
Matahari tepat berada di atas kepala, Seina menggeliat dan terbangun karna gerah, dia masih duduk melamun menatap cahaya dari balik jendela kamarnya. tiba tiba ia teringat pada Elena, yang pagi tadi ia lempar gelas kaca hingga dahinya berdarah, apa dia baik baik saja sekarang?
Seina pun mengangkat tangannya, ingat juga kalau Elena memberi sayatan pada tangannya yang kini sudah di obati dan di beri plester.
"Pasti Ana!" tebaknya tak di ragukan lagi, dia menyesal telah membentaknya tadi, begitu juga Alzyland, mereka berdua telah menjadi pelampiasan amarahnya .
Ah betapa rumitnya hidup ini!
Sebelum otaknya kembali stress, Seina memutuskan untuk membersihkan diri, membasuh kepalanya agat beban fikiran itu hilang. Baru setelah itu ia mulai tenang. Memejamkan matanya dan menutup telinga sambil terus bergumam.
"tenang...aku tidak akan gila, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan" itulah mantra penguat yang dia miliki saat ini. Terus ia ulangi kalimat itu sampai hati dan fikirannya benar benar tenang.
Bahkan saat Arkhan datang menerobos masuk ke rumahnya saja, ia masih berusaha bersikap tenang, walau amarah dalam hatinya kembali mendidih.
"Kenapa kamu datang kemari?" tanya Seina galak.
"kita harus menikah, aku akan bertanggung jawab" ucapnya benar benar terlihat seperti pria sejati.
"tidak perlu, lagipula ini bukan seluruhnya salahmu, jadi lebih baik, kamu pergi, hilang dan lenyap, ldan jauh ebih baik kalau tuhan mencabut nyawamu detik ini juga, agar aku tidak akan pernah bisa melihatmu untuk selamanya"
Nada bicara itu memang lembut, tapi maknanya sangat dalam, jauh menusuk, menembus relung hari Arkhan yang kini hanya menyeringai menyembunyikan semuanya.
__ADS_1
"kau boleh bicara sesukamu, tapi jangan berfikir kalau kau bisa terlepas dari jerat jaring laba laba, semakin kau berusaha untuk melepaskan diri, maka jaring itu akan semakin melekat kuat dan membungkus tubuhmu"
Arkhan melangkah mundur, menatap Seina dengan tatapan kosong, sedangkan gadis itu memalingkan wajahnya, tak sudi melihat wajah Arkhan.
"aku akan kembali Seina, menjemput pengantin cantikku!"
Hening!
Seina tak ingin melihat ke depan, lama ia berpaling sampai akhirnya memberanikan diri untuk melihat ke depan, namun Arkhan sudah tak ada di sana, dia pergi!
Semoga tidak pernah kembali!
...-------SKIP--------...
Seina sudah memulai sekolahnya seperti biasa, aman dan damai sekali, kabarnya, Lily pindah sekolah sejak pembulian waktu itu. Sementara Elena sudah 3 hari tidak masuk sekolah.
Selalu Ana yang menemaninya selama dua hari ini, tapi Seina berusaha untuk menghindarinya, dia ingin sendiri, tak mau bicara dengan siapapun, tak ingin di temani siapapun, dia ingin seperti hantu yang tidak di lihat siapapun tapi bisa melihat apapun.
Tapi Seina adalah makhluk kasar, keberadaannya kini terlihat oleh Alzyland walau dia sedang berada di tempat sepi, jauh dari lalu lalang siswa lain.
Seina cepat mengambil langkahnya untuk pergi, tapi ia sangat lamban, tangan itu keburu di tarik olehnya.
__ADS_1
"cukup Seina, Jangan kabur lagi!" pria itu membentak, ia lelah terus main kejar kejaran dengan gadis itu.
Seina menunduk, membiarkan rambutnya tergerai menutupi pandangannya.
"sebaiknya kau kembali hilang ingatan saja, kau tidak seharusnya mengingatku!"
"tidak, kenapa kau bicara begitu? berbicaralah yang baik agar tuhan mengabulkannya"
Seina mendongak. "tuhan baik Al, tuhan terlalu baik, kenapa Dia tetap memberikan hatimu padaku walau kau tahu semua keburukan ini?" ia menelan ludahnya terlebih dahulu dan melanjutkan kalimatnya.
"keputusanku untuk menerimamu kemarin itu salah, aku minta maaf, tolong tinggalkan aku, aku tidak bisa menerimanya, aku malu, sangat malu!"
Itulah kenapa Alzyland memberinya nama peri hujan, selalu turun hujan di pelupuk matanya, jatuh lewat hatinya yang selalu mendung.
karna itu Alzyland ingin nenjadi mataharinya, cahaya yang mampu menyingkirkan awan mendung dan membuat hari cerah penuh kehangatan.
Lewat pelukan hangatnya, hujan di pelupuk mata Seina kini berhenti.
"biarkan aku menjadi mataharimu!"
"matahariku?"
__ADS_1
"iya, Seina, apapun yang terjadi tetaplah bersamaku!" bisiknya begitu lembut.