
hujan masih mengguyur ibu kota pagi ini, tak henti hentinya sejak semalam, menyebabkan aktifitas pagi menjadi terganggu, tak ingin beranjak dari kasur yang terus memberi kehangatan.
"hey bangun...pemalas!" guncangan pelan di bahu Seina membuat ia mengerjapkan matanya dan terbangun, dan langsung mendapat senyuman dari pria berkulit hitam manis di hadapannya.
pelan pelan Seina mengumpulkan kesadarannya, ia memegang perutnya yang tampak sudah ia bisa rasakan perubahan.
Ah benar, ada calon bayi di dalam perutnya. Sepertinya ia harus meralat kembali keputusannya untuk kuliah sambil bekerja, bagaimana tubuhnya bisa bebas kalau ada janin di rahimnya.
"kenapa? Sakit?" tanya Arkhan ikut menyentuh perut Seina.
Gadis itu menggelang, "aku, mau menikah denganmu!"
Duaaar!
rasanya seperti ada kembang api yang meletus ke langit malam di hati Arkhan, meletup letup penuh warna dan keindahan begitu pendengarannya menangkap apa yang Seina katakan.
"memang harus!" senyumnya berusaha untuk bersikap biasa saja.
"bukan karna cinta, tapi karna bayi kita!" Seina menekankan.
"bukan masalah, yang penting kita menikah" Arkhan masih memasang senyumnya, tak diketahui Seina, kalau ucapannya itu sedikit menusuk hatinya.
Mencintai dan mendapatkan Seina, sudah hampir terpenuhi, tapi untuk memiliki hatinya, begitu syulit.
Kedepannya, Seina tak tahu apa yang akan terjadi, dia terpaksa harus mengkhianati Alzyland dan mengambil keputusan untuk menikah dengan pria paling dibencinya di dunia.
Ingat! Dia hanya TERPAKSA!
Tak ada niatan untuk menduakan cinta tulus Alzyland, di tambah kondisinya yang sedang terpuruk, sungguh Seina tidak tega, seandainya Alzyland terbangun dan kembali bersamanya, apa yang akan Seina katakan?
Tuhan, sebenarnya apa yang ingin kau tunjukan pada Seina?
...-------SKIP-------...
Mentari mulai menyingkirkan awan mendung, mengembalikan semua aktifitas dengan nyaman.
Arkhan sudah pamit pulang, Seina sendiri lagi, dengan fikiran yang begitu kacau. Lebih kacau lagi saat kedatangan Ana.
"Seina, kau mendaftar di Universitas mana?" tanya gadis itu sambil membawakan sepiring kue buatan ibunya.
__ADS_1
"aku tidak jadi kuliah!"
"lho, kenapa?"
Makin terpuruk saja rasanya, Seina melingkarkan tangannya di lutut dan membenamkan wajahnya.
"apa karna, bayi di dalam perutmu itu?" tebak Ana.
"ya Ana, aku memutuskan untuk menikah dengan Arkhan?" jawabnya kembali mengangkat wajahnya yang menyedihkan itu.
"APA?" teriak Ana sampai matanya melotot hampir meloncat dari rongganya.
"menikah dengan pria paling bejat yang menghancurkan masa depanmu? Kau serius Seina? " nada suara Ana makin meninggi.
"tidak ada pilihan lain" semakin rendah Seina menjawab.
Kali ini Ana merapatkan bibirnya, sampai bibir itu hanya terlihat segaris.
"ah Seina, kenapa hidupmu rumit sekali" tak ada yang bisa Ana katakan lagi, ia cukup mengerti dengan masalah yang Seina alami.
Runyam bukan?
Mengakhiri hidup!
"pergilah Ana, aku ingin sendiri!"
"tapi-"
"aku mohon!"
Ana melangkah mundur, takut Seina mengamuk lagi, diapun cepat berlalu dan membiarkan Seina menenangkan diri.
Kepala Seina terasa berat, bagai menyanggah batu raksasa. ia pun meremasnya pelan, sangat stres.
"cukup, aku sudah cukup!" teriaknya kemudian bangkit untuk mengunci pintu agar tak ada siapapun yang bisa masuk, lalu berjalan ke arah laci mejanya, mengeluarkan sebuah tali, menyeret sebuah kursi, dan memasang tali di antara kayu yang ada di langit langit rumahnya.
"aku tidak sanggup lagi!" di tatapnya tali dengan lingkaran yang pas di kepalanya.
"maafkan aku tuhan, tapi ujian yang kau berikan padaku itu terlalu berat, aku tidak sanggup lagi!"
__ADS_1
Tangannya gemetar saat hendak memasukan lingkaran tali itu ke kepalanya, tapi tetap Seina paksakan demi mengakhiri hidupnya.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
"Seina!, Seina buka pintunya!, jangan lakukan itu Seina aku mohon, Seina buka pintunya!" teriak suara dari luar jendela.
Seina memejamkan mata, mencoba untuk tidak pedulikan teriakan Elena, ah entah kenapa, orang orang malah peduli padanya. Aneh.
"Tolooong! Tolooong, siapapun tolong" Elena berteriak sekeras yang dia bisa, membuat Ana yang hendak masuk ke rumahnya kembali melesat untuk menghampiri sumber suara.
Berkat teriakannya, orang orang berdatangan dan menyaksikan apa yang akan terjadi.
"Seina!!" tak kalah histeris Ana berteriak.
Dor dor dor!
Pintu berusaha untuk di dobrak.
"Seinaa, percuma kau mengakhiri hidupmu, kau akan memutuskan semua hubungan dengan tuhan, tuhan akan murka dan membuat hidupmu lebih menderita di alam sana! Tempatmu akan di pisahkan jauh dari kakakmu dan ibumu yang sudah meninggal!" teriak Ana menjerit sekuat yang dia bisa.
"kakakku?" gumam Seina menyadari sesuatu.
BRAK!
Pintu berhasil di dobrak oleh Bapak bapak komplek, mereka berlari masuk dan berhasil menghentikan aksi tak terpuji Seina.
"jangan lakukan itu lagi!" Seru Elena.
Mereka kembali saling berpelukan dan terus memberikan pencerahan pada Seina yang sepertinya benar benar sedang berada dalam proses menuju gila.
-
-
-
-
__ADS_1