
Masih di tempat yang sama.
"Hey, kita di sekolah yang sama kan? Kenapa tidak berangkat bersama saja?" tanya Alzyland menawarkan diri.
"em..sebenarnya aku pakai sepeda"
"oh apa sepedamu muat untuk berdua?"
Seina melirik sepeda tuanya yang tadi ia lempar karna berlari untuk menolong Alzyland, Sekarang keadaan sepeda itu sudah mengkhawaitrkan, Stang nya agak bengkok dan rantainya pun putus. Soal dagangan yang dibawanya, Untung saja Ana selalu membantu membawakannya.
"emm...sayang sekali aku sendiri tidak bisa menaikinya" cengirnya tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"tidak papa, mari kita berangkat bersama!" Ucapnya tak mempermasalahkan hal itu.
Dia langsung membangunkan Sepeda Seina dan menggiringnya, akhirnya mereka pun berjalan beriringan.
"kau tidak malu, jalan bersamaku seperti ini?" tanya Seina merasa terganggu karna hampir di sepanjang jalan orang orang menatap mereka dengan pandangan beragam.
"malu kenapa? Kita tidak sedang melakukan kesalahan"
"benar juga, tapi berangkat sekolah seperti ini jadi mengingatkanku pada kakakku" Seina kembali memutar bolanya, 7 tahun lalu, saat ban sepeda mereka meletus di jalan, Vero menggiring sepedanya, sementara itu dia memunggu Seina di pundaknya.
"seperti apa kakakmu?"
"Seperti Pelangi, Dia selalu datang dan mengakhiri badai dalam hidupku, dia adalah pelangiku"
__ADS_1
"begitukah? Aku jadi ingin mengenalnya"
Seina langsung tertunduk dengan senyum yang tertahan. "dia sudah diambil kembali oleh penciptanya"
"oh maaf, aku turut berduka"
Lagi, Seina hanya tersenyum, tak ada lagi yang bisa ia katakan, sekarang dirinya larut dalam suasana pagi ini. Pagi yang tidak mendung, namun juga tidak cerah, Suasana yang sangat Seina Sukai. Di tambah semilir angin yang beberapa kali menabrak permukaan wajahnya yang mulus.
Diam diam Alzyland memperhatikannya, anak rambut Seina terus bergoyang tertiup angin, senyum bahagia mendadak tersirat di bibirnya. Kilauan di bola matanya tampak seperti pelangi.
"kenapa?" tanya Seina begitu menyadari kalau Alzyland sedang memperhatikannya.
"kau seperti peri hujan"
Gadis itu mengangkat alisnya, tanda tak mengerti dan meminta penjelasan.
Seina tersenyum malu, berkali kali dia menundukan wajahnya.
"andai saja aku mengenalmu sedikit lebih jauh dari kondisiku sekarang, aku tidak akan mengalami semua ini, aku pasti akan merasa baik baik saja bersamamu" ucapnya begitu pelan.
Baru saja Seina hendak bertanya, tapi tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti di dekat mereka.
Seorang Wanita keluar dari mobil itu dan langsung berlari memeluk Alzyland penuh kekhawatiran.
"syukurlah, ibu menemukanmu di sini, lain kali dengarkan ibumu, bagaimana kalau kau tersesat nanti?"
__ADS_1
"aku tidak akan lupa jalan pulang, aku tidak akan lupa ibu, Karna orang yang pertama kali aku lihat di setiap hidup baruku adalah Ibu"
Wanita itu menggelang, lalu memegang kedua tangan Alzyland dengan perasaan takut.
"dengarkan aku sekali saja nak!"
"ibu yang harus mendengarkanku" tempasnya.
"hari ini aku punya teman, ini temanku Seina, tolong ibu ingat baik baik, dia sudah menyelamatkanku dua kali, aku tidak boleh melupakannya lagi"
Wanita itu langsung saja menyadari keberadaan Seina yang hanya diam memperhatikan mereka.
Ia menatapnya lekat, seakan mencari sebuah kebenaran dibalik manik indahnya, namun setelah itu ia tersenyum dan mengelus rambut panjang Seina.
"salam kenal Bu, namaku Seina" senyumnya seraya membungkuk hormat.
"salam kenal, saya Aletha, mari berangkat bersama" ajaknya terdengar ramah.
Sesaat dia berfikir, ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua Alzyland, Seina tidak boleh menciptakan kesan yang buruk.
"terima kasih, tapi aku tidak bisa, maaf Bu" tolaknya buru buru mengambil sepeda yang masih di pegang Alzyland, sebelum wanita itu memaksanya untuk tetap ikut.
Nyatanya Seina terlalu percaya diri, Wanita itu tidak memaksanya, dia hanya mengeluarkan secarik kertas di dalam tas mahalnya itu.
"ini, alamat rumah saya, tolong datang secepatnya ya, saya menunggu!"
__ADS_1
Seina langsung menerima kertas itu dengan tanda tanya besar di dalam hatinya.