Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
48. matahariku


__ADS_3

Malam ini, Ana datang ke rumahnya dengan pakaian senada, ia begitu cantik walau sederhana, dan kedatangannya ini bermaksud untuk mengajak Seina pergi ke acara pernikahan kakaknya yang akan di selenggarakan besok, dan mereka akan menginap di sana malam ini. Namun Seina menolak.


"terima kasih, tapi maaf, aku tidak bisa ikut denganmu"


Aneh rasanya kalau Seina ikut, tiba di sana pasti dia akan seperti orang asing dari planet lain yang tidak mengenal siapapun.


Ana berdecak kesal. "kau mau sendirian? Bagaimana kalau pria itu datang lagi dan macam macam padamu? Kau suka di perlakukan murahan?"


"bukan begitu maksudku, kau salah faham"


"sudahlah terserah saja!" Ana berlalu, pergi meninggalkan Seina dengan perasaan kesal, tentu saja ia marah, karna Seina tak mau di kasihani, Ana sudah menawarkan diri untuk membantunya, menjadi temannya dan berusaha membelanya, tapi gadis itu? Ah lupakan saja.


Sedangkab Seina diam termenung, apa dirinya memang serendah itu? jika saja manusia bukan makhluk sosial, Seina tak ingin berhutang budi pada siapapun.


...-------SKIP--------...


Ana dan ibunya sudah pergi, Seina juga sudah mengunci semua pintu dan jendela, setiap celah rumah ia tutup, menolak untuk kedatangan seseorang.


TOK TOK TOK


Baru saja ia selesai memgunci semua pintu dan jendela, seseorang datang mengetuk pintu dengan keras.


TOK TOK TOK!


Sekali lagi pintu di ketuk, Seina masih diam tak bergerak dari tempatnya, takut jika itu orang yang tidak dia inginkan kehadirannya.


"Ini Aku Alzyland, apa kau ada di dalam Seina?" teriak suara itu membuat Seina menghembuskan nafas lega dan langsung berlari membuka pintu.


Dia terdiam dengan fikiran yang berpusat pada peristiwa itu, ingat persis posisi dan kejadiannya waktu itu, termasuk ucapan Arkhan.


"kenapa buka pintunya lama sekali?"


"maaf, aku tidak tahu kau akan datang, cepat masuk!" Seina menarik tangan Alzyland cepat dan mengunci pintu kembali.


malang sekali, hidupnya selalu di hantui seperti itu.


"Aku di sini, dan akan menghajarnya kalau dia kembali" ucapnya sambil mengepalkan tangan Penuh emosi.


Seina tersenyum miris, orang macam apa yang coba ia lindungi ini? Anggap saja mereka baru dua hari pacaran, tapi Seina sudah menngkhianatinya. Jahat sekali!


"jangan terlalu membahayakan diri, kau harus menjaga dirimu, jangan bertengkar lagi dengan dia" nasihat Seina tak ingin sesuatu terjadi padanya.


"aku menemuinya 3 hari yang lalu" ucapnya tanpa sadar.


mata Seina melotot karna terkejut


"apa?"

__ADS_1


pandangan pria itu lurus, fikirannya berpusat pada kejadian yang tidak bisa ia lupakan.


...FĻÃŞH BÂČĶ...


Tepat di hari Seina menangis, Sorenya Alzyland datang ke rumah Arkhan dengan tidak ramah, sudah jelas dan sangat pasti, jika pria itulah yang merenggut kehormatan Seina.


BRAK!


Ia mendobrak pintu kasar.


"Pecundang! Cepat keluar!" teriaknya amat sangar.


Tak berapa lama keluarlah Arkhan sambil meletakan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar pria itu memelankan suaranya.


"mari tanding di luar, kau mengganggu kenyamanan ibuku!"


Tanpa basa basj, Alzyland menunggu di luar, lapangan kecil dekat rumah Arkhan.


"pria bejat seperti dirimu lebih baik mati saja!"


"yah, dan kata itu hanya berlaku untukmu yang tidak tahu diri"


Tangan Alzyland mengepal kuat. "dasar tidak tahu malu!"


Pertarungan kembali terjadi di antara keduanya.


Namun Alzyland selalu kalah! Ia sudah tersungkur ke tanah duluan.


BUAKH!


Arkhan melayangkan tendangan terakhirnya di dada Alzyland.


...FLASH BACK END...


"Al, jangan melamun!" Seina mengibaskan tangannya di depan wajah Alzyland yang sedari tadi tak berkedip.


Lamunan Alzyland langsung buyar, beralih menatap Seina yang juga menatapnya penuh tanda tanya.


"apa yang dia katakan?"


pertanyaan itu di jawab dengan tatapan oleh Alzyland, memberikan sebuah jawaban yang membuat Seina tidak mengerti.


Lalu pria itu pun mendekatkan dirinya, menyelipkan helai rambu Seina ke belakang daun telinganya.


"Seina, aku benar benar ingin menjadi mataharimu" ucapnya lirih.


KLEP!

__ADS_1


Baru saja beberapa detik kalimat Alzyland selesai, tiba tiba lampu mati.


Grep!


"Seina jangan pergi!, monster petir akan datang kalau sudah gelap begini" cicitnya seraya memeluknya dengan erat.


"di luar tidak hujan Al, aku hanya lupa membayar tagihan listrik" mencoba melepaskan pelukan Alzyland.


"jangan pergi! Jangan tinggalkan aku"


Tampaknya kondisinya semakin parah, masa lalu terbesit dalam benaknya dikala gelap menerpanya.


Dengan susah payah tangan seina meraba raba kolong meja dan mendapati sebuah lilin dan korek, ia pun menyalakannya.


Sinar api dari lilin itu memang tidak menerangi ruangan seluruhnya, tapi cukup untuk keduanya saling menatap dengan jelas. Apalagi senyuman manis Seina yang menatapnya dengan geli.


"kenapa menatapku begitu?"


"bagaimana kamu bisa menjadi matahariku kalau kamu takut gelap?"


Merasa bodoh dengan ucapannya Alzyland hanya terkekeh dan merasa malu.


"kau tahu? Terkadang dalam gelap kita bisa melihat suatu keindahan" Seina berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden tersebut.


Tampaklah pemandangan langit yang indah di balik jendela itu, bulan terlihat bulat sempurna dan kelip bintang mengiringinya.


melihat itu Alzyland begitu kagum, ia ikut berdiri dan mendekati Seina, memeluk hangat gadis itu dari belakang, dagunya menyanggah pada bahu Seina. Tangan kekarnya melingkar di pinggang rampingnya.


"kalau begitu aku mau jadi bulan saja, karna bulan membutuhkan cahaya matahari untuk bersinar, dan aku tidak bisa bersinar tanpa dirimu, matahariku" ucapnya begitu lembut.


Rasanya hangat sekali, bahagia sekali, ingin waktu berhenti di sini saja.


"Al?"


"iya?"


"akan lebih indah kalau kita bisa menikmatinya sambil berbaring"


Alzyland menyetujui hal itu, mereka langsung saja menyeret kasur lantai tersebut dan membawnya ke dekat jendela, berbaring saling memeluk, penuh keromantisan, bukan sekedar nafsu yang membutakan, tapi sebuah kehangatan cinta.


Sambil mengelus ngelus lembut rambut Seina, Alzyland menyanyikan lagu tidur untuknya.


...Twinkle, twinkle, little star...


...How I wonder what you are...


...Up above the world so high...

__ADS_1


...Like a diamond in the sky...


Terus ia nyanyikan dengan suara merdunya hingga Seina tertidur dalam peluknya.


__ADS_2