
*3 hari kemudian
tidak ada cinta yang dapat menandingi cinta ibu kepada anaknya, malaikat tak bersayap yang diberikan tuhan untuk menjaga sang anak, tentu akan membuat anak menangis dan terharu saat mengingat perjuangan seorang ibu.
Di atas panggung yang di dirikan di lapangan sekolah saat ini, hampir semua siswa menangis menyaksikan drama teater bertemakan ibu di atas panggung.
Para orang tua juga bangga dan terharu melihat penampilan anak anaknya.
Seina yang akan tampil di acara penutup sedari tadi tak menemukan keberadaan ibunya, padahal dia berharap besar kalau sang ibu akan datang, tapi meskipun Seina sudah berdiri di atas panggung dengan selembar kertas yang di siapkan, ibunya masih belum terlihat.
Bola Mata Seina kembali bergerak ke sana kemari, meneliti setiap wajah para ibu di sana, tapi tak kunjung melihatnya juga. Yah, mungkin saja ibu lupa.
"SEMANGAT!" teriak seseorang dengan suara lantang di jajaran pojok kiri. Sudah ada Alzyland dan ibunya di sana.
Seina tersenyum, dan tanpa berlama lama ia segera memulai puisinya.
..."Dunia dan kehidupan...
...Berubah dari hari ke hari...
...Dari tahun ke tahun...
...Tetapi cinta dan kehangatannya...
...Tidak akan pernah berlalu...
Seina menjeda cukup lama, matanya terpejam, tangannya mengepal, terlihat begitu mendalami puisi yang di bawakannya
...Susah di ucapkan...
...Sesak tak di ucapkan...
...Menjadi pilu jika aku tak mengatakannya...
__ADS_1
...Ibu...aku rindu...
Baru saja Seina akan melanjutkan bait puisi berikutnya, tiba tiba saja saat dia membuka matanya, sang ibu sudah tersenyum dan berdiri jauh dari arahnya, dia seperti turun dari langit, datang begitu saja.
Seina mematung cukup lama, memastikan kalau itu benar benar ibunya, perlahan ia pun turun dari panggung bermaksud menghampiri sang ibu.
Tapi tiba tiba saja hal yang tak diinginkan pun terjadi, bagaimana Arkhan datang membuat kerusuhan dengan mence kik ibunya Seina. Dan memaki.
"dasar brengsek, kau yang membuat ibuku gila, aku tidak akan mengampunimu" Ucap Arkhan dipenuhi amarah, tangannya semakin kuat mencengkran leher mulussang ibu.
Keadaan pun berubah menjadi riuh, ada yang berlari menjauh karna takut, ada pula yang berusaha menghentikan tindakan buruk Arkhan, termasuk beberapa penjaga keamanan begitu juga dengan Seina, ia langsung berlari dan menghampiri ibunya yang sudah tergeletak itu.
"ibu bangun bu, kau harus bangun!" Seina mengguncang tubuh ibunya pelan.
Mendengar Seina memanggil wanita itu ibu, membuat Arkhan yang di pegangi 2 orang penjaga keamanan berhenti memberontak. Tubuhnya menjadi kaku, hampir tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
"dia...ibumu?" tanya Arkhan lemas.
Seina yang sudah banjir air mata itu langsung saja berdiri, menampar Arkhan berkali kali dengan sekuat tenaganya.
"Jangan salahkan aku, ibumu yang jahat!" Ucap Arkhan dengan wajah yang datar. Seperti tidak ada emosi apapun dalam dirinya, ia membeku.
...-------SKIP--------...
Pihak sekolah langsung saja memanggil ambulance dan membawa Ibunya ke rumah sakit yang langsung saja di tangani dokter.
Sedangkan Seina menunggu dengan cemas di depan pintu UGD, di temani oleh Ana dan ibunya yang berusaha menenangkan Seina.
"Kapan ibumu kembali?" tanya Ana membuat isak tangis Seina semakin menjadi jadi.
"dia baru saja kembali, aku baru saja memeluknya, aku baru saja mendapatkan malaikatku, tapi semuanya..."
Ana langsung memeluk Seina sebelum dia melanjutkan kalimatnya. Ia mengelus punggung Seina untuk menguatkan.
__ADS_1
"ibumu akan baik baik saja"
Bertepatan dengan itu, dokter keluar dari ruangan dan langsung menghampiri wali pasien.
"bagaimana keadaan Ibu saya dokter?" tanya Seina harap harap cemas.
Dokter muda itu tak segera menjawab.
"bagaimana dok?" desak Seina bahkan tak membiarkan dokter itu menelan ludah terlebih dahulu.
"kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sepertinya takdir berkata lain, Ibu anda sudah meninggal"
Seina memejamkan matanya seraya menghembuskan nafas kasar, air matanya habis, tak bisa menangis lagi.
Tanpa mengatakan apapun, Seina berlari, masuk ke ruang UGD dan mendapati sang ibu yang sudah tertutup kain.
"Ibu...jangan tinggalkan aku" Dipeluknya tubuh ibu yang sudah kaku itu. "ibu bilang kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak setelah ibu membereskan semuanya"
Kenapa tuhan mempertemukan mereka begitu singkat? Seolah semua terjadi hanya dengan sekedip mata, tapi menorehkan luka yang cukup dalam. Dunia memang di penuhi ketidak adilan.
"Rima!" seru seorang pria tiba tiba saja datang dan menghampiri jasad tak bernyawa beberapa menit yang lalu itu, dia turut memeluknya dengan erat.
"Bapak siapa?" tanya Seina bingung.
Pria itu langsung menatap tajam Seina, ia mengertakan giginya memahan amarah, matanya memerah, tampak sangat murka.
"kamu yang telah menyebabkan semua ini dan membuat istri saya meninggal"
Seina cukup terkejut, ternyata dia ayah tirinya, ayah kandung Arkhan, pantas saja watak dan sifatnya tak jauh berbeda.
"bukan saya, tapi anak kandung Bapak yang Bapak tinggalkan bersama ibunya"
Pria itu menautkan alisnya tajam. "apa maksudmu?"
__ADS_1
"cari tahu saja sendiri" ucap Seina lugas, untuk saat ini dia tidak ingin peduli apapun selain ibunya.