
Rima, alias ibunya Seina, sekarang sudah di makamkan, Seina hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya, semoga Ibu bahagia di sana.
Seina menyimpan setangkai mawar hitam di nisannya, setelah itu ia pulang, kembali ke rumah yang sepertinya hanya ingin ditinggali Seina seorang diri.
namun di depan rumahnya saat ini, kakek pengantar pos datang, memberikan Seina surat dan sebuah paket.
Ah Seina lupa, kalau Ranvir akan selalu ada di saat dia benar benar membutuhkannya.
Diapun masuk setelah mengucapkan terima kasih pada sang kakek, ia membuka paketnya terllebih dahulu, dan mendapati Sebuah Tas rajut di sana.
Seina tersenyum tipis. "ini pasti kakak yang buat, rajutannya tidak rapi, berbeda dengan hasil rajut nenek" gumamnya sambil membandingkan tas dan topi yang di dapat sebelumnya
Namun saat Seina membuka isi surat itu, ia agak kecewa dengan hasilnya, kenapa begitu singkat? Apa Ranvir sudah bosan dan mulai tidak peduli padanya? Dia selalu membalas pesan yang sama setiap kali Seina memintanya untuk membuka diri.
Terkadang ia ingin datang dan menemuinya, tapi mungkin, ia bisa datang setelah menyelesaikan sekolahnya yang kurang lebih tinggal dua bulan lagi.
Untuk saat ini, Seina menulis surat, mencurahkan perasaannya lewat tulisan, semua yang dijalaninya beberapa hari ini sangatlah berat.
"andai kakak di sini sekarang, aku ingin mengadu di pelukanmu" gumamnya begitu ia selesai menulis surat.
...-----SKIP------...
*Beberapa hari kemudian
Pagi kali ini dan seterusnya, Seina tidak akan bertemu lagi dengan Arkhan, karna sejak kejadian itu ia melaporkan Arkhan ke kantor polisi dan sekarang ini ia sedang berada di lapas remaja.
"Seina!" panggil Elena saat dia hendak masuk kelas.
dia berlari ke arah Seina dan menarik tangannya.
"kita harus bicara!"
"Lepaskan!" Seina memberontak.
Seperti biasa, Elena membawanya ke tempat sepi.
__ADS_1
"kenapa kau tega melakukan ini pada Arkhan?"
"lakukan apa?"
"kau melaporkan dia ke polisi, dan sekarang dia berada di lapas, Apa kau tidak berfikir tentang masa depannya? Tentang ibunya yang bergantung pada dia?, aku tidak mengira kalau kau bisa sejahat ini"
Seina tersenyum tipis, ia menggelangkan kepalanya pelan.
"orang jahat harus di hukum kan? Bukan di lindungi" tegasnya langsung saja pergi, walau dihatinya ia juga gelisah memikirkan bagaimana nasib ibunya Arkhan sekarang.
*
Karna itu, pulang sekolah hari ini ia ingin melihat bagaimana kondisi ibunya.
"hey Seina, kamu mau kemana?" tanya Alzyland tiba tiba muncul.
Seina yang siap mengayuh sepedanya itu kembali turun.
"aku ada sedikit urusan"
Seina menggelang. "tidak, lagipula ini tidak ada hubungannya denganmu"
"aku tahu, aku ikut bukan untuk mencampuri urusanmu, tapi hanya untuk menemanimu saja"
Akhirnya Seina mengangguk dan mengizinkannya ikut. Dia pun harus menggiring sepedanya, karna tidak mungkin kalau boncengan berdua, memalukan.
"kamu bawa sepeda cuman buat di giring? Memangnya kita tidak bisa naik berdua?" tanya Alzyland merasa heran.
"kamu nggak akan malu?"
"tentu saja tidak, ayo naik, biar aku yang mengayuh sepedanya" Alzyland langsung mengambil alih sepeda Seina.
Sekarang dia sudah duduk di joknya dan siap mengayuh, Seina pun langsung duduk di bagian belakang, hatinya gelisah karna tak yakin kalau Alzyland akan membawa sepedanya pelan. Ya, walau hanya sekedar sepeda tua, Dia jadi trauma mengingat kejadian saat naik motor bersamanya.
"lingkarkan tanganmu di pinggangku!" titahnya.
__ADS_1
Ah kalimat itu, kenapa Seina begitu menyukainya. Dia ingin mendengarnya lagi.
"hey dengar tidak? Lingkarkan tanganmu di pinggangku!"
Seina langsung saja melingkarkan tangannya di pinggang Alzyland, dan detik berikutnya sepeda pun melaju.
namun belum jauh dari sana, Alzyland tak bisa mengendalikannya, alhasil mereka pun hilang kesimbangan dan jatuh terperosok.
Gubrak!
"maafkan aku, Apa kau terluka? Mana yang sakit? Ayo kita ke dokter!" seru Alzyland langsung saja meraih tubuh Seina dan memeriksanya.
Seina tak bisa menahan tawanya, ia tertawa geli sambil menepuk nepuk pundak Alzyland.
"kenapa tertawa?" tanya Alzyland kebingungan di sela sela rasa khawatirnya.
"kamu lucu, kalau tidak bisa jangan memaksakan diri, biar aku saja" kekehnya lalu membangunkan sepeda yang jatuh itu.
"maaf, ternyata membawa sepeda tidak semudah membawa motor"
"tidak apa apa, ayo!" ajak Seina sudah siap.
Walau agak memalukan, sekarang Alzyland duduk dibelakang dan meraih pinggang Seina.
"kenapa pinggangmu kecil sekali?"
"ya ampun, jangan memelukku seperti itu, apa sebelumnya kamu pernah lihat posisi orang naik sepeda seaneh ini?"
"hehe...maaf" cengir Alzyland langsung melepas pelukannya. Wajahnya memerah tak bisa menyembunyikan malu sekaligus kikuknya.
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...----------------...