Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
15. Dia bukan antagonis.


__ADS_3

waktu cepat sekali berlalu, Sore ini sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa siswa yang mengikuti kegiatan Ekskul, Seina sendiri sebenarnya mengikuti beberapa Ekskul, tapi karna 3 bulan ke depan dia akan Ujian, Jadi dia menghentikan aktifitas lain selain belajar. Dia tidak ingin punya nilai buruk saat kelulusannya nanti.


Sebelum pulang, ia pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengambil hasil dagangannya, setelah itu pulang.


Namun ternyata perjalanannya selalu saja ada hambatan, si pengusik dalam hidupnya datang kembali bersama teman temannya.


"em, sudah lama sekali aku tidak mengganggumu, " seringainya dengan wajah yang penuh kejahilan.


Seina hanya diam, mengepal kuat lipatan uang yang baru saja di terimanya, Lily tidak bisa menghancurkan usahanya lagi kali ini.


"Ambil uang yang ada di tangannya teman teman!" senyumnya licik.


"jangan, ku mohon" tolak Seina sambil menyembunyikan tangannya ke belakang.


"kalian bisa lakukan apapun asal jangan daganganku"


"oh baiklah, kalau begitu ikut denganku!" Lily menarik tangan Seina dengan kasar. Terus menyeretnya hingga mereka tiba di toilet.


"k kau mau apa?" tanya Seina gugup, dia benar benar ketakutan sekarang.


"pegangi dia teman teman"


Langsung saja mereka mengunci pergerakan Seina, membuat dia semakin takut, pasti hal buruk akan terjadi padanya.


"Lepaskan! apa yang akan kau lakukan Lily? Aku mohon..." pintanya sambil memberontak, namun cekalan ke 4 temannya begitu kuat. Seina kalah tenaga.


"lho, tadi katamu aku bisa melakukan apapun, asal jangan pada daganganmu, benar kan?"


Demi tuhan, dia mengatakan itu hanya karna sudah terpojokan, Seina benar benar tak berdaya.


Srek!

__ADS_1


Srek!


Tiba tiba Lily menarik seragamnya hingga robek, hanya menyisakan br a berwarna putih yang dipakainya.


"apa yang kau lakukan?" mata Seina melotot, tak terima perlakuan Lily yang tak senonoh ini. Ingin marah, ingin berontak, tapi ia benar benar tidak berdaya.


"tenang saja, aku tidak akan melukaimu, hanya ingin tahu, apa kau berani keluar dan pulang dengan pakaian seperti itu?"


"aku akan melaporkan kelakuam burukmu itu pada kepala sekolah!" tegasnya dengan mata yang sudah memerah hendak menangis.


"ayahku? Silahkan saja" senyumnye enteng.


"Lily, untuk alasan apa kau selalu menggangguku seperti ini? kesalahan apa yang pernah aku lakukan padamu? Kenapa tidak jujur saja? Kalau ada sikapku yang buruk padamu aku minta maaf, ayo kita bicarakan ini baik baik"


Lily terdiam, namun sorot matanya semakin menatap Seina dengan tajam.


"kesalahanmu? Kesalahanmu itu karna kau terlalu pintar, semua guru memujimu terus termasuk ayahku, ayahku selalu membandingkan diriku dengan dirimu, Aku benci itu! Aku benci karna selalu tinggal kelas dan selalu dikalahkan oleh orang orang sepertimu, selama ini aku belajar, berusaha begitu keras, tapi otakku tetap saja tak sampai..."


Seina tidak mengira kalau masalahnya akan berlanjut seperti ini setelah kejadian terakhir kali yang terjadi di rumah kepala sekolah.


...--------FLASHBACK---------...


Saat itu, Kepala sekolah meminta Seina untuk datang ke rumahnya, dengan alasan kalau dia punya lebih banyak waktu untuk membimbing Seina. Seina pun datang bersamanya setelah pulang sekolah.


"ayah? Kok membawa Seina pulang?" tanya Lily yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah.


"iya sayang, sebentar lagi kan Seina Lomba Olimpiade, jadi persiapannya harus matang"


"oh" ucapnya tanpa peduli sedikitpun. Lalu dia melengos pergi.


"ayo masuk Seina, maaf soal Lily yang kurang sopan itu"

__ADS_1


"tidak apa apa pak, maaf kalau saya mengganggu kenyamanan keluarga Bapak"


Merekapun langsung memulai pelajaran, Seina memperhatikan begitu khidmat, tak butuh waktu lama untuk mengerti, sampai sampai Kepala sekolah merasa bangga pada kepintarannya.


Hingga dia mengelus ngelus rambut Seina seperti putrinya sendiri. "saya bangga sama kamu Seina, saya akan sangat senang kalau punya putri seperti kamu"


Lily yang menguping pembicaraan mereka pun langsung saja menghampiri mereka dan marah.


"jadi maksud ayah, ayah tidak ingin anak sepertiku begitu? Karna aku anak ayah yang bodoh ayah tidak bangga padaku?"


"bukan begitu sayang, ayah hanya ingin kamu belajar, jangan malas, jangan bolos terus, supaya kamu bisa seperti Seina"


"Seina, Seina, Seina, terus saja Seina, ayah tidak tahu kalau aku juga sudah berusaha keras, ayah terlalu peduli pada gadis cupu itu, aku benci kau Seina, aku benci ayah juga, aku benci kalian semua!"


...-----FLASHBACK END-----...


Yah, setelah kejadian itu Kepala sekolah sudah tidak membimbingnya lagi, Seina fikir masalahnya sudah selesai di situ saja, tapi tampaknya Lily masih menyimpan kebencian padanya.


Sebenarnya masalahnya itu sepele, mungkin karna memang dari awal Lily tidak suka padanya, jadi berlarut larut sampai sekarang.


"Lily, kita bisa belajar bersama..."


"terserah saja!" ucapnya langsung saja pergi membawa seragam Seina yang sobek, diikuti oleh teman temannya dibelakangnya.


"Lily tolong kembalikan seragamku, bagaimana aku bisa pulang seperti ini!!" Teriak Seina frustasi.


...*******************...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2