
Tampaknya dendam itu sudah terkubur, memunculkan benih persahabatan yang baru.
"maafkan aku Seina, aku sungguh minta maaf" Elena memegang kedua tangan Seina dan menatapnya dengan mata berbinar. "aku juga minta maaf atas nama Lily, karna pernah melakukan pengeroyokan padamu waktu itu" lanjutnya.
"kamu tahu?"
Elena mengangguk. "aku berteman dekat dengannya sejak di tahun ketiga sekolah"
"tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu dekat dengannya?"
"itu hanya karna kau tidak peka"
"oh begitu" ucapnya percaya saja.
Sepertinya pembicaraan mereka sudah cukup, dan bel tanda masuk juga belum berbunyi, Seina mengurungkan niatnya untuk membolos dan memutuskan untuk kembali ke kelas.
"baiklah, bukan hanya aku yang berusaha, tapi kita, setuju?" tanya Seina menyimpulkan.
"setuju!"
"kalau begitu, aku akan kembali ke kelas, sampai jumpa nanti" pamitnya langsung saja pergi.
Elena tersenyum menatap kepergiannya, bukan senyum senang karna Seina begitu mudah memaafkan. Tapi senyum yang licik.
"ah betapa bodohnya gadis itu, sebaiknya cepat sadari kebodohanmu sebelum hal buruk terjadi" gumamnya.
Elena langsung saja pergi untuk menemui Lily yang masih menahan rasa malu akibat kejahilan seseorang.
"tenang saja, aku akan buat perhitungan yang setimpal padanya"
"benarkah? Kau memang sahabatku yang baik" Lily langsung memeluknya penuh rasa terima kasih.
"dia itu gadis yang licik, aku tidak akan percaya pada kepolosannya"
Sepasang mata terus saja menguntit mereka berdua dari kejauhan, tangannya mengepal kuat, jelas teramat benci pada keduanya.
...-------SKIP------...
Pelajaran tengah usai, seperti biasa para murid berdesakan melewati gerbang dan parkiran jadi berdesakan karna banyaknya pengendara motor dan mobil mewah.
__ADS_1
Berbeda dengan Seina, yang mengambil sepedanya dengan enteng, karna hanya dua sepeda tua yang terparkir di pojokan.
"Hey peri hujan!" sapa Alzyland sambil menggiring motornya.
"apa?"
"ayo pulang bersamaku!" ajaknya
Seina menggelang cepat, tentu tidak ingin terulang lagi kejadian yang akan membahayakan nyawanya.
"kenapa?"
"sepedaku bagaimana?"
"taruh saja di situ, karna besok aku akan menjemputmu lagi"
"memangnya kamu tahu rumahku?"
"karna itu biarkan aku mengantarmu sampai rumah, agar besoknya aku bisa datang lagi"
Seina terdiam. "tidak usah, nanti kamu bawa kenceng kenceng lagi motornya"
Akhirnya setelah lama berdebat, Seina pun mau diantar pulang bersamanya.
motor sport itu langsung saja melaju, namun kembali terhenti saat Elena berteriak dan menghampirinya.
"Kita makan malam bersama di rumahku, kau tidak keberatan?"
Seina terdiam. "tidak terimakasih, aku tidak ingin merepotkan"
"tidak merepotkan kok😊, tolong datang yah" pintanya begitu memohon.
"baiklah" ucapnya merasa tak tega melihat wajah memelas itu.
Elena tersenyum senang, "terimakasih, rumahku dekat rumah Arkhan, hanya terhalang 5 rumah lainnya"
"baiklah"
Usai berbincang, motor kembali melaju, menyisir jalan raya yang begitu datar dan mulus.
__ADS_1
"jangan terlalu dekat dengan gadis itu" nasihat Alzyland.
"kenapa?"
"aku tidak suka padanya"
"kenapa? Dia cantik kok"
"aku tau, tapi aku tidak suka saja, jangan terlalu dekat dengannya, apalagi pria itu"
Seina tersenyum, apa dia cemburu? Kalau begitu Alzyland juga suka padanya. Ingin rasanya bersandar di bahu pria itu sambil memeluknya, sepertinya sangat nyaman, tapi Seina tak berani, ia hanya mencubit bagian baju belakangnya dengan gugup.
"peluk saja!" titah Alzyland seolah mengerti apa yang Seina mau.
"apa?"
"Peluk aku Seina, lingkarkan tanganmu!"
Bruk!
Dengan malu malu Seina mendekapnya, entah kenapa jantung itu semakin berdetak kencang, tak mau berdetak normal sampai mereka tiba di rumah.
apa Seina semakin menyukai Alzyland?
"terima kasih sudah mengantarku" senyumnya saat ia sudah turun dari motor dan membuka helmnya.
"aku tidak di biarkan masuk?" senyum Alzyland jelas bercanda.
"tentu, kalau kau tidak keberatan untuk membantuku membuat es jelly"
"bukan masalah besar" 😉
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1