Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
29. Semuanya Kembali


__ADS_3

Kini Saatnya berpamitan, Namun Alzyland terus saja mengulur waktunya.


"Seina, ayo pulang ke rumahku!" ajaknya.


Tentu saja Seina menggelang, dia masih canggung untuk bertemu ibunya.


"kalau begitu, aku saja yang ke rumahmu, kenalkan orang tuamu padaku"


Seina menggelang lagi dengan wajah yang titekuk sedih. "aku tidak punya siapapun"


"kau tinggal sendiri?"


Seina mengangguk pelan, ia semakin menundukan wajahnya.


Grep!


Seina amat sangat terkejut saat pandangannya menjadi gelap karna dada bidang Alzyland kini sudah menempel diwajahnya.


Seina bisa merasakan rangkulan tangan Alzyland dipunggungnya yang begitu erat, dan tangan satunya lagi mengelus kepalanya dengan lembut.


"sekarang kamu tidak sendirian lagi" ucapnya lirih.


Seina tersenyum penuh rasa haru, dia senang kalau ada yang peduli padanya, tapi kalau memang yang namanya biasa, ia sudah terbiasa sendirian. Bukan masalah besar lagi baginya.


"terimakasih Al, tapi aku harus pulang, sampai jumpa besok di sekolah" Terpaksa Seina harus melepas pelukannya dan pergi begitu saja, karna kalau tidak, Alzyland pasti terus mencari cari cara untuk mengulur waktu agar tetap bisa bersamanya.


...-------şĶÎP--------...


Jalanan mulai gelap, langit mulai malam, tapi tak satu pun bintang yang terlihat, bulan sabit yang baru muncul pun kini sudah tertutup awan hitam.


Sepertinya malam ini akan hujan , Seina harus pulang cepat. Tapi kini, jauh dari arahnya, Seorang wanita muda berjalan ke arahnya dengan langkah lunglai, seperti sedang putus asa karna yang dicarinya tidak ia temukan.


Seina berhenti sejenak, membiarkan wanita itu lewat, Butuh waktu lama untuk bisa berpapasan, wanita itu juga berhenti tepat dihadapan Seina.


Dia menatap Seina dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan tatapan itu semakin tajam saat pandangan mereka bertemu.


Seina jadi was was, dia mulai berfikir buruk tentang wanita itu, apalagi saat tangannya hendak menyentuh rambutnya, Seina langsung melangkah mundur dan menepis tangannya.

__ADS_1


"jangan sentuh saya! " tegasnya.


"Seina..."panggil wanita itu dengan suara bergetar, ia kembali mendekat untuk membelai rambutnya.


Seina masih berusaha menghindaf. "Anda Siapa? Saya tidak kenal anda!"


Wanita itu hanya tersenyum. "tapi seorang ibu, tidak akan lupa pada anaknya"


Bagai mendengar petir di siang bolong, Seina sangat terkejut dan hanya bisa menganga, lututnya lemas, dan hampir saja jatuh jika dia tidak menguatkan dirinya.


Yah, bagaimana ia bisa mengenali sang ibu kalau dulu dia adalah wanita yang miskin, selalu memakai baju yang sama 3 hari berturut turut, dan hanya punya sepasang sandal dengan warna berbeda. Penampilan yang begitu kumal dan tak terurus.


Tapi sekarang, wanita dihadapannya ini, adalah wanita paling cantik yang pernah Seina temui, Semua yang menempel padanya adalah barang yang sangat mahal, menempel sempurna pada kulitnya yang putih bersih, tubuh ideal dan rambut yang anggun terikat.


Jika saja tak ada tanda lahir di lehernya, Seina tidak akan percaya kalau itu ibunya, orang yang pernah meninggalkannya 12 tahun lalu.


"Seina, aku ibumu, ibu sudah kembali sayang" tanpa ragu, Wanita itu memeluknya penuh kerinduan, air mata mengalir deras di pipinya.


Seina yang masih di ambang keraguan itu tak menolak ataupun membalas pelukan sang ibu, hatinya mendadak membeku.


"kakak?" tanyanya dengan nada tak enak didengar, Seina langsung melepas pelukannya dan tersenyum hambar.


"Ibu memang harus bertemu dengannya"


*


*


Seina membawa Ibunya ke makam Vero. tanpa di jelaskan pun ibunya sudah mengerti, dia langsung menutup mulutnya tak percaya, bulir air mata kembali menghujani pipinya.


"Ibu Tahu?,selama ini, kakak membesarkanku sendirian, dia adalah ayah sekaligus ibuku, dia memberikan semua kebahagiaannya untuku, saat aku menangis karna ingin bertemu dengan ibu, kakak yang menghapus air mataku, tapi..." Tenggorokannya tercekat, Tapi Seina tetap memberi penjelasan karna dia rasa ibu perlu tahu hal ini.


"Tapi tidak ada yang menghapus air matanya, Saat aku sakit, kakak adalah obat terbaik bagiku, Saat aku jatuh, kakak yang membantuku bangkit, kakak selalu menopang diriku, tapi tak ada yang menopang dirinya, Kakak lelah bu, Kakak lelah menunggu ibu yang tidak pernah kembali" tangisnya pecah.


Lagi lagi bayangan masa lalu berputar dalam benaknya.


...~Flashback...

__ADS_1


panti asuhan yang selalu ricuh suara anak anak itu kini terasa senyap, karna mereka sudah masuk ke dalam mimpi indah mereka masing masing.


Seina yang tak bisa tidur saat itu melihat Vero termenung di balik jendela, pandangannya fokus pada gemerlap bintang di langit, raut wajahnya terlihat kusut.


"kakak!" panggil Seina berjalan mendekat, dan langsung saja duduk dipangkuan sang kakak.


"kenapa Kamu belum tidur Lia?" tanyanya.


"aku terbangun karna kakak tidak ada di sampingku, kenapa kakak duduk di sini?"


Vero tersenyum simpul dan menjawab "kakak fikir ibu kita akan kembali, tapi sepertinya kita benar benar di buang"


"di buang?" Tanya Seina polos, dia belum mengerti apapun saat itu.


"Tapi mungkin saja ibu tidak akan sejahat itu"


"apa ibu sudah tidak sayang kita lagi?"


Vero menggelang cepat, lalu menangkup pipi Seina dan menatapnya lekat.


"tidak Lia, dengarkan kakak, kalau kamu bertemu ibu, jangan benci padanya ya, terkadang ibu suka menyembunyikan kebenaran dibalik kebencian anak terhadapnya"


Seina mengangguk walau tidak mengerti seluruhnya.


"baiklah, sekarang saatnya mengisi daya!" Vero langsung menggendong Seina dan kembali menidurkannya, memeluk sang adik dalam kehangatannya.


...~Flashback end...


"maafkan Ibu nak, ibu orang tua yang buruk" tangisnya terdengar menyesal. Bahkan dia berlutut dihadapan Seina.


Cepat cepat Seina membantunya berdiri, lalu menghapus air matanya "tidak bu, tidak ada ibu yang buruk di dunia ini, berhenti menangis! Seorang ibu tidak pantas belutut pada anaknya"


...---------...


...--------------...


...---------...

__ADS_1


__ADS_2