Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
26. wanita gila


__ADS_3

...Catatan Author: hari ibu itu setiap tgl 22 desember ya, tapi ini kalendernya author, jadi terserah aja hehe...


...♡♡♡♡♡♡...


Tidak setiap hari adalah hal buruk bagi Seina, Mendadak hari ini Elena datang dan akhirnya mereka berbincang bersama di ruang tengah rumah Ana, membahas soal hari ibu yang akan diadakan minggu depan.


"Kenapa kau repot repot datang di saat hujan begini?" tanya Seina sedikit berbisik agar Ana tak mendengarnya.


"sebenarnya aku ingin mengambil seragam Arkhan yang dia pijamkan waktu itu" balas Elena berbisik juga.


Blush!


Wajah Seina memerah seketika, tak percaya jika Elena juga tahu hal ini.


"kenapa kalian berbisik bisik seperti itu?" tanya Ana merasa tersinggung. Dia jadi curiga kalau mereka tengah membicarakannya.


"b bukan apa apa kok, aku pulang dulu ya, puisiku sudah selesai" gugupnya sambil memperlihatkan untaian puisi yang baru saja selesai dibuatnya.


"iya, aku juga harus pulang"


Mereka pun pamit, meninggalkan Ana yang dipenuhi rasa curiga.


Ternyata kedatangan Elena memiliki maksud lain, mustahil kalau dia datang hanya untuk belajar bersama, lagipula ini baru pertama kalinya dia datang, pasti sepanjang perjalanan ia menanyakan rumahnya pada setiap orang yang dia jumpai.


"Aku tidak mau!" tolak Seina tegas saat Elena memaksanya untuk ikut ke rumah Arkhan.


Elena memasang wajah memelas "tolonglah Seina!"

__ADS_1


"kenapa aku harus ke rumahnya? Dan kenapa juga kau repot repot datang kesini dengan alasan akan mengambil seragamnya? Ini! Ambilah dan pulang!"


Seina memberikan seragam yang baru saja diambilnya di lemari.


"cobalah untuk mengerti, aku melakukan semua ini demi dirimu"


Seina mulai curiga, ia takut dijebak, dan hal buruk akan terjadi lagi padanya, bodoh jika dia mau mengulangi hal yang sama.


Lain hal dengan Elena yang kali ini bersungguh sungguh, kalau Seina tidak ikut sekarang maka kejadiannya bisa lebih buruk dari yang dia fikirkan.


Grep!


terpaksa Elena mencengkram tangan Seina dan menyeretnya pergi.


Seina langsung saja memberontak "Elena sudah kubilang aku tidak mau, lepaskan tanganku"


...--------SKIP--------...


Tiba di depan rumah Arkhan yang bercat abu abu, dua gadis itu malah asyik berdebat terlebih dahulu.


"Elena kau tidak bisa mengirimku ke kandang Buaya" elak Seina masih bersikeras.


"kandang buaya lebih baik daripada lubang kematian"


"sama saja!" Ketus Seina kesal


Elena tersenyum kikuk "aku kan bersamamu, jadi kau tenang saja"

__ADS_1


Lama mereka berdebat, akhirnya Seina memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Berkali kali, hingga pintu terbuka lebar dan langsung membuat kedua gadis itu kaget setengah mati.


Sesuatu yang tak diharapkan pun terjadi, dimana tepat dihadapannya saat ini, Seorang wanita dengan rambut gimbal dan kucal tak terurus berdiri memelototi Seina.


Wanita itu menunjuk wajah Seina penuh kebencian.


"Kamu!, kamu yang sudah merebut suami saya, dasar kamu wanita murahan, perebut suami orang" amuknya mulai menyerang Seina, mendorongnya, menjambak rambutnya sambil terus memaki.


"Bu jangan bu!" Elena mencoba memisahkan dan menenangkan amukan wanita itu Namun ia sulit dikendalikan.


"Saya tidak tahu apa apa, tolong lepaskan saya" pekik Seina berusaha melepas cengkraman tangan Wanita gila itu dirambut halusnya.


"saya tidak akan mengampuni kamu! sampai kamu mengembalikan suami saya" teriaknya semakin diluar kendali. "Kembalikan Suami saya! Kembalikan Suami saya"


Saat dalam keadaan kacau begitu, Arkhan datang sebagai penyelamat dan langsung menenangkan wanita gila itu dalam pelukannya.


"Ibu tenang bu, dia temanku!" lerai Arkhan berusaha menenangkan.


"dia wanita yang merebut ayahmu nak, wanita itu jahat" tangisnya brutal.


Arkhan langsung saja membawa wanita gila itu masuk, tapi sebelumnya ia memberi Isyarat pada Elena untuk membawa Seina masuk juga dan menenangkannya.


...------------...


...☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆...


...♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧...

__ADS_1


__ADS_2