
"Seina!" seru kedua sahabatnya sambil menyambut kedatangan Seina dengan pelukan penuh rasa lega.
"Kamu kemana saja seharian ini?"
"Apa kau baik baik saja?"
"Apa kah ada orang yang melukaimu?"
Rentetan pertanyaan dari mereka membuat Seina diam tak menjawab satu pun.
"Seina katakan sesuatu, apa yang terjadi padamu?" desak Elena.
"Aku tidak apa apa, aku pergi untuk melamar di toko pakaian, dan langdung bekerja di sana"
Fiuh
Terdengar helaan nafas lega dari keduanya.
"Kalian pulanglah, ini sudah malam" titah Seina lembut.
"aku memang harus pulang dan membantu ibuku, duluan yah" Ana memberi pelukan terakhirnya dan pergi setelah dia benar benar merasa tenang sudah melihat kehadiran Seina.
Sementara Elena dan Arkhan masih berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apa aku perlu menemanimu di sini?" Elena menawarkan diri, namun mendapat gelangan halus dari Seina.
"Tidak perlu, terima kasih, kalian pulang saja!"
"Awas, jangan sampai kau tidak menjaga dirimu!" peringat Arkhan.
Seina mengangguk patuh diiringi dengan senyumnya. Lalu mereka pamit pergi. Berjalan beriringan seperti sepasang kekasih yang romantis.
Seina sama sekali tidak cemburu ataupun berfikir buruk, ia sudah seratus persen yakin kalau Elena sudah membuktikan kebaikannya. Itu saja sudah cukup.
__ADS_1
...------SKIP------...
Memang tak terjadi hal buruk, Elena dan Arkhan pulang dengan hati yang sama sama damai.
"Terima kasih!" ucap pria itu untuk sekian kalinya kembali terlihat lembut.
"Untuk apa?"
"telah memberiku seseorang yang berharga!"
Elena terkekeh, pandangannya menatap langit yang indah, menikmati hembusan angin terlebih dahulu, kemudian berkata, "Seina itu, seperti hujan!"
"Maksudmu?"
"Dia datang, memberi kesejukan, kitalah yang buruk, kita adalah orang orang yang membenci hujan, tidak tahu kalau sumber kehidupan itu berasal darinya"
"Kau benar!" Arkhan merangkul pundak Elena dan mengacak pucuk rambutnya gemas.
"Lepaskan, jangan sentuh sentuh!" tolaknya enggan di sentuh, dia menjauhkan tangan Arkhan dari pundaknya.
"kau Tidak tobat tobat juga!
"Apa kau masih mau melakukannya? Masih mau aku paksa? Hm?"
Elena bergidik ngeri. "Tentu tidak!"
Arkhan mempercepat langkahnya mendahului Elena.
"Baguslah! Ayo lompat ke punggungku!"
Senyum indah merekah di bibir Elena, ini bukan yang pertama, sifat inilah yang Elena rindukan tentang Arkhan, inilah dia di masa lalu, di masa kecil, di masa saat mereka bersahabat dekat dulu, Arkhan selalu memanjakannya saat Dia merengek, walau sedikit pemarah dan pemaksa, tapi Arkhan tidak pernah membuat Elena menangis selama ia mengenalnya.
BRUK!
__ADS_1
"Sial, kau semakin berat saja!" keluhnya begitu Elena sudah naik ke punggungnya.
"berat badanku hanya 50 kilo"
"Dasar gendut!"
"Heeeh! Aku tidak gendut!" teriak Elena tak terima.
Wanita mana yang tidak akan kesal jika dikatai gendut, dengan segala usaha yang dilakukan untuk menurunkan berat badan, hasilnya terasa sia sia.
-
-
-
-
Sudah bukan? Seharusnya Seina sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini, tapi begitu pagi menyambut, maka dia kembali merasa bingung.
Badai seakan tak pernah usai di hatinya, selalu diterpa angin dan hujan yang bergemuruh.
"Kenapa hatiku begitu gelisah? Apa sesuatu terjadi pada Alzyland?" gumamnya sambil memegangi dadanya yang berdebar.
"Aku harap dia baik baik saja, lagipula orang tuanya ada di sana, aku harus berfikir baik" ucapnya lagi.
Seina beranjak dari kasurnya, segera membasuh diri, bersiap, dan pergi lebih pagi untuk mengunjungi beberapa tempat.
...-------SKIP------...
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...