Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
44. Ternodai


__ADS_3

harap bijak dalam membaca😊


...-------SKIP------...


beberapa menit setelah meleguk air itu entah kenapa tubuh Seina terasa panas, seperti ada dorongan untuk melakukan hal lain.


"kenapa? Apa airnya tidak enak?" tanya Elena.


Seina menggelang pelan, "sepertinya aku kurang enak badan, boleh aku pulang Elena?"


"kamu isitirahat saja dulu di kamarku, tidak apa apa kok, datipada nanti kamu pingsan di jalan" nasihat Elena.


Arkhan yang sedari tadi memperhatikan menatap Elena dengan penuh selidik, cukup terkejut karna ternyata Elena memiliki maksud tertentu dengan acara makan malam ini.


"apa kau melakukan semua ini untukku?" tanya Arkhan entah menjurus ke arah mana, Tapi Elena langsung memahami pertanyaannya dan tersenyum.


"aku hanya berbuat baik malam ini, jadi tidak perlu berterima kasih"


"kalian bicara apa?" tanya Seina benar benar tak mengerti.


"lupakan saja, aku akan mengantarmu ke kamar Elena" Arkhan siap menuntun Seina, tapi gadis itu menepis, meski dalam pengaruh obat, otaknya masih berjalan, dia mengerti sekarang, kalau sudah berurusan dengan kamar bersama lelaki itu, hal buruk akan terjadi.


"aku pulang saja!" ucapnya cepat cepat pergi, namun lagi lagi Arkhan menahannya, ia menarik tangan Seina dengan sekali tarikan, membuat gadis itu jatuh dalam pelukannya, menghantam dada bidang pria itu.


"pinjam kamarmu!" ucap Arkhan langsung saja menggendong Seina dan membawanya pergi, masuk ke kamar Elena dan mengunci pintu.


Elena tersenyum miring. "aku sudah memasang kamera pengawas di sana"

__ADS_1


...-------SKIP------...


Di dalam kamar, Arkhan melempar tubuh Seina ke atas ranjang dan menindihnya, sementara gadis itu sudah terpengaruh obat seluruhnya, ia pasrah dan menerima apa yang Arkhan lakukan padanya.


Diawali dengan sebuah ciuman panas, saat lidah itu masuk menerobos, dan saling menyecap saliva, tangan Arkhan juga tak tinggal diam, tangan nakal itu membuka kancing kemeja Seina, memperlihatkan dua gunung kembar di balik Bra yang dipakainya.


Arkhan menyentuh salah satu gundukan kenyal itu.


"emh!" Seina mendesah sampai ciuman mereka terlepas.


"kenapa? Aku baru saja menentuhnya, belum meremasnya" seringai Arkhan.


"lakukan saja!" ucapnya dalam ketidak sadaran.


Arkhan kembali menyeringai, dia melepas kain penutup itu hingga memperlihatkan keduanya yang terlihat kenyal dan berisi. Dengan gerakan perlahan Arkhan mulai memberikan pijatan pijatan sensual di sana, sesekali ia mencomot puncak gunung itu dan memelintirnya pelan.


Setelah memberi sentuhan sentuhan manja di area leher dan dada, saatnya pria itu beralih pada puncak kenikmatan yang Seina tunggu tunggu, keduanya sudah tak berbusana, entah sejak kapan pakaian itu terlepas.


"Seina, panggil namaku!" perintah Arkhan saat dia sudah mengambil ancang ancang.


"ini akan sakit tapi hanya sebentar" ucapnya lagi.


Seina mengangguk dan mempersiapkan diri, tangannya melingkar kuat di bahu pria itu.


"kau percaya padaku?"


Seina mengangguk.

__ADS_1


"kau ingin merasakan punyaku?"


Seina mengangguk lagi, ia terlihat sangat tak sabar.


"tutup matamu dan keluarkan suara yang paling indah" Arkhan membuka lebar paha Seina. Dan dalam sekali hentakan ia masukan miliknya dalam rongga kecil itu. Merobeknya dengan paksa.


"aah, sakit!" Seina meringis, bukan mendesah. Tubuhnya serasa di belah dua, suhu tubuhnya meningkat, benar benar menyakitkan.


"panggil namaku" Arkhan mulai bergoyang, memaju mundurkan dirinya dengan lihai. Rasa sakit itupun berubah jadi kenikmatan yang tiada tara.


"Ar..khan" panggil Seina serak serak basah.


"ya sayang, terus panggil namaku"


Rasanya benar benar gila, sangat gila, begitu dahsyat dan luar biasa, mereka mencoba berbagai posisi dan terus mencari kenikmatan yang lebih, tak ingin berhenti, ingin terus dan terus melakukannya lagi.


Malam ini, Seina merengek dan bermanja, sememtara Arkhan memberi kepuasan yang diinginkannya.


Ini benar benar lebih buruk dari mimpi!


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2