
Setelah kondisi Seina membaik, ia di kelilingi oleh banyak orang, karna Elena terus mengatakan kalau Ana berusaha melenyapkan Seina dengan cara menenggelamkannya di kolam renang sekolah.
"Kalau aku tidak datang, mungkin Seina sudah mati sekarang!" tutur Elena di sertai derai air mata, derai air mata palsu atau asli, itu tak ada yang tau.
"semuanya bubar! kecuali Elena dan Ana!" titah seorang guru cantik tak ingin sekolahnya ada desas desus negatif seperti ini.
Mereka pun meninggalkan ruangan UKS, tinggal mereka ber 4 yang ada di dalam.
"jelaskan, bagaimana kamu bisa bertindak seperti itu?" sorot mata tajam itu mengarah pada Ana.
Bukan hanya guru yang ingin tahu alasannya, tapi Seina juga benar benar ingin mendengar dia berkata jujur.
"karna aku benci Seina" jawabnya, tangan itu gemetar, matanya memerah, aliran darahnya naik.
"kenapa? Kenapa kau membenciku Ana? Aku salah apa?"
"aku benci Seina karna takdirnya yang buruk bu, Dia selalu di rundung, di tindas, dan di renggut kehormatannya, dia gadis yang baik, dia gadis yang pintar, tidak seharusnya dia dapat perlakuan seperti itu bu" Pandangannya terpaku pada mata Guru, dan ia sedikit mendelik tajam pada Elena. Menjelaskan kalau Elena sangat bersalah dalam hal ini.
"apa maksudmu?" tanya bu Guru belum mengerti ke mana arah pembicaraan Ana.
__ADS_1
"orang orang itu sangat kurang ajar, tapi Seina hanya diam, dia begitu bodoh, dia menerima perlakuan buruk mereka dengan lapang dada, Seakan dia manusia paling tabah dan sabar di dunia ini!" Ana sudah menangis, terisak isak, sesak dan nyeri di dadanya tak bisa ia tahan lagi.
"MATI LEBIH BAIK BAGINYA!" Teriaknya tiba tiba menyerang Seina dengan cekikan di lehernya.
"Ana berhenti!, berhenti Ana, ku mohon!" kali ini Elena yang meronta.
Tiga tiganya jadi menangis, tak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka tangisi ini. sang guru yang memperhatikan mereka pun hanya bisa diam dan mencoba menenangkan. Dia pernah remaja, dan faham betul dengan perasaan mereka saat ini.
"demi tuhan, aku tidak ingin kau pergi Seina, tolong maafkan aku, aku terlalu membencimu sampai lupa apa alasanku melakukan semua ini...Bahkan aku baru menyadari kalau kau belum terbukti sudah merendahkan harga diri Lily, tapi aku langsung saja balas menyakitimu...Aku minta maaf" ucapan Elena kali ini terdengar begitu tulus.
"bukan, memang bukan Seina, tapi aku yang melakukan itu"
Tak terduga, sungguh Seina merasa terkejut dan tidak percaya.
Kenapa jadi mereka yang saling serang? Siapa dan siapa yang membalas perbuatan siapa? Dan siapa juga yang seharusnya mendapat kerma buruk? Kalau sudah begitu ,Semua di jawab oleh garis takdir
Mereka saling membuka diri, saling menyadari kesalahan, dan saling meminta maaf.
"semua ini salahku!" ucap Elena menyesal begitu dalam.
__ADS_1
"tidak, tapi salahku!" Ana menolak tegas.
"tidak perlu saling menyalahkan, Ibu mengerti dan ibu tahu apa yang kalian rasakan, percayalah, saat kalian sudah dewasa nanti, mengenang kisah SMA ini akan membuat kalian merasa geli dengan tingkah konyol kalian" bu Guru ikut berkomentar dan jadi penengah.
"itu bukan lelucon bu, tapi harga diri dan nyawa" ralat Seina dengan sorot mata yang tegas dan lugas .
"aku, kau dan Elena, kita semua memang salah, hati kita memang tersakiti, maaf kalau aku terlalu lemah Ana, sampai membuatmu merasa gemas dan ingin melenyapkanku, kalau aku jadi kau, aku juga pasti melakukan hal yang sama kok" jelas Seina.
Memaafkan orang lain memang tidak semudah membalikan telapak tangan, taoi di sisi lain Seina dapat jawaban dari tuhan, ternyata hidupnya tidak berakhir setragis itu, tuhan memberi kesempatan untuk menulis takdirnya.
"maafkan aku Seina, aku hanya ingin mengakhiri rasa sakitmu"
Mereka berpelukan dan kembali menangis.
"untuk menyembuhkan luka di hati, obatnta adalah cinta dan kasih sayang...."
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...