
setelah pulang dari rumah sakit yang menyesakan itu, kini saatnya berkumpul di rumah Ana, Namun Arkhan menolak untuk bergabung, aneh rasanya kalau berkumpul dengan gadis gadis. sementara dirinya lelaki seorang.
Lagipula para gadis juga akan merasa canggung, jadi mereka sepakat untuk membiarkan Arkhan kembali ke pekerjaannya. Dan mereka dengan tenang menikmati acara makan makan sederhana di rumah Ana.
"apakah punya teman itu seperti ini rasanya?" batin Seina merasa bahagia. Suasana hati yang baru pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ada getaran kebahagiaan saat melihat tawa kedua temannya yang begitu riang dan gembira, saling berbagi cerita, saling membuka diri, saling mengemukakan pendapat, dan saling mendukung satu sama lain. Mereka semua pintar, yah, Siapalah Ana di sekolah favorit itu tanpa kepintarannya? Dia juga bisa masuk sekolah itu seratus persen karna otak, tidak ada suapan berupa uang.
"musuh, setelah berubah jadi teman, terasa lebih menyenangkan" batin Seina masih dengan hati yang begitu campur aduk
...-------SKIP------...
Bulan tampak kelabu malam ini, tak lama, hujan pun turun, awan mendung menutup cahaya bulan sehingga menambah pekat malam yang gelap gulita.
Kenapa harus hujan yang selalu mengingatkan Seina pada Ranvir?
dia rindu pria hujan itu!
Kapan dia akan mengunjunginya lagi?
"AKU RINDU PADAMU KAK!!!" Seina berteriak di balik jendelanya yang di biarkan terbuka.
"aku di sini Seina!" ucap suara khas lelaki itu, membuat Jantung Seina hampir jatuh rasanya.
Ia memutar tubuhnya dan tersenyum bahagia saat melihat pria berjambul itu sudah berdiri dengan senyum pelanginya.
"Kakak!" serunya segera berhambur dalam pelukan hangatnya. "kenapa kakak lama sekali? Banyak yang terjadi di sini, kenapa kakak juga tidak membalas suratku? Apa Kakak sudah bosan padaku? Apa Kakak sudah tidak menyayangiku lagi?" tanyanya berbondong bondong, tumpah sudah air matanya membasahi baju Ranvir.
__ADS_1
Terasa lembut sekali usapan tangan Ranvir di rambutnya. "aku sayang padamu Seina, Adikku satu satunya, yang paling manja"
Semakin dipeluknya tubuh Ranvir dengan erat, saking nyamannya, Seina pejamkan mata indahnya sejenak.
"SEINA!" teriak seseorang hampir saja membuat gendang telinganya pecah.
Degh!
Seina terhenyak bukan main saat ia membuka matanya, kenapa jadi Arkhan yang sudah seperti banteng marah dihadapannya? Dimana Ranvir yang baru saja ia peluk barusan?
Apa sebenarnya yang terjadi barusan?
Seina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, nihil, tak ada Ranvir di sana.
"kau ini kenapa hah?" tanya Arkhan berjalan menghampiri dan menyentuh dahi Seina yang panas. "pantesan, demam!"
"Ranvir tadi di sini! Kemana dia pergi?" gumamnya masih terlihat seperti orang bodoh.
"tapi dia di sini, aku memeluknya barusan, kenapa dia pergi secepat itu" Seina mulai menangis, racun gila sepertinya sudah menyebar dalam dirinya.
"barusan?" Arkhan memandang wajah Seina yang gelisah, memegang kedua bahu gadis itu dan mendapat suatu keanehan di sana. Suatu kondisi yang sangat Arkhan fahami.
"tidak Seina, jangan kau!" Arkhan langsung menarik Seina dalam pelukannya.
"kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkanku?" tangis itu mulai menggila.
"bukan pergi, tapi dia memang tak pernah kembali, itu hanya halusinasi saja, jangan biarkan fikiranmu kacau Seina!"
__ADS_1
"hiks..." tangisan itu makin pilu.
Arkhan menuntun Seina untuk duduk di kasurnya, mendudukan gadis itu di pangkuannya, memeluknya seperti bayi dan menghapus air matanya.
"Arkhan..."panggil Seina dalam kesadarannya. Dia maja sekali, padahal belum memasuki fase ngidam.
"iya?"
"apa kau menginginkanku hanya karna nafsu?"
"siapa bilang?"
"aku yang bilang"
Cup!
kecupan selalu mendarat di sela sela obrolan mereka, Seina sudah tak terganggu lagi dengan hal itu.
"tentu saja karna cinta, aku tergila gila padamu saat pertama kali bertemu, kau yang beitu lugu tidak tega jika aku harus memaksamu untuk menukar posisi Elena!"
Oh jadi karna itu, karna itu Arkhan tidak pernah meminta hal menjijikan seperti yang Elena lakukan. Seina mengerti sekarang.
Ingin bertanya lagi, tapi matanya sudah berat, pria itu seperti menghipnotinya malam ini, tak ingin membuatnya lepas dari pelukan pria itu.
dalam tidurnya, mereka berpelukan sepanjang malam...
-
__ADS_1
-
-