
"Tante!!!" Nggak biasa nya anak ini memanggil ku dengan kata tante , ia datang bersama Pak Reza. Kebetulan aku dan Mas Budi sedang berada di ruang Pak Manager. Tapi Mas Budi masih sibuk dengan Pak Basuki Membahas persoalan Rencana Anggaran belanja dan Produk yang akan di terbit kan.
"Tristan!!" pekik ku. anak ini langsung memberi ku lembaran kertas yang berisi tentang pendampingan Rekreasi. "Apa ini???" tanya ku sebelum ku baca.
Pak Adit langsung menatap ku, begitupun aku. Aku merasa tidak enak karena yang di cari anak langsung aku bukan Pak Adit.
"Itu surat dari Ibu guru! Kata nya Tristan boleh ikut Rekreasi..asal ada pendamping nya!!" pinta anak ini menatap ku dengan bersemangat,
"Wiihhh!! Sekarang panggil nya Tante nih ya??" sambil ku colek hidung mancung nya.
Sedang kan Pak Adit masih mematung,menatap kami dari kursi kebesaran nya.
"Kata Papa..Nggak boleh bilang Kakak, harus bilang Tante! Biar lebih sopan!!" jawab nya dengan tegas.
Tidak seperti bocah yang ku kenal dulu, sekarang Tristan lebih aktive dan bersemangat dan cerewet tentu nya.
"Nggak apa apa kan Mid???" Sambung Pak Reza "Biar lebih sopan saja..."
"Sejak kapan Mas Reza perduli dengan hal hal yang di lakukan oleh Tristan!!"sahut Pak Adit sambil berjalan menddekati kami, dengan gaya khas Angkuh nya.
"Maksud mu Apa Dit???" Pak Reza memicing kan mata nya.
"Heran aja gitu..Tiba tiba Mas Reza perduli dengan Tristan????" Pak Adit tersenyum mengejek.
"Tidak apa apa Pak! Ini bukan masalah yang serius.." kata ku, Agar suasana tidak menjadi keruh.
__ADS_1
"Walau Bagaimana pun Tristan adalah anak ku! Apa pun yang dia lakukan..Aku berhaK Tahu!" Nada Pak Reza sudah naik Oktaf.
"Kenapa baru sekarang???" Pertanyaan Pak Adit semakin membuat Pak Reza kesal.
"Nggak ada urusan nya sama kamu Dit! Aku kesini hanya untuk bertemu Kamidia!!!"
Apa!!! Apa telinga ku nggak salah dengar???? Kenapa Pak Reza berkata seperti itu?? Mencari ku??? Untuk apa coba!! Gue yakin , Suasana nggak akan kondusif kalau gini cerita nya!! Aku tidak mau terlibat masalah yang terjadi di antara mereka.
Mengurus pekerjaan saja sudah menguras tenaga dan fikiran, Aku mengajak Tristan untuk keluar dari ruangan..Agar anak ini tidak melihat perdebatan yang tidak jelas antara Papa dan Om nya.
"Midia tunggu!!!" Pak Reza membalikan badan nya, padahal tangan ku sudah memegang gagang pintu, tapi masih ketahuan juga.
"Maaf Pak..sebaik nya saya mengajak Tristan keluar dulu..kasihan kalau sampai melihat Pak Reza dan Pak Adit beradu Argumen". Jelasku, aku sengaja memperhalus kata kata ku.
"Hari Minggu kamu bersedia kan?? Menemani Tristan Rekreasi bersama teman teman nya di sekolah??? Biar nanti saya yang jemput.." Pinta Pak Reza.
Gimana ini?! Aku harus menjawab apa Mama tolooooong akuuuuu!!!"
"Nggak Bisa Mas!" Jawab Pak Adit
"Aku tanya Midia bukan kamu.. Lagian kenapa sih??? Seperti nya kamu begitu keberatan..kalau aku mendekati Kamidia.."
YA Elah... Pak Reza!! Kenapa omongan nya semakin Frontal begini. Untung saja ada Pak Yatin yang juga Masuk ke Ruang Manager.
Oh ternyata Pak Yatin membawa Map, mungkin saja tadi ada yang ketinggalan di rumah, maka nya Pak Yatin datang ke sini.
__ADS_1
"Pak.. Tolong bawa Tristan keluar dulu ya... soal nya..kami mau ada rapat nih Pak???" pinta ku berbohong.
"Oke Mbak!!" kata Pak Yatin , untung saja anak ini mau di ajak negosiasi
"Mid! Apa kamu keberatan?? Kalau saya ngajakin kamu pergi hari minggu besok?????" Sekali lagi Pak Reza menawari ku.
Aku tidak berani menatap Pak Adit, aku sendiri tidak enak jika menolak. Apalagi Tristan,pasti akan kecewa dengan ku.
"Midia sudah ada janji sama Aku Mas! Dan yang akan menemani Tristan Pergi , Aku dan Midia!!" tegas Pak Adit.
"Nggak bisa gitu dong!! Tristan anaku! Aku yang lebih berhak atas Tristan!!"
"Ya secara lahiriah sampai kapan pun Tristan adalah anak Mas Reza!! Tapi apa Mas Reza lupa???? Siapa yang merawat dan memperdulikan Tristan selama ini????"
"Tutup mulut mu Dit!!!!" Pak Reza menarik narik kerah baju Pak Adit dengan penuh Emosional.
"Kenapa!!! Bukan kah itu kebenaran nya!!!" Pak Adit tak mau kalah. "Bahkan sampai Mbak Desi Mati pun!! Kamu nggak perduli Mas!!!" Pak Adit menghempas kan tangan pak Reza dengan kasar.
Ruang manajer terdengar sangt gaduh , aku sendiri takut melihat pemandangan ini Membuat Mas Budi dan Pak Basuki mendekati kami.
"Apa yang akan kamu lakukan pada Kamidia!!! Aku tidak akan pernah! Membiar kan Midia bernasib sama kayak Mbak Desi!!" Bantah Adit.
"Berhenti!!!!" teriak ku, aku tidak mengerti dengan mereka. Kenapa bisa jadi serumit ini. Bahkan adu jotos di antara mereka tidak bisa terlekan lagi. Bahkan beberapa karyawan sempat melihat adegan ini
Pak Basuki mencoba melerai, dan aku bersembunyi di balik tubuh Mas Budi sambil menangis, Aku merasa sangat bersalah karena jadi sumber permasalahn di antara mereka.
__ADS_1
"Dit!! Cukup! Malu di lihat orang!!" Untung Mas Erwin datang ikut melerai mereka.
"Sudah!!!!!! Jangan bawa bawa masalah pribadi ke pekerjaan!! Kalian semua nggak ada yang berhak atas Midia!!!" bentak Mas Budi sambil menenang kan ku.