
Segelas air putih sudah Seina teguk habis, tapi tetap tak menghilangkan rasa takutnya. Memikirkan bagaimana garangnya wajah wanita gila itu, tak mau hilang dari benaknya.
"Tenang Seina, beliau memang kurang waras" ujar Elena masih berusaha menenangkan.
Sampai akhirnya Arkhan kembali datang dan menyuruh Elena pergi dengan lirikan matanya. Perlahan gadis itu pun beranjak, tak di sadari Seina karna ia masih ketakutan.
Sekarang Pria mesum itu duduk disampingnya, mulai mengelus ngelus kurang ajar bagian tubuh Seina.
"jangan takut, dia ibuku!" bisiknya malah terdengar menggoda. Membuat rasa takut Seina mendadak hilang dan berubah jadi geram.
Plak!
Refleks, Seina melayangkan sebuah tamparan tepat di wajahnya dan sukses membuat Arkhan meringis kesakitan.
Menyadari keberadaan Elena sudah tak ada disini, Seina buru buru melarikan diri, Namun ia kalah cepat dari Arkhan yang langsung menarik tangannya dan membanting tubuh Seina ke atas sofa. Lalu menindihnya.
"kenapa kau selalu ingin melarikan diri dariku?" tanyanya penuh penekanan. tangannya sudah mencengkram
"kalian menjebakku!" Ucap Seina dengan emosi tertahan.
"aku, aku yang memaksanya untuk membawamu padaku"
"kenapa?"
Arkhan melepas cengkraman tangannya dan mengubah kembali posisinya.
"karna aku membutuhkanmu malam ini"
__ADS_1
"untuk?"
"jadi teman bicara"
Mustahil, bodoh kalau Seina mempercayainya begitu saja.
"bukankah ada Elena?" tanya Seina mengingatkan.
"aku ingin dirimu, Elena sudah aku bebaskan dan dia sudah memberikanmu padaku sebagai penggantinya"
"Pengganti?" tanya Seina dalam hati. Dia berusaha mencerna ucapannya barusan.
Apakah Elena setega ini? Dia bilang dia suka padanya tapi kenapa malah berbuat seperti ini? Jadi, ini alasan di balik pertemanannya beberapa pekan ini.
...-------SKIP-------...
Hanya untuk satu malam saja, mungkin tidak buruk.
Tapi sedari tadi ia tak melihat keberadaan pria itu, Seina pun melihat lihat rumah sederhananya yang tak terurus. Debu debu sudah menumpuk di lantai, barang barang tak tersusun rapi, dan banyak pakaian menggantung di kastop kayu, seperti berbulan bulan tidak dicuci. Ya, seburuk ini rumah Seorang pria.
tiba tiba terdengar suara wanita menangis dibagian kamar yang merangkap dengan dapur, hanya terhalang kamar mandi sempit di sana.
perlahan Seina melangkah untuk mendekat, mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka.
Tampak Arkhan yang sedang menyuapi ibunya itu sambil berbincang hangat.
"apa dia juga menggauli ibunya sendiri?" batin Seina mulai berfikiran buruk.
__ADS_1
"Bu, yang tadi itu temanku, jangan kasar padanya, dia jadi takut kalau bertemu ibu nanti" nasihat Arkhan begitu lembut, suara terendah yang baru Seina dengar selama ia mengenalnya.
"maafkan ibu" ucap wanita itu kembali menangis.
Tanpa permisi, Seina langsung saja masuk, memperlihatkan senyum hangatnya.
Wanita itu balas tersenyum dan melambaikan tangannya agar Seina mendekat.
"kemari anakku!" Dirangkulnya tubuh Seina begitu ia tiba disampingnya. Pelukan hangat seorang ibu yang tulus, merambat ke seluruh tubuh Seina.
"maafkan ibu, ibu jahat ya sama kamu?" Tanyanya kemudian mengelus rambut Seina.
Rasanya Seina ingin menangis, di genggamnya tangan kasar wanita itu, Seina menatap lekat matanya, ada kesedihan mendalam dimatanya, lalu dia melirik pada Arkhan yang benar benar berbeda saat dihadapan ibunya ini.
"Ibuku mengalami depresi sejak ayah pergi meninggalkannya bersama wanita lain" jelas Arkhan, ia mengepal kuat tangannya. "kalau aku menemukan wanita itu, aku pasti akan menghabisinya detik itu juga"
Tentu saja, Seina setuju, ia yang baru saja melihat kondisi ibunya seperti ini sudah merasa ikut tersayat.
"jangan anakku, Ibu tidak ingin kamu dipenjara, nanti ibu sama siapa?"
Ah benar juga. Tak bisa dipungkiri, kehadiran ibu menyajikan pelita jalan kesuksesan bagi anaknya. Di setiap tetes keringat dan air matanya, ibu akan terus mencintai anak-anaknya. Seberapa besar pun rasa sayang terhadap ibu, maka ketahui lah bahwa rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya melebihi rasa sayang Anak terhadap ibu, maka jagalah perasaannya walaupun ibu selalu membukakan pintu maaf untuk anaknya.
Seina juga berharap kalau ibunya akan kembali, dan mencintainya.
...♢♢♢♢♢♢♢...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
__ADS_1
...□□□□□□□□...