Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
52. Garis dua


__ADS_3

Sepertinya mengharap suatu kebaikan itu hanya sia sia bagi Seina, dia langsung saja jatuh dan merosot ke lantai setelah mengetahui jika dirinya benar benar hamil. Entah sudah berapa lama ia mengunci diri di kamar mandi.


Alat itu masih ia pegang di tangannya, di tatapnya dengan berlinang air mata.


"aku benci alat ini" ucapnya saat melihat dua garis merah di alat itu. Namun dia tetap menyimpan test pack itu di sakunya.


Seina beranjak, keluar dari kamar mandi, ia berlari menuju kelasnya, tampaknya pelajaran sudah usai dari tadi, karna sekolahan mulai sepi dan hanya ada beberapa anggota OSIS.


Setelah mengambil tasnya, Seina berniat untuk pulang. Tapi di tengah jalan, seseorang memanggilnya tepat saat ia melewati sebuah pembangunan rumah.


"Heh kau Seina!"


Seina menghentikan laju sepedanya dan menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Menyesal dia berhenti, kalau ternyata orang itu adalah Arkhan. Dia datang menghampiri dengan pakaian kotor dan memakai topi proyek. Menjelaskan kalau dirinya sekarang menjadi seorang tukang bangunan.


"kau menangis?" tanyanya saat menyadari mata Seina yang sembab.


"apa pedulimu?"


"aku calon suamimu, tentu aku peduli"


Seina berdecih jijik, tak sudi.


"setelah di pukul termos besar itu dan membuatku pingsan, kau jadi membuatku sadar, kalau mau jadi seorang suami harus punya pekerjaan" ucapnya lagi, terdengar so jantan.

__ADS_1


"biar aku tegaskan, aku tidak mau menikah dengan seorang pem b unuh sepertimu"


Arkhan terkekeh. "oh, apa pria pikun itu sudah mati? Baguslah, setidaknya kematiannya itu meringankan bebanku"


PLAK!


Refleks, Seina menaparnya dengan keras. Tapi tak membuat pria itu menghentikan senyumnya.


"tampar aku, tampar lagi, tampar terus"


Seina tak mempedulikan dia lagi, memaki dan menghajarnya itu percuma, dia sudah seperti batu, karna itu ia memilih pergi, sangat baik kalau pria itu tidak pernah tahu kalau dirinya sekarang tengah mengandung anaknya.


"Seina!" Arkhan kembali memanggilnya saat ia hendak mengayuh sepedanya lagi.


"aku sedang bekerja keras, untuk kita menikah nanti, dan untuk anak anak kita nanti"


...--------SKIP-------...


Sedari pulang sekolah, Tak ada yang Seina lakukan, ia berbaring di sofa sambil melamun, tatapannya kosong, tak ada lagi air mata, hanya alat itu yang terus ia pegang dan di tatapnya, sampai akhirnya dia tertidur.


Senyap!


Hanya terdengar dentingan jam yang terus berputar, hingga masuklah Arkhan yang langsung datang menghampirinya, ia menatap wajah lelah Seina dengan iba.

__ADS_1


"aku tidak jahat Seina, apa salahnya jika aku menginginkan dirimu" ucapnya membelai rambut Seina penuh cinta.


Tiba tiba sudut matanya menangkap sesuatu yang ada di tangan Seina, lalu mengambil alat itu dan melihatnya.


Ia tersenyum senang, saat melihatnya, kembali di tatap wajah damai Seina dan berbisik pelan di telinganya.


"aku mencintaimu..."


Kelopak mata Seina mengerjap, perlahan lahan ia membuka matanya dan langsung mendapati wajah manis Arkhan, dalam ketidak sadarannya Seina tersenyum, belaian tangan Arkhan di pipinya membuat dia nyaman.


"aku akan jadi ayah!" senyumnya.


raut wajah Seina berubah dalam sekejap, dia mendorong Arkhan agar menjauhkan diri darinya. Tak mengatakan apapun karna untuk bicara saja rasanya lemas sekali.


"terima kasih!" tak tahu malunya Arkhan langsung jatuh ke pangkuannya, tangannya melingkar di pinggang Seina, wajahnya tenggelam di balik perutnya.


"aku akan berusaha lebih keras lagi, aku janji"


...-------SKIP------...


......................


...****************...

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2