Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
43. Undangan.


__ADS_3

untuk sampai di rumah Elena, Seina harus melewati rumah Arkhan terlebih dahulu, seperti yang di katakannya tadi, rumah Elena hanya terhalang lima rumah lainnya di gang itu.


Pintu rumah Arkhan nampak terbuka, ia tengah menyisir rambut sang ibu sambil berbincang ria.


Ternyata pria itu tidak selalu gila dan buruk, ini sisi lembutnya, sisi terbaiknya, ia mau bertahan dan menjaga baik ibunya walau dia kurang berpendidikan.


Arkhan tersenyum lebar saat melihat Seina yang mematung, sekitar lima meter dari arahnya. Kali ini Seina balas tersenyum, matanya tak menyiratkan kebencian seperti biasanya.


"masuk!" titah Arkhan tanpa basa basi.


Seina berjalan mendekat dan hanya berdiri di ambang pintu. "Elena mengajakku untuk makan malam di rumahnya"


"oh aku juga di undang, tadinya malas, tapi karna ada kau aku ikut"


"kalau begitu aku duluan" pamit Seina namun Arkhan cepat cepat mencegahnya.


"tunggu dulu!" Arkhan memaksanya untuk pergi bersama setelah menyelesaikan menyisir rambut ibunya, dan langsung menuntun ibunya untuk masuk ke kamar, tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa sesuatu di balik kepalan tangannya.


"buka mulutmu!" titahnya.


"kenapa?" tanya Seina was was.


"buka saja mulutmu!" sentaknya mulai kesal, karna gadis itu selalu curiga padanya.


"tidak mau" tolaknya tegas.


Pria itu mendengus kesal, dia tidak bisa berbuat manis pada gadis yang selalu ia jahili ini.

__ADS_1


dia pun menunjukan sesuatu di balik kepalan tangannya, sebuah cokelat berbentuk bola kecil yang masih terbungkus utuh. ia membukanya dan menggigit cokelat itu lalu menyisakannya setengah, membaginya dengan Seina.


Rasa cokelat yang fantastis, manis dan lembut juga wangi, satu satunya cokelat yang paling bisa Seina kenali rasanya.


"ini kan..." Seina menatap Arkhan dengan tatapan yang menebak nebak.


"dari toko Master Choco"


"toko itu..masih buka?"


"setiap hari"


Ah jadi ingat ibu, Dulu Seina selalu membelikan cokelat itu dan membaginya bersama, terutama di hari kasih sayang, tapi terakhir kali, hari kasih sayangnya gagal, karna bocah yang melemparnya dengan batu dan merebut coklatnya. Dia tak berhenti menangis malam itu.


"anggap saja itu ganti rugi cokelat yang sudah ku ambil darimu 10 tahun lalu" Arkhan berucap sambil berlalu.


"bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya sambil berbalik, menatap punggung Arkhan yang perlahan menjauh.


"aku mencium dahimu secara diam diam malam itu, ada bekas luka disana" jawabnya santai.


Seina langsung memeluk dirinya sendiri, takut Arkhan berbuat lebih padanya.


Sedangkan Arkhan yang ada dibalik gadis itu tersungging, senyum licik penuh kemenangan yang dipancarkannya.


...-------SKIP--------...


Rumah Elena saat ini kosong, hanya ada dirinya seorang, makan malam sudah tersaji di meja makan dengan lengkap.

__ADS_1


"Syukurlah kalian datang, silahkan duduk" sapa ramah Elena begitu sopan, ia sangat tahu bagaimana caranya melayani tamu.


Mereka pun segera mengambil kursi dan duduk. Sedikit berbincang sebelum makan.


"orang tuaku baru saja berangkat ke luar kota karna pekerjaan, aku sendirian di rumah, apa kalian mau menemaniku lebih lama setelah makan malam?" tanya Elena dengan wajah memelas, yang tentu saja keduanya tak bisa menolak.


Terlebih Arkhan, pria itu tidak perlu izin untuk keluar masuk rumahnya karna mereka berteman sejak lama.


"aku tidak keberatan" ucap Seina tulus.


"terima kasih, kalau begitu selamat makan, maaf kalau masakannya kurang enak, aku tidak begitu pandai memasak"


Seina langsung mengambil sendok dan mencoba sesendok suapan pertamanya, lidahnya bergoyang, menyecap rasa masakan yang cukup enak di lidahnya.


"enak kok, untuk pertama kalinya aku makan di rumah orang seperti ini, terima kasih Elena" ucapnya kembali menyuapkan sesendok demi sesendok makanannya.


Mereka tak lagi bicara , fokus pada makanan masing masing, sampai akhirnya Seina tersedak.


"uhuk..uhuk..."


"gak bisa, makannya pelan pelan?" tanya Arkhan langsung menepuk nepuk punggung Seina.


Sementara Elena yang lupa menyiapkan air segera beranjak ke dapur, dan menuangkan segelas air dari dalam teko, namun sebelum gelas itu dibawa, ia memasukan sesuatu ke dalam gelasnya.


"mungkin kau temanku yang paling baik, tapi tidak ada yang lebih baik dari Lily, maafkan aku Seina" gumamnya langsung saja membawa segelas air itu beserta teko nya agar Seina tidak curiga.


Jangankan untuk curiga, Seina tidak begitu meneliti warna air di gelasnya, ia langsung meneguk segelas air itu hingga tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2