Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
69. Pergi dengan tenang.


__ADS_3

Setelah sekian lama, Seina baru bisa berkunjung lagi ke pusara sang kakak yang sempat ia lupakan itu.


Seperti biasa, ia mulai berbicara padanya.


"Kakak, Aku sudah lulus, nilaiku sangat baik, Tapi maaf, aku tidak bisa menjadi yang terbaik seperti yang kakak inginkan, aku memilih jalan takdirku sendiri, aku memutuskan untuk menikah, memiliki suami dan seorang anak, aku ingin mengisi kekosongan hati ini dengan sebuah kebahagiaan, biarpun scandal rumah tangga itu akan rumit nantinya, tapi aku sudah mempersiapkan diriku"


Masih dia peluk nisannya dengan erat. "Apa kakak sudah bertemu dengan kak Ranvir di sana? aku harap tuhan mempertemukan kalian di alam sana" Memejamkan mata damai, Seina tak ingin selalu menangis dan bersedih dihadapannya.


Dia bangkit, memberi senyuman padanya. "Terima kasih kak, aku menyayangimu"


Perlahan Seina melangkah mundur, berlalu meninggalkan makamnya.


Jam masuk kerja masih satu jam lagi, Seina bisa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat keadaan Alzyland.


Tak ada siapapun di kamar rawatnya, mungkin Aletha pulang terlebih dahulu, memberi kesempatan Seina untuk duduk di sampingnya.


Dia menata selimut Alzyland dengan benar, mengusap rambutnya, dan berdo'a.


Tapi, Mengapa pria itu tak juga bangun? Padahal beberapa minggu lalu mereka baru saja mengobrol, Apakah dunia di sana lebih indah dan membuatnya bahagia? apakah dia melupakan Seina yang selalu menunggunya? Apakah Alzyland tak mau bangun karna tahu kalau dirinya akan di kecewakan?


Seina meremas jemari Alzyland yang hangat, menciumnya dengan lembut dan terus berucap maaf.


"Kamu!" Seru Aletha kembali datang.


Seina bangun dari duduknya dan membungkuk. "Maaf saya masuk tanpa izin"

__ADS_1


"Dengar Seina!" sambil berjalan mendekat, Aletha memegang pundak Seina.


"Alzyland sadar dua hari yang lalu, saat ini dia sedang tidur, dan yang paling penting, Alzyland akan segera melakukan transplantasi jantung, saya harap, setelah dia sadar dan sembuh, kamu tidak lagi ada di dalam kehidupanna, jauhi anak saya, pergilah sejauh mungkin sampai bayangmu tidak bisa menyentuhnya" jelasnya.


"Syukurlah, kapan operasinya di laksanakan?"


"Besok!"


Seina tersenyum, walau perih, setidaknya Alzyland akan beranjak sembuh, tak apa jika dia tidak melihatnya lagi, dia bisa memperhatikan kebahagiaannya dari jauh nanti.


"Saya tidak akan mengganggu kehidupan Alzyland lagi, tapi jika suatu hari Kalian membutuhkan bantuanku, biarkan aku berkorban untuknya"


Aletha mengangguk cepat, seperti tak mempedulikan ucapan Seina dan memberinya kode untuk segera pergi.


Sebenarnya Seina penasaran, apa yang akan dokter katakan pada Aletha soal kondisi Alzyland, tapi ia mengurungkan niatnya, seperti yang sudah Aletha tegaskan tadi, dia harus pergi, sejauh mungkin dari hidupnya.


Sementara keadaan di dalam kamar Alzyland, Aletha mendapat kabar yang tak menyenangkan.


"Maaf, tapi Transplantasi itu tidak bisa di lakukan besok bu" ucap Dokter.


"Kenapa dokter? Kenapa jadwalnya di tunda tunda terus? Ada apa?" Tanya Aletha terlihat marah dan kecewa.


Dokter menjelaskan suatu alasan di sana, yang pada intinya, terdapat masalah dari keluarga pendonor, sehingga menyebabkan tranplantasi jantung tidak bisa dilaksanakan.


...-------SKIP-------...

__ADS_1


Saat ini, Seina masih berada di sekitar rumah sakit, ia hendak menyebrang jalanan.


Fikiran Seina kosong, ia menatap jalanan dengan datar. Sampai akhirnya sudut matanya menangkap seekor anak kucung yang akan tertabrak truk.


Sepertinya supir truk itu mengantuk, karna ia tak kunjung menghentikan laju truknya atau sedikit berbelok untuk menghindari kucing kecil tereebut.


Tanpa fikir panjang, Seina berlari secepat yang dia bisa, mengambil anak kucing tersebut dan..


BRAK!


Tak sempat menghindar, sehingga tubuhnya di hantam truk dengan keras, menyebabkan dirinya terlempar dan darah segar mengucur di kepalanya.


Meoong! Meoong!


anak kucing yang di peluknya erat tak terluka sedikitpun, ia mengeong menjilati luka yang membasuh wajah Seina.


"Kamu... Lebih pantas hidup dibanding diriku" ucap Seina lirih, memaksakan senyumnya walau pandangannya sudah mengabur, dan segera hilang kesadaran.


......................


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2