bukan seratus persen kesalahan dati Devisi perencanaan, Semua laporan dan Proposal mengenai sudah Final.., bahkan sudah di tanda tangani..mengenai Produksi sebenar nya sudah di luar tanggung jawab kami.." Mas Budi mencoba menjelas kan.
"Mas Budi mau membela Kamidia??? dari dulu ni yah Mas!! Meskipun berkas sudah Final! tetap harus ada konfirmasi mengenai Pembelanjaan dan anggaran rencana pembelanjaan!! Harus nya Kamidia bisa konfirmasi dengan pak Basuki! Agar tidak terjadi hal seperti ini!!!" Pak Adit masih ngotot dengan nada bicara nya yang tinggi
"Aku- Aku hanya mencari jalan alternatif..Agar keuntungan perusahan lebih besar!" Jelas Pak Reza dengan sedikit gugup.
"Provit maksud kamu Mas?? Bukan keuntungan perusahaan yang besar! Tapi keuntungan Mas Reza sendiri secara Pribadi!!"
__ADS_1
"Aditya!" Pak Reza tidak terima.
"Mas Reza sudah korupsi!! Mau mengelak apa lagi!!!" kata kata Pak Adit semakin tajam.
"Aku bisa menjelas kan ini semua Dit!".
"Mau mengelak apa lagi Mas! Bukti sudah jelas!! Apa sih sebenar nya mau Mas Reza!!"
"Aku tidak terima kamu menuduh ku seperti ini!! Hal semacam ini bisa terjadi di perusahaan mana pun!!"
"Mas Reza ini sudah ketahuan salah!! Tapi masih saja mau mengelak!! Aku nggak tahu gimana kecewa nya Almarhum Mbak Desi! Melihat kelakuan suami nya seperti ini!"
"Aditya!!" Pak reza kembali menarik kerah baju Pak Adit.
"Mas Sudah... Tidak baik jika di lihat orang, lebih baik Mas Reza segera kembali ke Ruangan Mas Reza.." kata Erwin setelah kepergian Pak Basuki, Mas Budi dan Midia.
"Satu yang harus Mas Reza tahu! Aku menghormati Mas Reza hanya karena Mas Reza suami dari mendiang Mbak Desi! Tidak lebih!! Mengenai Midia! Minggu depan aku akan melamar nya!!" jelas Pak Adit.
Memdengar penjelasan dari Pak Adit, Pak Reza langsung mengepal kan kedua tangan nya..sambil merekat kan gigi gigi nya. Langsung pergi dari ruangan tanpa permisi.
"Kenapa Lo Mid???" tanya Mbak Dela.
Aku masih diam seribu bahasa, "Nggak usah di introgasi dulu Del!" jawab Mas Budi, membawa ku duduk di kursi ku.
"Udah.. Ngapain Lo nangis terus..!" kata Mas Budi sambil mengelus elus kepala ku.
__ADS_1
"Aku nggak enak aja Mas! Pasti orang orang tuh nganggep , Aku biang kerok nya!" Srok.. Srok.. Menghela ingus.
"Nah!! Lo kan nggak salah.. Lo nggak perlu malu..Udah deh! Jangan Lo ambil hati..yang udah ya udah..." Dengan telaten Mas Budi menenang kan ku. Seperti mendapat energi baru, membuat hati semakin lega.
"Emang nya kenapa si Mas!" Mbak Dela ikutan medekat.
"Tadi di atas..ada sedikit kesalah fahaman..Gitu deh kalau masalah pribadi di bawa ke kantor!! Adit sama Reza jadi nggak profesional.. Seolah Midia jadi penyebab nya.."
"Cinta segitiga maksud nyaa???"
"Mbak Dela apa'an sih!!!" Membuat ku menangis lagi.
"Sorry! Sorry Mid!! Gue cuma becanda doang!"
"Udah! usap tu air mata sama ingus!!" kata Mas Budi membawa kepala ku masuk ke dalam dada nya. Maksud nya sih menenang kan ku..,
"Mid!!!" tiba tiba Pak Adit masuk kedalam kubikel ku, pasti nya melihat pemandang ini..
ku angkat kepala ku, dan menoleh kepada nya.
"Saya Bisa bicara dengan Midia sebentar????" dengan wajah nya kecut.
"Dit! Ini jam kerja..please jangan bawa masalah Pribadi ke kantor... Karena orang lain yang akan kena imbas nya.." kata Mas Budi naik satu oktaf.
"Saya tahu Mas! saya Profesional kok! Saya cuma mau menjelas kan, agar tidak ada yang merasa menjadi korban..."
__ADS_1
"Bisa di bicarakan nanti saja..Waktu break!!".