Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
9. Hanya sekejap


__ADS_3

Hujan tidak berhenti dari semalam, pagi ini malah bertambah deras. Entah kenapa musim hujan di tahun ini buruk sekali, tapi lepas dari itu Seina menyukainya. Ia tetap bangun pagi dan memasak semua makanan yang tersisa di dapur.


Sementara Ranvir juga ikut serta, mereka sarapan bersama lagi setelah sekian lama tak bersama.


"wah kau sudah pandai memasak sekarang, semua masakanmu enak" puji Ranvir tulus.


Seina tersipu malu. "bukankah wanita harus pandai memasak?


"hem benar juga, gunanya istri adalah menyediakan makanan untuk suaminya"


"jadi kakak harus mendapatkan istri yang bisa memasak" Seina menggodanya hingga membuat Ranvir tersedak makanannya sendiri.


"pelan pelan" ucapnya sambil memberikan segelas air bening padanya.


"kamu sih bicaranya begitu" ucapnya begitu ia selesai minum.


"apa aku salah bicara?" tanya Seina tak mengerti.


Ingin rasanya Ranvir menjelaskan, namun dia segera mengurungkan niatnya kembali, karna jika Seina tahu perasaan yang sesungguhnya, maka hubungan mereka akan menjadi canggung.


"kak!" tegurnya membuat Ranvir sedikit terkejut.


"tidak, a aku harus pergi sekarang" ucapnya tiba tiba. Membuat Wajah Seina berubah seketika.


"pergi? Kemana?"


"maaf Seina, tapi aku tidak bisa meninggalkan nenekku lama lama"


"tapi, kakak baru saja tiba"

__ADS_1


"aku tahu, tapi nenek tidak bisa tanpaku, dia membutuhkanku Seina, lain kali aku akan membawa nenek ke sini, aku janji" Ranvir segera beranjak.


"setidaknya tunggulah besok, hujan pagi ini sangat deras"


"maaf, tapi aku senang melihatmu baik baik saja, semoga kebahagiaan di dunia ini berpihak padamu selalu" ucap Ranvir dengan harapan besar, dipeluknya tubuh ideal Seina sebagai tanda perpisahan.


"kakak aku mohon...tinggal bersamaku sehari saja, kita belum melakukan apapun" ucapnya mulai menangis.


"Lain kali kita akan melakukan banyak hal bersama, tunggu hari selanjutnya" ucapnya begitu lembut, sangat lembut hingga menciptakan ketenangan dalam hatinya.


"aku mengirim surat kemarin"


"aku akan baca setelah sampai dan membalasnya"


"aku menyayangimu"


"aku juga, jaga dirimu baik baik, tetap jadi Seina yang pintar, hingga kau bisa menggapai semua mimpi dan cita citamu, dan mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari ini"


...~~~SKIP~~...


Sekarang Ranvir sudah pergi, bukan hanya meninggalkan jejaknya di rumah ini, namun juga membawa sepotong hatinya.


"Seina!" panggil Ana yang sejak tadi memperhatikan Seina yang hanya diam mematung dengan air mata terbendung di pelupuk matanya.


"hah?" sahutnya agak kaget, dia tidak menyadari entah sudah berapa lama menatap kepergian Ranvir yang kini sudah hilang dari pandangan.


"siapa lelaki itu?" tanyanya penuh selidik.


Seina mengerutkan alisnya, apakah Ana sedang peduli padanya? Tapi kenapa? Tumben sekali dia bertanya.

__ADS_1


"dia kakakku"


"oooh ku fikir siapa"


Hening!


Keadaan mendadak canggung, sampai akhirnya Ana menawarkan diri.


"aku boleh membawa daganganmu?" tanyanya sambil menatap termos besar di atas kursi.


"ah ini..."


"Jangan salah faham, aku hanya ingin membantu, daripada kau diganggu Lily lagi dan kau tidak dapat penghasilan, nanti aku dan ibuku yang repot jika harus berbelas kasih padamu"


Seina dapat melihat jika Ana mulai peduli padanya walau masih terlihat gengsi untuk menjadi temannya.


"terimakasih!"


"oh aku hanya akan membawa daganganmu saja, untuk pergi sekolah kau pergi sendiri"


"baiklah, kalau kau mau ambil saja dua atau tiga, aku memberikannya gratis untukmu"


"yah, memang harus" ucapnya langsung saja pergi.


......................


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2