Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
23. Semoga bukan yang terakhir.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.. ..


21 Oktober 20XX


Dalam gelapnya malam, Ranvir duduk di teras sambil menghisap barang terlarang, tangannya memegang selembar kertas yang baru saja di bacanya.


...15 Oktober 20XX...


...Dear, Kakak...


...Lupakan saja itu kak, aku sudah punya teman sekarang. Kakak ingat tetangga sebelahku yang jutek itu? Sekarang dia mulai dekat denganku. Dan aku punya satu lagi, namanya Elena, dia orang pertama yang mengulurkan tangannya padaku untuk berteman....


...Banyak sekali hal yang terjadi di bulan ini, aku juga mengenal Alzyland, dia memang pria yang sangat tampan, semua gadis menyukainya, dan sepertinya aku juga suka padanya, hehe, tapi ingatannya sedikit bermasalah...


...Dan Arkhan, pria itu, menyebalkan, dia menjebakku, dia pria yang jahat, aku benci dia, dia benar benar jahat, aku berharap dia segera lenyap dari dunia ini....


...Kalau saja kakak di sini, kakak pasti akan memberikan dia pelajaran kan?...


...Oh ya, Omong-Omong, ceritakan juga kehidupan kakak disana, aku ingin tahu bagaimana keseharian kakak...


...Semoga kakak selalu bahagia,...


...Salam rindu, Seina Aurelia...


"Aku senang kalau kau sudah mau membuka diri pada orang lain, kau begitu polos Seina" gumamnya.


Ranvir masuk ke rumah biliknya, dan kembali dengan alat merajut neneknya. Dia membuat tas rajut dengan sepenuh hati, tentu saja dia bisa melakukannya karna nenek yang mengajarinya.


Walau hanya dibantu dengan cahaya bohlam yang sudah redup, hasilnya tetap bagus. Ranvir bermaksud mengirimkan itu pada Seina lewat paket pos juga.


Tak banyak kata yang Ranvir tulis untuk membalas pesan Seina, hanya beberapa kalimat.

__ADS_1


...21 Oktober 20XX...


...Untuk Seina......


...Tidak ada yang terkesan dalam hidupku Seina, satu hal yang harus kau tahu, Bahagiamu adalah bahagiaku juga, Dan tangisanmu itu Luka ku, jadi jangan pernah berhenti untuk terus bahagia...


...Oh ya,Aku membuatkan tas untukmu, semoga suka....


...Salam Sayang, Ranvir...


"Semoga ini bukan yang terakhir" ucapnya penub harap.


Ranvir bukan tak ingin mengisahkan hidupnya pada Seina, hanya saja kisahnya itu menyedihkan, tidak mungkin ia menjelaskan kalau selama ini dirinya sudah tenggelam dalam dunia narkoba dan kehidupan malam yang membuat hidupnya penuh keputus asaan.


...---------SKIP--------...


Pagi ini, Seina memarkir sepedanya di tempat biasa. Lalu pergi ke kantin tuntuk menitipkan Es Jelly nya. Kebetulan ada Alzyland yang sedang membeli minum disana.


Dan ya, ini hari senin, dimana ingatan pria itu hilang, dan sekarang dia langsung melengos pergi tanpa mempedulikan sapaannya.


Mengerti dengan keadaan, Seina langsung berlari dan berdiri menghalangi jalannya.


"hay, namaku Seina, aku mau jadi temanmu!" Seina menyodorkan telapak tangannya. Namun lagi lagi Alxyland tak acuh, dia pergi begitu saja.


"kita begitu dekat satu minggu yang lalu" gumamnya dengan wajah yang cemberut, merasa terlupakan.


"Heh kau Seina!" panggil suara itu begitu dekat di telinganya.


Seina melirik dan langsung memutar bola mata malas saat melihat Arkhan si mesum itu.


"I Want your Lips!"

__ADS_1


"tidak mau"


"masih baik bibirmu yang jadi incaranku, kau tidak tahu bagaimana aku menyuruh gadis lain untuk memuaskan diriku?"


gadis itu merasa jengah. "aku tidak tahu, dan tidak mau tahu, yang aku tahu, aku adalah wanita bodoh yang kau manfaatkan"


kenapa sekarang setiap ucapan gadis itu selalu memengaruhinya?, dia tidak mengerti, sampai tanpa sadar ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya.


"Ini!" diberikannya ponsel itu pada Seina.


"apa?"


"hapus sendiri fotomu supaya kau percaya padaku!"


Sejurus kemudian Seina langsung mengembatnya, dan mencari foto memalukannya itu. Lalu menghapusnya.


"terima kasih, aku lupa mengembalikan seragam yang ku pinjam, akan ku kembalikan besok" Kini suara Seina kembali normal, dia cepat sekali berfikir positif tentang orang.


"harus sekarang!"


"aku tidak membawanya"


"pulang sekolah nanti antarkan ke rumahku!"


"aku tidak tahu alamat rumahmu"


"Jalan merpati Blok 3"


"...."


Tak tahu harus jawab apalagi, Seina hanya diam dan langsung beranjak pergi, tapi lagi lagi jalannya selalu terhenti saat di depan Sana Elena sudah menatapnya tak suka.

__ADS_1


__ADS_2