Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
45. Hancur


__ADS_3

...-------SKIP------...


Pagi hari...


-


-


-


Andai pagi tidak datang, Seina tidak akan pernah tahu jika hidupnya sudah hancur, namun dia harus terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa nyeri dan ngilu, terutama di area sensitifnya. Saat kesadarannya sudah terkumpul seluruhnya, ia melihat ke samping kirinya, dimana Arkhan tertidur pulas dengan bertelanjang dada dibalik selimutnya.


Apa yang terjadi semalam?


Seina terbangun, memeriksa dirinya, pakiannya sudah di rapikan kembali, namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, banyak dekali tanda merah keunguan di sekitar lehernya, Lalu Seina membuka kancing kemejanya, dan semakin terkejut saat area dadanya juga memiliki warna yang sama.


"apa karna air putih itu?" gumam Seina, air mata sudah jatuh menghujani pipinya.


Tanpa menunda waktu lagi, Seina keluar dari kamar tesebut dan menghampiri Elena yang baru saja keluar dari kamarnya dengan seragam rapi.


"kau menjebakku?"


dengan senyum puasnya ia menjawab. "aku tidak akan bermain main, kalau kau tidak main main"


"aku tidak mengerti Elena"


"Kau hampir saja melenyapkan nyawa seseorang Seina, kau tidak sadar itu? Kau membuat Lily hampir mengakhiri hidupnya dan tidak mau ke sekolah karna malu Apa Lily pernah melakukan hal sekejam itu padamu? Sampai kau harus membalasnya secara diam diam seperti kemarin? Sebagai seorang wanita apa kau juga tidak malu? Aku tidak akan tinggal diam dengan perbuatanmu itu!" ucap Elena dipenuhi dengan api kemarahan.


Tentu Seina tidak terima, fitnah yang menyakitkan.


"aku tidak melakukan apapun! Aku tidak pernah menbalas semua perbuatannya, dan kamu tahu itu, aku selalu diam, takut dan selalu takut, aku berlindung di balik punggungmu selama ini, aku merasa bersalah setelah menamparmu, dan kita sudah saling memaafkan kemarin, aku melupakan semuanya, seperti yang kau tahu, dalam hidupku aku tidak pernah membenci siapapun, tapi sekarang kau sudah membangunkan singa yang tertidur"


Seina mengambil gelas kaca diatas meja makan sisa minumnya semalam, menatapnya penuh kegelapan, jiwanya di selimuti amarah kegelapan.


Swush!

__ADS_1


PRANK!


Seina melempar gelas kaca itu tepat ke wajah Elena, menghantam dengan keras dahi gadis itu, pecah bersama darah yang keluar dari dahinya.


"Seina apa yang kau lakukan?" tanya Elena langsung menyentuh dahinya, menutup matanya rapat rapat saat darah itu mulai menetes membasahi wajahnya.


" Mari kita mati bersama Elena!" tawanya tampak seperri orang gila.


Merasa terancam, Elena mengambil pecahan gelas yang jatuh ke lantai, ia berhasil memberi sayatan pada lengan Seina.


"kau saja yang mati!" teriaknya tak kalah sangar.


Mendengar keributan di bawah sana, Arkhan langsung terbangun, jiwanya masih belum terkumpul saat ia keluar kamar dan mendapati kwdua gadis itu bertengkar hebat dengan percikan darah dimana mana.


Pemandangan yang gila, sampai membuat dia berlari dan melerai keduanya.


"hentikan, apa kalian sudah gila?" bentak Arkhan tak habis fikir.


Seina menatap bengis, ia sangat murka melihat pria di hadapannya, bahkan dunia ini tidak cukup menampung kebenciannya pada pria itu.


Karna itu, sebelum dirinya menghancurkan segalanya, Seina memilih pergi, ia berlari sekencang mungkin, melesat cepat, bagai terdorong angin.


"Aaaargh!" teriaknya sekuat tenaga, ia menjerit, meronta ronta, dan memukul mukul kasur lantainya penuh kebencian.


"aku venci hidupku! Aku benci hidupku!" jeritnya begitu pilu, sehingga mendatangkan Ana yang langsung berlari menghampiri dirinya.


"Seina-"


"Pergi! Tinggalkan aku sendiri!" usirnya tanpa mau melihat siapa yang datang.


"dengarkan aku dulu!" Ana mencoba menyentuh pundaknya, tapi segera di tepis Seina.


"aku bilang pergi! Aku tidak mau mendengarkanmu atau siapapun, PERGI!" jeritnya hingga suara itu serak.


Ana melangkah mundur, dia ikut menangis, sebenarnya tidak tega, tapi ia memilih untuk pergi dan akan kembali setelah kondisi hatinya menbaik nanti.

__ADS_1


Tepat saat ia keluar, Alzyland sudah berdiri untuk menjemputnya.


"kau?" tanya Alzyland cukup kaget saat melihat Ana keluar dari rumah Seina.


"sebaiknya jangan temui Seina dulu!"


"kenapa?"


Ana menggekang sedih, justru malah membuat Alzyland semakin pnasaran.


"Dia baik baik saja kan?" tanyanya mendesak untuk masuk.


"sudah ku bilang jangan!" cegahnya.


Tapi Alzyland tak bisa tinggal diam saat mendengar tangis Seina yang terdengar sangat kuat, ia pun menerobos masuk dan sama halnya seperti Seina, berusaha membujuk gadis itu.


"Hey, ada apa?" tanya Alzyland lembut. namun ia jadi khawatir saat melihat tangan Seina yang terluka.


"Hey, ini serius, kenapa tanganmu terluka?, apa yang terjadi?" Tanya Alzyland hendak menyentuh tangannya, namun lagi lagi Seina menepis kasar.


"jangan sentuh aku! pergi dari sini! Aku tidak mau bicara denganmu!"


"hey hey hey, tenangkan dirimu!" Suara Alzyland lebih tendah dari sebelumnya, ia bermaksud menarik Seina dalam pelukannya.


"Aku tidak mau! Lepaskan!" berontaknya.


Gadis itu menjadi agresif, tak mau di sentuh, tak bisa di ajak bicara lembut, ada apa ini? Alzyland bertanya tanya dalam hatinya.


Sepertinya, Alzyland juga memikirkan hal yang sama dengan Ana, dia memilih keluar dan menunggu.


...-------SKIP------...


......................


...****************...

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2