Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
38. Kesempatan dalam kesempitam


__ADS_3

Mereka kembali berpamitan sebelum malam tiba.


"Al, terima kasih sudah menemaniku" senyum Seina saat mereka tiba di perempatan jalan dan siap berpisah di jalur yang berbeda.


"aku yang seharusnya berterima kasih, karnamu hidupku dipenuhi warna sekarang" senyum Alzyland tulus.


"kalau begitu, aku pamit ya, jaga dirimu, pulang langsung istirahat, jangan terlalu melakukan hal berat, dan jaga kepalamu itu, jangan sampai terbentur apapun" nasihat Seina berlebihan.


"iya iya, boleh aku minta sesuatu?" tanya Alzyland.


"apa?"


"aku ingin bersandar di pundakmu sebentar"


Seina terkekeh, hal sederhana yang sama sekali tidak melebihi batas, pria itu memag aneh. Dia mulai menghadapkan dirinya, dan wajahnya pelahan jatuh, terbenam di pundak Seina.


"wangi lavender" ucapnya sambil menghirup wangi di rambutnya.


"itu shampo ku!"


"lain kali aku akan mencobanya juga, aku sangat suka wangi seperti ini"


"boleh juga" senyumnya.


Alzyland mengubah posisinya seperti semula. "terima kasih, peri hujan"


"jangan berlebihan, aku bukan peri hujan"


"lihat, langit sudah mendung, malam ini hujan akan turun, itu artinya kau merindukanku"


Seina mengertukan alisnya tak mengerti. "kenapa begitu?"


" hujan itu identik dengan rindu, karna kau peri hujan, jadi kau akan menjelma sebagai peri hujan dan datang ke rumahku" kelasnya di iringi dengan tawa.


Seina ikut tertawa walau dia tidak mengerti seluruhnya. Setelah itu merekapun harus berpisah dan bertemu lagi besok.


...-------SKIP-------...


Akhirnya Seina bisa berbaring dengan bebas, ia sudah menyelesaikan semua tugasnya hari ini.


Tanpa menunggu waktu lama, ia sudah terlelap di kasur lantainya. Tidur begitu tenang meski suara hujan malam ini sangat berisik.


Sepertinya Seina lupa menutup pintu, sehingga seseorang bebas masuk dan menerobos kamarnya. Dan orang jahat itu adalah Arkhan, dia datang setelah di antar Elena.


Arkhan masuk mengendap endap sampai tiba di samping Seina yang sudah terlelap itu. Seringai mesum tersungging di bibirnya.


"Kau tidak bisa menyalahkanku untuk kejahatan ini, Jadi jangan menganggap jika kau berjasa dalam hidupku" ucapnya semakin mendekatkan diri pada Seina.


tak bosan bosannya ia menatap bibir Seina yang menjadi favoritnya. maka sebelum dia terbangun dan mengamuk, Arkhan mengambil keuntungan dengan mengecup bibirnya pelan.


hangat dan lembut!


telapak tangan Arkhan mulai mengelus rambutnya, menyibakan poni Seina dan memperlihatkan dahi lebarnya yang ternyata memiliki bekas luka.


di situlah Arkhan menyadari sesuatu, kalau saat kecil dulu dia pernah melempar batu pada seorang gadis kecil.


...~Flashback...


malam itu, tepatnya malam Valentine, dimana semua orang sibuk mencari cokelat terbaik untuk diberikan pada orang tersayang mereka. Tak terkecuali anak anak yang ingin memberi cokelat pada ibu, ayah, kakak ataupun teman.

__ADS_1


Ada sebuah toko cokelat yang selalu menjual habis cokelat itu karna rasanya yang lezat dan tampilannya menarik untuk anak anak. Seina yang rela menabung selama sebulan untuk membeli coklat, dan menghadiahkannya pada sang ibu kini tidak boleh kehabisan.


Ada satu bungkus cokelat terakhir yang dia lihat, maka diapun mengambilnya dan memberikan sejumlah uang pada penjaga toko.


"heh itu punyaku, aku yang memesannya duluan" teriak bocah lelaki dengan nafas terengah engah karna berlari.


"aku mengambilnya duluan!"


"heh pak, bukankah aku sudah bilang untuk tidak menjual cokelat ini dan menungguku kembali?" tanya bocah itu pada pak penjaga toko.


"maaf nak, Bapak kira kamu hanya bercanda"


"ah sudahlah, lupakan saja, berikan cokelat itu!" pintanya paksa.


"tidak mau, aku sudah membayarnya" tolak Seina bersikeras.


"aku akan membayarnya dua kali lipat padamu"


"tapi ini untuk ibuku, kamu beli saja di toko lain"


"dasar payah, cepat berikan saja cokelat itu padaku" bentaknya sambil merebut sebungkus cokelat di tangan Seina.


"tidak mau!" Seina kembali merebut cokelatnya dan berlari, tentu Arkhan mengejarnya, dia mengambil sebuah batu yang kebetulan ada di sana.


"ayo berikan sebelum aku melemparmu dengan batu!"


Seina tak mendengarkan, ia terus berlari dan sesekali melihat ke belakang memastikan jaraknya dengan Arkhan.


Dan begitu Seina menoleh, Arkhan langsung melempar batunya sekuat tenaga sampai mengenai dahi Seina.


PELETAK!


"Huwaaaaa....kamu jahat, aku benci kamu..." tangisnya.


Arkhan yang merasa terkejut itu langsung menghampiri Seina penuh rasa bersalah, ia mengusap ngusap dahi Seina dan menyusut darahnya.


"jangan menangis, berhentilah, kau bisa membuatku Tuli" teriak Arkhan sambil menutup telinganya.


"Huwaaaa!!" tangis Seina semakin kencang.


"heh ku bilang berhenti!" sentaknya lagi malah semakin membuat Seina menjerit.


Detik berikutnya, Arkhan mencium dahi Seina dan itu sukses membuatnya berhenti menangis.


"apa yang kamu lakukan?"


"ayahku bilang, kalau kita terluka di bagian manapun, maka semua akan sembuh dengan ciuman"


...~Flashback end...


Mengingat itu Arkhan terkekeh pelan, ternyata dia gadis kecil yang dimarahinya, Pantas saja Dia sudah tidak asing lagi dengan wajah manisnya ini.


Cup!


Dia melakukan ciuman lagi, kali ini lebih dalam, membuat Seina mengerjap dan terbangun dari tidurnya.


"Puah!" dia langsung saja meludah dan memalingkan wajahnya penuh rasa jijik.


"Dasar sinting, kau lakukan apa padaku? cepat pergi dari sini sebelum aku berteriak!" ucapnya sambil memeluk dirinya sendiri, sudah di pastikan akan begini jadinya kalau dia di bebaskan.

__ADS_1


"coba saja!"


"Tolooong, tol- emmp lepsjahshsajawksk" Arkhan langsung saja membekap mukut Seina menggunakan tangannya.


"sudah berani rupanya"


"emmp!" Seina semakin memberontak.


"tenang tenang, kalau kau tenang aku tidak akan berbuat kasar"


Seina mencoba untuk tenang, dan seperti katanya, pria itu mulai berbicara baik baik. Dia melepaskan tangannya di mulut Seina.membuat gadis itu langsung berdiri dan membelakanginya.


"kenapa kau masih memperlakukanku seperti ini? Bukankah aku sudah membebaskanmu?" tanya Seina merasa kecewa.


Sebelum menjawab, Arkhan memasang senyum terbaiknya, lalu ikut berdiri dan memeluk Seina dari belakang.


"benar, apa aku bisa mengucapkan terima kasihku lewat ciuman?"


Lagi...


Seina tak tahu harus berbuat apa, dia tidak bisa melarikan diri darinya.


"berhentilah merendahkanku!"


Dengan cepat Arkhan membalik tubuh Seina agar dia menghadap ke arahnya.


"bukan merendahkan, tapi membanggakan"


"Arkhan..." Seina menahan dada bidang pria itu saat wajahnya semakin dekat.


"ayahku bilang , kalau kita terluka di bagian manapun, maka semua akan sembuh dengan ciuman"


Seperti dejavu, Seina pernah mendengar kalimat itu dari seseorang, tapi entah siapa.


"karna itu, mari kita berbagi luka" lagi lagi Arkhan mengambil kesempatan dengan mencium bibirnya saat Seina masih berfikir keras.


Dalam keterkejutan, Seina menatap mata yang sudah tertutup rapat menikmati sensasinya. Perlahan mata itu terbuka dan pandangan mereka bertemu, Seina tak bisa menyembunyikan rasa malunya, dia memilih untuk mendorong pria itu, namun Arkhan semakin menariknya, tak memberi Seina kesempatan untuk bernapas.


Mel umat dan menghisap sudah menjadi candu bagi Arkhan, hanya kepada bibir itu ia tergila gila.


"boleh aku katakan sesuatu?" bisiknya dengan napas yang berhembus masuk ke lubang telinga Seina.


"Aku suka padamu, tanpa syarat"


Jelas Seina tidak percaya, ia menatap kesungguhan di balik matanya, tapi mata itu begitu polos, tak menyorotkan rasa apapun selain suka damai.


"jangan menatapku kalau tidak mau bibirmu semakin membengkak!"


Seina langsung memalingkan wajahnya, membuat Arkhan terkekeh geli, tapi detik berikutnya ia memeluk Seina dengan tulus, tanpa ada unsur mesum, dia benar benar tulus meneluknya malam ini.


"ayo kita menikah!"


......................


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2