Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
25. Aku Rindu...


__ADS_3

Hujan Sore ini lebat seperti biasanya, tapi tak mengurungkan niat Seina untuk pergi ke makam sang kakak meski harus hujan hujanan karna satu satunya payung yang ia miliki sudah hilang dan rusak.


Kini diapun tiba di samping Pusara yang selalu menjadi tempat sedihnya, tempatnya mengadu, walau hanya menjadi saksi bisu, Seina merasa lega setelah mencurahkan hati padanya.


"Kakak, Apa kakak tidak merindukanku disana? Kakak sudah melupakanku ya, sudah lama kakak tidak datang dalam mimpiku, Aku rindu padamu kak!" ocehnya sambil memeluk nisannya.


Mungkin jika ada orang yang melihat, mereka akan menganggap Seina tidak waras, tapi ia tidak akan peduli itu.


"Aku juga rindu ibu hari ini, itu mendadak sekali, tapi ibu juga pasti akan melupakanku, dan sepertinya ibu tidak tahu kalau kakak tiada" Air matanya sudah terbendung, dan jatuh membentuk buliran bening yang tak kunjung berhenti.


"Aku benci dunia yang luas ini" tangisnya semakin menjadi jadi.


Ia terisak lama disana, tak peduli jika tubuhnya sudah menggigil kedinginan, tak peduli jika dirinya akan sakit, sampai tiba tiba seseorang datang dan memayunginya.


Seina segera mendongak, mendapati Ana yang sudah tersenyum menatapnya dengan mata berkaca kaca.


"A ana? Kenapa kau ada disini?" tanya Seina terkejut sekaligus tak menyangka.

__ADS_1


"Aku jahat ya" ucapnya lirih, payung itu ia jatuhkan, lalu beralih memeluk Seina dengan sangat erat, dan sejak saat itulah air mata mereka membuncah keluar, mereka menangis sesegukan, merasa punya tempat untuk bersandar, Seina menumpahkan air matanya dibahu Ana.


"Kamu hebat Seina, kamu hebat!" Ana mengelus punggungnya memberi dukungan.


"Jangan terlalu peduli seperti ini, aku malu kalau kau melihat diriku yang menyedihkan ini" ucapnya seraya melepas pelukan Ana.


"Tidak Seina, aku tetangga yang payah, aku jahat , aku tidak peduli padamu selama ini, aku minta maaf"


Seina menggelang cepat. "Kamu tetangga yang baik"


...---------SKIP---------...


"Ibuku pasti belum pulang, kau mandi saja duluan, nanti pakai dulu bajuku" titah Ana sambil menuntun Seina menuju kamar mandi.


Seina segera membersihkan dirinya, Sementara Ana pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Ana, kamu sudah pulang? Kenapa basah kuyup begitu nak?, ibu kan sudah memberimu payung" sahut Bu Santi baru saja pulang. Yah, dia bekerja di toko sembako.

__ADS_1


"aku pulang bersama Seina, kami sengaja hujan hujanan"


Ibu tersenyum halus, senang kalau Putri semata wayangnya sudah mau terbuka, dan tidak mengutamakan lagi gengsinya.


"semoga kalian berteman baik" Bu Santi mengelus rambut basah Ana penuh Cinta.


Hubungan ibu dan anak memang memiliki kategorinya sendiri. Seina yang baru saja keluar dari kamar mandi itu hanya tersenyum miris. seperti apa hubungannya dan ibunya kini? Sungguh ia iri melihat hubungan ibu dan anak ini.


"oh Seina baru selesai mandi? Silahkan duduk dulu nak, biar ibu yang siapkan teh nya dan membuat makanan untuk kalian" ucap lembut Bu Santi begitu melihat Seina yang sudah beridiri didepan pintu kamar mandi.


Sambil menunggu Ana mandi dan Bu Santi menyiapkan makanan, Seina duduk melamun memikirkan puisi yang akan dia tampilkan.


"apa ya..." gumamnya entah kenapa tiba tiba saja berfikir untuk menampilkan puisi saat bu Sella bertanya.


...☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆...


...*♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡**♡♡♡♡♡*...

__ADS_1


...♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧...


__ADS_2