Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
56 . Semua pengorbanan akan terbalas


__ADS_3

Setelah perbuatan Ana yang tidak terpuji itu, ia mendapat surat peringatan dari sekolah dan tidak bisa mengikuti ujian, sehingga dia harus mengulang kelas di tahun ketiganya.


Hukuman ini di terima Ana dengan lapang dada, bahkan itu tidak setimpal, terlalu ringan, seharusnya ia mendekam di lapas remaj2a, tapi Seina tak menginginkan itu.


Orang tua Ana yang di panggil ke sekolah memarahi Ana habis habisan di depan para guru, bahkan Bi Santi juga memohon mohon dan sujud di kaki Seina meminta maaf atas perlakuan Ana padanya.


"bibi jangan berlebihan..." ucap Seina menariknya agar ia berdiri.


"bibi tidak menyangka Anak bibi sendiri bisa sangat jahat pada yatim piatu sepertimu"


Seina mengulum senyumnya. "aku tidak yatim piatu bi, bukan kah bibi yang selalu datang ke rumah dan menyimpan makanan di atas meja? Bibi selalu memberiku kejutan di pagi hari, membuat rumahku selalu bersih, bibi sudah seperti ibuku sendiri, maaf aku jarang sekali datang walau sekedar untuk berterima kasih"


Mendengar itu Bi Santi malah mengerutkan alisnya, tangisnya berhenti mendadak. "tapi bibi tidak pernah melakukan itu!"


Apa?


Lalu? Siapa orang yang suka membawakan makanan tanpa sepengetahuannya di malam hari? Dan siapa yang membereskan rumah serta memperbaiki genting yang bocor itu?


Tak ada tuduhan lain selain Ana.


"maaf aku sudah tidak sopan keluar masuk rumahmu tanpa izin" ucapnya sambil mendudukan kepala.


BRUK!


"ah sudah tidak di ragukan lagi, terima kasih Ana"


Semua pun berubah jadi haru...


...-------SKIP------...

__ADS_1


hari ini terasa begitu panjang, akhirnya Seina bisa pulang setelah menghabiskan waktunya dengan menangis bersama tadi.


mereka sudah akur sekarang, yah, setidaknya Seina memadamkan api yang sudah tersulut, dia tetap membatasi dirinya untuk tidak menaruh kepercayaan lebih pada mereka.


Waktunya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Alzyland, Ana sempat memaksanya untuk di temani, tapi Seina menolak keras, ia ingin menghabiskan waktunya berdua saja kalau bisa.


Bukan hanya hari ini Seina datang, dia kerap kali datang hanya untuk berdiri di balik pintu dan memantau keadaannya, tak pernah berani masuk karna Aletha tak menginginkan kehadirannya.


Dia hanya beruntung saja hari ini, karna Aletha sedang tak ada di sampingnya.


Di lihatnya keadaan Alzyland mulai membaik, Seina merasa lega melihatnya, setelah beberapa waktu dirinya syok karna detak jantungnya yang melemah dan hampir tidak terdeteksi.


"Kamu kebiasaan, kalau sudah masuk ke kamar rawatku pasti berdiri di situ lama dan terus saja memandangiku"


Seina terkekeh, lalu berjalan menghampirinya dan duduk di bibir ranjang.


"sebenarnya, aku sudah sadar dari dua hari yang lalu, aku hanya ingin tahu seberapa besar kau mengkhawatirkan diriku" cengirnya.


Seina mendelik tajam. "dasar!"


kali ini Alzyland yang terkekeh, "terima kasih, karna diriku kau rela mengorbankan apapun, hanya saja, bagaimana jika pengorbananmu tidak berbalas apapun?"


Seina menggelang pelan, tidak tahu kenapa Alxyland berterima kasih padanya ia mengelus rambut kasar Alzyland.


"tidak ada pengorbanan yang tak terbalas, Dunia itu tempatnya berkorban, dan semua pasti akan terbalas, jika bukan di dunia, jangan lupa untuk kehidupan abadi setelah ini"


"kehidupan Abadi?"


"yah, kehidupan Abadi, Semua orang akan hidup sesuai pengorbanan mereka selama di dunia, jika kita banyak berkorban, maka balasannya adalah kebahagiaan yang tak terbatas"

__ADS_1


Alzyland mengangguk tanda mengerti, lalu pandangannya beralih menatap langit dibalik jendela kamar rawatnya.


"tapi aku belum banyak berkorban, karna itu aku tidak ingin segera pergi ke kehidupan Abadi, Jika bisa memilih, untuk kehidupan selanjutnya aku ingin menjadi langit"


"kenapa?"


"Supaya aku bisa terus melihatmu, dan mengintipmu di celah celah kecil"


"menjadi penguntit begitu?" tanya Seina diiringi dengan kekehannya.


"yah"


"emm...berarti kalau langit cerah, artinya kau sedang bahagia, kalau langit senja artinya kau sedang malu, kalau langit Mendung artinya kau sedang sedih, dan kalau langit malam, artinya kau sedang memelukku, kau adalah selimut awanku dan selalu memelukku dalam kehangatanmu, iya kan?"


Mereka tertawa miris, tawa yang akhirnya berujung tangis. Tak sanggup membayangkan jika dirinya akan tiada meninggalkan orang yang paling dia sayangi.


"hey, kenapa kau menangis?" Tanya Seina sembari menghapus air matanya.


"Terima kasih banyak Seina, apa kau bisa memelukku?" pintanya sambil merentangkan kedua tangan.


Detik itu juga Seina langsung ambruk ke pelukannya, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak keluar, dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh putus asa, Dia harus berkeyakinan besar jika Alzyland akan baik baik saja.


......................


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2